Showing posts with label Sugesti. Show all posts

Ia bilang: Saya tidak bisa dihipnotis

| 3 April 2018 | KAMI bertemu dan ia mengatakan: Saya tidak bisa dihipnotis. Umurnya mungkin lima tahun di bawah saya. Ia mengen...

| 3 April 2018 |



KAMI bertemu dan ia mengatakan: Saya tidak bisa dihipnotis.

Umurnya mungkin lima tahun di bawah saya. Ia mengenakan baju putih dan celana jins biru. Beberapa hari sebelumnya kami berkontak lewat pesan singkat dan ia menceritakan sudah menemui beberapa praktisi hipnosis, tetapi tidak satu kali pun ia bisa dibuat trance dalam sesi-sesi hipnosis.

“Tidak apa-apa,” kata saya. “Tidak setiap orang bisa dihipnotis. Dan itu bukan berarti kau lebih hebat dari orang-orang lain yang bisa dihipnotis.

“Tidak bisa dihipnotis hanya membuktikan bahwa kau tidak bisa diberi sugesti. Sugesti artinya saran. Tidak bisa diberi sugesti artinya tidak bisa diberi saran atau tidak bisa mengerjakan saran dari orang lain.

“Dan itu bagus-bagus saja selama kau bisa memberi saran kepada dirimu sendiri.

“Baru akan menjadi masalah besar jika kau tidak bisa memberi saran kepada dirimu sendiri dan sekaligus tidak bisa menerima saran dari orang lain.”

Saya menanyakan kenapa ia meluangkan waktu datang ke rumah saya. Ia terdiam beberapa saat dan kemudian menjawab ingin tahu dari saya tentang hipnosis. “Untuk apa mengetahui tentang hipnosis dari saya?” tanya saya.

Ia terhenti lagi, kelihatan berpikir, mungkin mencari jawaban yang ia pikir tepat tentang kenapa ia ingin tahu hipnosis dari saya. Akhirnya ia mengatakan ingin mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang hipnosis.

“Tetapi anda bukan orang yang bisa menerima saran,” kata saya. “Bagaimana mungkin anda bisa mendapatkan pengetahuan lebih banyak jika anda tidak bisa menerima saran? Dan anda ingin mendapatkan pengetahuan hipnosis lebih banyak tanpa pernah mengalami kondisi hipnotik?”

Lelaki di hadapan saya tampak tidak nyaman dengan ucapan terakhir saya. Dan saya membuatnya semakin tidak nyaman dengan kalimat selanjutnya:

“Dan saya bukan orang yang suka membuang-buang waktu. Saya pikir tidak ada gunanya bercakap-cakap dengan orang yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menerima sugesti. Itu sama dengan omong kosong. Saya tidak suka membuang-buang waktu untuk suatu omong kosong.”

Akhirnya ia mengatakan: “Saya sebetulnya ingin juga mengalami keadaan trance. Tetapi mereka mengatakan saya tidak bisa dihipnotis. Dan memang saya tidak pernah bisa memasuki kondisi trance dalam semua sesi hipnosis yang saya jalani.”

“Jadi, anda menemui saya untuk membuktikan sekali lagi bahwa ucapan mereka benar? Bahwa anda tidak bisa dihipnotis?” tanya saya. “Saya menolak dijadikan alat penegasan untuk urusan yang tidak ada manfaatnya. Kenapa tidak membuktikan bahwa ucapan mereka keliru? Apa jadinya jika ucapan mereka keliru? Apa jadinya jika anda bisa dihipnotis? Harga diri anda merosot?”

Dengan ogah-ogahan saya kemudian memenuhi keinginannya untuk dihipnotis. Saya sudah tahu hasilnya ketika ia mulai menyiapkan diri untuk proses induksi: Ia ingin membuktikan bahwa ucapan mereka keliru. Ia bisa dihipnotis dan untuk pertama kalinya bisa menikmati keadaan trance.

Anda ingin mencobanya? Trance hipnotik adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.***


Memfokuskan Perhatian Subjek Hipnosis dengan Cerita

| A.S. Laksana | 11 Desember 2017 | Inti dari praktek Ericksonian Hypnosis adalah sugesti tidak langsung. Dan alat paling efektif untuk...

| A.S. Laksana | 11 Desember 2017 |


Inti dari praktek Ericksonian Hypnosis adalah sugesti tidak langsung. Dan alat paling efektif untuk menyampaikan sugesti tidak langsung adalah cerita. Setiap orang menyukai cerita, sebab cerita membuat nyaman pikiran. Percakapan paling asyik di antara teman-teman kebanyakan adalah pertukaran cerita, bukan bertukar petuah atau nasihat atau khotbah.

Kita saling berbagi cerita dengan teman bicara kita, tentang apa saja, dan percakapan kita bisa berlangsung berjam-jam. Anda bisa lupa waktu jika bercakap-cakap dengan teman yang memiliki banyak cerita menarik.

Di samping itu memberikan kenyamanan, cerita juga akan secara otomatis menggiring perhatian pendengarnya untuk fokus ke arah topik yang sedang diceritakan.

Jika anda berniat mendalami Ericksonian Hypnosis, anda perlu melatih kecakapan bercerita. Bercerita apa saja. Ngawur tidak apa-apa, yang penting anda memiliki cerita untuk disampaikan. Melalui cerita, anda memfokuskan perhatian subjek ke arah yang anda inginkan.

Dan itu hal yang cukup mudah untuk dilakukan. Misalkan anda ingin membuat seseorang memfokuskan perhatian pada masa kecilnya, anda bisa menceritakan teman-teman masa kecil anda sendiri. Mungkin anda ingin orang itu mengingat kejadian-kejadian dengan teman masa kecil yang paling mengganggu, anda bisa menceritakan teman masa kecil yang paling mengganggu. Anda bisa mengatakan: “Masa kecil bisa menyenangkan jika kita memiliki teman-teman yang menyenangkan. Tetapi, tidak semua teman menyenangkan. Ada teman masa kecil yang sangat nakal, sering membully teman-teman lain, dan sepertinya tidak bisa dilawan.”

Respons alami orang ketika mendengar ucapan seperti itu adalah mengingat teman-teman masa kecilnya, dan ketika ia mendengar tentang teman yang suka membully, ingatannya akan segera tergiring ke arah temannya sendiri yang suka membully.

Selanjutnya, untuk semakin memfokuskan perhatian, anda bisa mengajukan pertanyaan:

“Apakah kau juga memiliki teman seperti itu?”

“Ia juga pernah mengganggumu?”

“Kau ingat apa yang telah dilakukannya terhadapmu?”

“Kau tidak berani melawannya?”

“Ya, kebanyakan dari kita mengalami hal itu, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika mengalami hal seperti itu.”

Ericksonian Hypnosis adalah hipnosis yang sangat nyaman, sebab ia dilakukan seperti orang bercakap-cakap dan berbagi cerita. Karena itu anda perlu melatih kefasihan menyampaikan cerita, sehingga anda sendiri bisa nyaman saat menyampaikannya, dan ketika anda sendiri merasa nyaman, subjek akan merasakan kenyamanan anda dan ia juga akan ikut merasa nyaman.

Kenyamanan subjek akan membuatnya lebih mudah memasuki kondisi trance.

Dan Suaraku akan Terus Bersamamu...

Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance.  SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnot...

Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance. 
SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnotis teman sendiri. Itu lebih sulit.

Saya melanggar itu. Subjek-subjek awal saya adalah teman-teman sendiri dan para kerabat.

Ini kejadian bertahun-tahun lalu. Seorang teman lama datang ke rumah, hari Sabtu waktu itu, pukul sepuluh malam. Kami ngobrol-ngobrol apa saja yang kami rasa menarik buat diobrolkan. Sebagian tentang masa lalu ketika kami bekerja di tempat yang sama, sebagian lagi tentang urusan kami masing-masing sekarang. Kepadanya saya bilang bahwa saya masih menulis (cerpen-cerpen saya masih muncul sesekali di koran-koran). Di luar urusan menulis, kata saya, “Saya menghipnotis orang.”

“Kau bisa?” tanyanya.

Pada waktu itu saya sudah dua tahun mendalami hipnosis Milton Erickson dan menjadi seperti pemain sirkus yang keranjingan melakukan atraksi di kandang sendiri.

Saya hipnotis anak saya, saya tidurkan keponakan saya, saya bikin teler adik-adik ipar saya, mertua saya, dan tetangga kiri kanan. Namun istri saya selalu menghindar. Ia hanya senang melihat saya melakukannya pada siapa saja, tetapi ia punya kecurigaan yang tidak masuk akal terhadap hipnosis sehingga tidak pernah mau mencobanya.

Saya tidak pernah memintanya menjadi subjek sampai akhirnya ia sendiri tertarik setelah memastikan bahwa hipnosis ternyata aman-aman belaka.

Kepada kawan saya, saya ceritakan beberapa hal yang saya lakukan dan perasaan nikmat yang didapatkan oleh orang yang memasuki kondisi trance. Saya perhatikan ia tertarik. Akhirnya, ia mengajukan pertanyaan: “Kalau saya, apakah bisa dihipnotis?”

Ini kesempatan untuk memainkan jurus kepada orang luar yang bukan penghuni kandang.

Ketika membaca buku-buku Erickson dan beberapa buku hipnosis lain, saya membaca semua materi dalam bahasa Inggris. Saya mencermati pola-pola sugesti Erickson dan memindahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Berikutnya saya berlatih membuat skrip sendiri, dengan subjek imajiner, menciptakan sejumlah metafora versi saya sendiri. Semuanya dalam bahasa Indonesia.

Sekarang, saya menghadapi subjek berbahasa Jawa. Akan saya sampaikan dalam bahasa apa sugesti-sugesti untuknya?

Saya tak terbiasa berbahasa Indonesia dengan teman saya ini. Namun jika harus mensugesti dalam bahasa Jawa, pasti mumet kepala saya.

Persoalan lainnya, apakah teman saya akan menganggap saya serius bisa menghipnotis? Jangan-jangan ia menganggapnya sebagai guyon belaka dan akan tertawa terbahak-bahak ketika saya mencoba membuatnya tidur.

Sepanjang berlangsungnya keruwetan di dalam benak, saya meminta teman saya duduk nyaman di kursinya dan menaruh kedua telapak tangannya di atas paha. “Jangan biarkan tanganmu saling bersentuhan,” kata saya dalam bahasa Jawa. Kemudian saya meminta matanya melihat gagang pintu yang ada di hadapannya. Ia menuruti semua yang saya minta.

Pada saat itu sebuah ilham seperti datang tiba-tiba. Saya pikir saya akan berterus-terang saja menyampaikan keruwetan saya kepadanya. Masih dalam bahasa Jawa, saya bilang, “Oke, biasanya kita ngobrol dalam bahasa Jawa. Jika kita ngobrol dalam bahasa Indonesia, percakapan kita  pasti akan terdengar seperti ketoprak humor. Begitu, kan?”

Ia tertawa.

Lanjut saya, “Tapi, sekarang, saya sesekali mungkin akan menggunakan bahasa Jawa, sesekali bahasa Indonesia, dan itu baik-baik saja ... Yang terpenting di sini, kau bisa memahami apa yang kusampaikan selagi kau duduk nyaman di kursimu ... menikmati ketenteraman kursi itu ... dan matamu tetap pada gagang pintu. Dan itu membuat kepalamu diam tenang ... dan itu membuat kupingmu tidak bergerak-gerak dan tetap diam di tempatnya.”

Setelah berterus terang seperti ini saya merasa lebih enteng, dan lebih enak berkomunikasi dengannya dalam bahasa campur-campur.

Teman saya tampak tenang dan tidak mempermasalahkan kalimat-kalimat yang pasti terdengar aneh jika digunakan dalam percakapan biasa. Sesungguhnya, dalam hipnosis, anda punya keuntungan bisa berkomunikasi dalam kalimat-kalimat semacam itu, yang akan terasa ganjil dalam ukuran percakapan sehari-hari.

Sekarang, penting bagimu menjaga kupingmu tetap diam di tempatnya... sebab itu kuping yang kuajak bicara ... dan itu kuping yang bisa mendengar semua suara ... Dan, kau juga tahu, kupingmu bisa pula mengabaikan suara apa saja dan memilih hanya mendengarkan suaraku....

Erickson melakukan hal ini. Saya hanya menirukan apa saja yang bisa saya ingat.

Sekarang, kau bahkan bisa mengabaikan suaraku jika kau mau ... dan kau tidak mendengar apa pun ... sebab bawah sadarmu siap melakukan tugasnya ... dan ia dekat sekali denganku ... ia dalam jangkauan suaraku ... karena itu ia selalu bisa mendengar suaraku .... Dan suaraku akan selalu mengikutimu ... ia menjadi suara ayahmu, ibumu, suara teman-temanmu, gurumu, tetanggamu ... dan menjadi suara angin, suara hujan ... suara-suara yang kaukenal di masa kecil ... ketika kau suatu hari merasakan sesuatu yang membahagiakan di dunia masa kecilmu. Apakah itu ketika kau berada di ruang kelas?”

Lagi-lagi saya hanya menirukan Milton Erickson. Ia sering mengatakan kepada subjeknya, dengan cara yang penuh simpati: “And my voice goes everywhere with you … changes into the voice of your parents, your neighbors, your friends, your schoolmates, your playmates, your teachers … and the voices of the wind, and of the rain. And I want you to find yourself sitting in the school room, a little girl feeling happy about something, something that happened a long time ago, that you forgot a long time ago.”

Itu sugesti yang paling saya kagumi. Ia muncul dari seseorang yang sangat mencintai profesinya, seorang hipnotis yang menyayangi subjek-subjeknya.

Sekarang, aku hanya berurusan dengan pikiran bawah sadarmu ... dan aku bahkan tidak peduli pikiran sadarmu memikirkan apa atau tidak memikirkan apa-apa sama sekali. Sebab aku hanya berurusan dengan bawah sadarmu ... dan ia bisa menangkap suaraku meskipun kupingmu tidak mendengar suaraku... dan suaraku hilang dari pendengaranmu.... Dan jika pikiran sadarmu lelah, ia bisa tidur begitu saja, dengan sendirinya ... Hanya, sekarang, kau perlu memastikan bahwa pikiran bawah sadarmu selalu terjaga ... ketika pikiran sadarmu tidur lelap, semakin lelap.

Dan, kapan tidurnya teman saya ini?

Ia kelihatan semakin tenang, tetapi matanya tetap melotot ke arah gagang pintu.

Biasanya orang bisa tidur dengan sendirinya, dan kau pun begitu, ketika kelopak matamu terasa semakin berat ... Mungkin itu didahului dengan satu kedipan ... dan mungkin disusul dengan dua atau tiga kedipan sekaligus....

Saya menunggu ia mengedipkan kelopak matanya, dan isyarat itu tetap tidak muncul. Matanya masih melotot.

Sekarang, kautahu, orang biasanya tidur dengan mata tertutup, tetapi kau bisa juga tidur dengan mata terbuka ... dan kau bisa memilih mana yang paling memberimu kenyamanan ... tidur dengan mata terbuka, atau tidur dengan mata tertutup ... Yang terpenting di sini, kau bisa tidur dengan nyaman, bahkan seandainya kau memilih tidur dengan mata terbuka. Dan, sekarang, aku hanya menunggu ... kau menunggu... apa pengalaman menyenangkan yang segera kaualami.

Ia memilih menutup mata.

Bagus! Begitulah, kau memilih tidur nyaman dengan mata tertutup. Dan itu sesuai pilihanmu sendiri... begitu matamu tertutup, tidurlah lelap... sangat lelap.

Selanjutnya saya membuatnya tidur lebih nyenyak.***

Tentang Otosugesti & Kenapa Anda Ingin Mendalaminya

Otosugesti adalah perangkat terpenting anda dalam perang besar melawan musuh yang paling sulit anda tundukkan, yakni diri sendiri. Ia berupa...

Otosugesti adalah perangkat terpenting anda dalam perang besar melawan musuh yang paling sulit anda tundukkan, yakni diri sendiri. Ia berupa sugesti yang diberikan kepada diri sendiri, dilakukan dengan metode dan prinsip-prinsip tertentu, untuk tujuan penyembuhan atau pengembangan karakter atau peningkatan diri.

Catatan singkat ini saya bikin untuk menjawab beberapa pertanyaan yang saya terima setelah saya mengumumkan pelatihan "Otosugesti untuk Terapi (Fisik & Emosi) dan Produktivitas." Baiklah saya lanjutkan.

Anda Seorang Terapis atau Dalam Posisi Membantu Orang Lain?

Jika anda seorang terapis atau dalam posisi membantu orang lain untuk membereskan masalahnya, sangat penting bagi anda untuk mampu menunjukkan bukti valid bahwa setiap masalah dimulai dari pikiran dan dari sanalah dimulai proses penyembuhan. Dan anda bisa melakukan pembuktian itu dengan teknik yang mudah dan selalu bisa diterima seketika itu juga tanpa celah bagi orang yang anda tangani untuk melakukan penolakan. Anda hanya perlu memberi tugas ringan kepada orang yang anda tangani

Anda tahu, prinsip utama otosugesti adalah "Jika keinginan berlawanan dengan imajinasi, maka imajinasi yang menang." Ada dua cara untuk meyakinkan orang bahwa pernyataan tersebut seratus persen benar.

Pertama, anda memberikan penjelasan yang masuk akal, dengan contoh-contoh yang menurut anda sangat memadai. Tetapi, sebagus apa pun penjelasan anda, jika anda berhadapan dengan orang yang resisten, ia akan cenderung membantah dan mungkin menjadikan anda terlibat dalam diskusi yang alot.

Kedua, anda memberinya pengalaman yang tidak bisa dibantah. Ini adalah pembuktian yang paling efektif untuk meyakinkan orang yang anda tangani. Jadi, dengan teknik simpel yang anda berikan kepadanya, ia akan membuktikan melalui pengalamannya sendiri bahwa memang benar bahwa pikirannya menjadi penyebab masalah, dan dengan demikian pikirannya juga yang akan menyelesaikan masalah.

Anda Menggunakan Otosugesti untuk Diri Sendiri?

Otosugesti akan menjadi teknik yang selalu bisa diandalkan untuk membangun kesadaran yang lebih sehat dan produktif. Anda tahu, perlawanan-diri biasanya diwakili oleh keadaran yang terlalu cerewet mengkritik diri, kecenderungan merendahkan atau "mengkorting diri sendiri", menyalahkan keadaan, atau merutuki nasib, atau perasaan bahwa segala jalan memang buntu.

Pikiran sadar adalah benteng sangat kokoh yang memaksa anda tetap berada di tempat anda sekarang. Ia menghendaki anda tidak membuat perubahan apa pun, dengan berbagai dalih yang selalu tersedia.

Bagaimana sejauh ini anda menggambarkan diri sendiri? Apa yang anda percayai tentang diri anda sendiri? Peran apa yang bisa anda pilih hari ini? Dan bagaimana menjadikan diri anda optimum?

Anda perlu membongkar benteng yang mengungkung diri anda itu dengan otosugesti yang memperkuat dan mamberdayakan bawah sadar anda. Mungkin anda pernah mencoba melakukannya dengan pelbagai jenis afirmasi, dan bosan setelah beberapa waktu kemudian. Atau, lebih buruk lagi, setelah beberapa waktu melakukan afirmasi, ujung-ujungnya anda merasa seperti sedang menipu diri sendiri.

Sehat dan Produktif: Berani Membuat Keputusan

Untuk menjadi sehat dan produktif, yang mula-mula anda lakukan adalah melumpuhkan kesadaran negatif tentang diri sendiri dan situasi. Jangan memberi kesempatan kepada pikiran sadar untuk membuat perlawanan. Itu prinsip lain otosugesti yang efektif.

Orang-orang terbaik di bidang masing-masing biasanya memiliki kemampuan alami untuk mensugesti diri sendiri. Mereka memiliki kepercayaan diri untuk mengalahkan kecerewetan pikiran sadar.

Dan itu kepercayaan diri yang anda butuhkan. Tanpa kepercayaan diri, tidak ada satu urusan pun yang akan bisa anda tangani secara beres. Jika anda tidak mempercayai diri sendiri, anda tidak akan memiliki keberanian membuat keputusan. Dan pembuatan keputusan, anda tahu, adalah dasar dari kemajuan diri dan produktivitas anda.

Salam
A.S. Laksana

N.B. 1: Saya berharap penjelasan ini memadai untuk menjawab keingintahuan anda kenapa saya memutuskan membuat pelatihan "Teknik-Teknik Otosugesti untuk Terapi (Fisik & Emosi) dan Produktivitas". Silkan klik di sini untuk mendapatkan harga khusus pelatihan.

Subjek Hipnosis yang Beriman

| A.S. Laksana | Suatu hari saya dolan ke kantor lama saya, penerbit buku Mediakita. Ada beberapa kantor penerbitan dalam satu gedung di Jal...

| A.S. Laksana |

Suatu hari saya dolan ke kantor lama saya, penerbit buku Mediakita. Ada beberapa kantor penerbitan dalam satu gedung di Jalan Haji Montong, Ciganjur, dan Mas Moelyono, pemimpin redaksi Visimedia, dengan antusias mengajak bicara soal hipnosis. Visimedia banyak menerbitkan buku-buku hipnosis, dan sebagai pemimpin redaksi penerbitan tersebut, Mas Moelyono tentu saja sudah membaca naskah-naskah yang ia terbitkan. Ia memiliki pemahaman luas tentang hipnosis berkat buku-buku yang ia terbitkan.

Dan sebelum saya lanjutkan, saya perlu sampaikan bahwa nama penerbit Visimedia bukanlah fiktif. Mas Moelyono juga bukan karakter fiktif, dan Denny, nama lain yang akan segera anda jumpai di tulisan ini, juga nama sebenarnya.

Kepada beberapa teman di kantornya, Mas Moelyono sudah mempraktekkan beberapa cara menghipnotis, dan beberapa kali berhasil. Ia menerapkan teknik-teknik uji sugestibilitas, beberapa kali berhasil. Namun pada salah satu rekan kerjanya, ia tidak berhasil. Uji sugestibilitas yang dilakukannya gagal.

“Dia ngeyelan, Mas,” katanya. “Disugesti nggak mau nurut. Coba kalau sampean yang melakukannya.”

Saya tanyakan kepada Denny, orang yang dianggap ngeyelan, apakah dia memang berniat membantah sugesti.

Denny menceritakan bahwa waktu itu ia diminta membayangkan ada lem yang kuat sekali menyatukan jari telunjuk dan ibujarinya sehingga kedua jari tersebut melekat dan ia tidak bisa membukanya. Uji sugestibilitas dilakukan, tetapi Denny dengan mudah bisa memisahkan ibujari dan jari telunjuknya. “Saya tidak merasakan adanya lem, sehingga dengan mudah bisa saya buka,” kata Denny.

“Nah, dia ngeyel seperti itu,” kata si pemimpin redaksi. “Diminta membayangkan lem dia tidak mau membayangkan.”

Mereka berdua berdebat tentang itu. Saya tanyakan kepada Denny, apakah sebetulnya dia ingin dihipnotis. “Saya pengen,” katanya. “Hanya ketika itu saya tidak melihat ada lem.”

“Ya, dia ingin dihipnotis, Mas,” kata saya kepada Mas Moelyono. “Sekarang silakan dicoba lagi, beri tahu dia bagaimana cara mudah memasuki trance.”

“Nggak mau saya,” kata Mas Moel. “Dia ngeyel sekali.”

“Dia mau, kok, dia pengen... dia pengen mengalami trance,” kata saya.

Mas Moel tampaknya sungkan, atau dia tidak mau dibantah untuk kedua kali.

“Kenapa sampean menolak orang yang pengen mengalami hipnosis?” tanya saya.

Mas Moel tetap mengatakan bahwa Denny ini suka membantah sugesti. Saya memintanya membuktikan apakah benar Denny tidak mau mengikuti sugesti seperti yang ia katakan. Pak Pemred tetap ogah.

“Tapi dia beriman pada saya,” kata saya.

Kami tertawa.

“Dia mempercayai saya, dan dia bisa mengikuti apa yang saya katakan. Saya tidak pernah melihat dia sebagai orang yang membangkang. Kami pernah satu kantor dan dia selalu mengikuti apa yang saya katakan.”

Saya menyampaikan fakta bahwa saya dan Denny memang pernah sekantor. Dan Denny memang bukan tipe pembangkang. Kemudian saya tanyakan kepada Denny apakah dia benar-benar ingin merasakan pengalaman trance. Dia mengiyakan.

Lalu saya melangkah ke kursi lain di sebelah sana. Ada satu meja bulat dan empat kursi kosong. Saya duduk di salah satu kursi.

“Sekarang duduklah di sini, Den, di kursi ini, santai saja,” kata saya kepada Denny sambil menunjukkan kursi di samping saya. “Kedua tanganmu di atas paha.”

Denny duduk dengan sikap seperti yang saya sampaikan.

“Atau lebih enak kau di kursi itu saja, Den,” kata saya sambil menunjuk kursi di seberang saya.

Dia pindah duduk ke kursi yang saya tunjuk.

“Oke kita mulai,” kata saya. “Tapi di kursi ini kau bisa lebih enak kelihatannya.”

Dia pindah ke kursi lain di sebelah diri saya. Mengatur duduknya seperti yang saya sampaikan di awal.

“Atau kita bertukar kursi?” tanya saya. “Di kursiku ini pemandangannya lebih baik. Jadi kau duduk di kursiku dan aku di kursimu.”

Dan kami bertukar kursi.

Maka dalam beberapa menit, saya menunjukkan kepada Mas Moel bahwa Denny adalah orang yang selalu menuruti semua perkataan saya. Dan Denny membuktikan bahwa dirinya memang seperti itu.

Selanjutnya, sesi berjalan sangat mudah, karena subjek benar-benar bisa menerima sugesti-sugesti yang saya sampaikan.

Seni Menyampaikan Sugesti

| A.S. Laksana | Pada dasarnya, sugesti bisa disampaikan melalui berbagai macam cara. Anda bisa menyampaikan sugesti dengan cara mengkomuni...

| A.S. Laksana |

Pada dasarnya, sugesti bisa disampaikan melalui berbagai macam cara. Anda bisa menyampaikan sugesti dengan cara mengkomunikasikan gagasan, menyampaikan fakta, menuturkan cerita, memberi penjelasan, memberi instruksi, atau bahkan menantang subjek. Dan saat menyampaikan apa pun, sikap terbaik untuk menyampaikannya adalah anda menyampaikannya secara enteng saja, seolah-olah semua yang anda sampaikan adalah fakta.

Hipnosis otoritarian kebanyakan menggunakan bentuk instruksi sebagai cara langsung penyampaian sugesti. Hipnosis Ericksonian menggunakan berbagai cara yang menghindari penyampaian sugesti secara langsung, sehingga nyaris terasa tidak ada perintah ketika orang menerima sugesti tersebut.

Namun, apa pun style hipnosis anda, anda perlu menguasai seni menyampaikan sugesti karena memang di situlah kunci kecakapan seorang hipnotis. Tak peduli cara apa pun yang anda pakai, anda harus bisa memastikan bahwa subjek menerima sugesti-sugesti anda dan bisa menjalankannya.

Menurut saya, cara yang digunakan oleh Erickson untuk menyampaikan sugesti adalah cara orang yang sabar. Saya suka menggambarkannya seperti seorang petani yang dengan tekun menanam benih dan menyiraminya, sebelum kemudian memanen hasilnya. Begitulah Erickson menjalankan hipnosisnya. Ia akan dengan sabar menanam-nanamkan lebih dulu berbagai gagasan. Itu ia lakukan untuk mempersiapkan sugesti-sugesti yang nantinya akan ia sampaikan kepada subjek.

Dan karena pemahaman subjek sudah memadai, maka ketika sugesti disampaikan, ia bisa mencernanya dengan enak dan bisa menjalankannya. Erickson akan menanamkan segala pengertian yang dekat dengan keseharian untuk memudahkan munculnya respons hipnotik.

Dengan cara itu, respons hipnotik akan menjadi sesuatu yang lebih natural bagi subjek.

Untuk membawa subjek regresi, misalnya, ia akan menyampaikan kepada subjek hal-hal yang secara spontan akan membawa ingatan subjek ke masa lalu. Ia akan mengingatkan kita dengan aktivitas-aktivitas yang kita lakukan di waktu kanak-kanak, seperti awal mula belajar membaca, kanak-kanak yang belajar berdiri dan berjalan, atau menyebutkan kalimat berima, dan sebagainya.

Ingatan-ingatan terhadap segala sesuatu di masa lalu itu tak jarang akan membawa subjek secara spontan mengalami regresi. Dan hal itu akan memudahkan bagi subjek ketika nantinya ia diminta mengalami kembali kejadian tertentu di masa lalunya, sebagaimana yang disugestikan oleh hipnotis. Subjek sudah dilatih atau dikondisikan, tanpa dia sadari, untuk memunculkan fenomena tersebut sejak awal.

Cara yang sama bisa anda lakukan untuk mensugestikan fenomena hipnotik apa pun. Untuk mempermudah fenomena hand-levitation, misalnya, anda bisa membicarakan berbagai peristiwa sehari-hari tentang apa saja yang ringan dan mengapung di udara. Atau ia akan menyampaikan bagaimana tangan bisa naik ke atas tanpa dipikirkan ketika seseorang melambaikan tangan kepada temannya.

Untuk mempersiapkan munculnya gerakan-gerakan ideomotor pada subjek, anda bisa menanamkan pengertian lebih dulu kepada subjek. Sampaikan kepadanya gagasan tentang gerakan-gerakan otomatis yang biasa dilakukan orang dalam peristiwa sehari-hari.

Misalnya, seorang ibu akan membuka mulutnya sendiri, bukan mulut si bayi, ketika ia meminta anaknya membuka mulut untuk menyuapkan makanan ke mulut bayi itu. Atau para penumpang mobil akan secara otomatis akan ikut menekankan kaki mereka seolah-olah menekan pedal rem pada situasi tertentu yang mengharuskan sopir menginjak pedal rem.

Anda juga akan melihat orang-orang yang memainkan game balapan mobil di depan layar monitor akan menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri ke kanan, tanpa sadar, mengikuti liuk-liuk sirkuit di layar monitor atau zig-zag yang dilakukan oleh mobil mainan yang dikemudikannya.

Atau secara otomatis orang akan membungkuk merendahkan kepalanya ketika mobilnya melewati terowongan atau palang yang cukup rendah.

Dan sampaikan dengan enteng menyampaikan kepada subjek anda, “Aku menginginkan gerakan-gerakan otomatis semacam itu.”

Cara-cara semacam itulah yang dilakukan oleh Erickson. Ia hampir selalu menanamkan gagasan-gagasan terlebih dulu, mengaitkan sebuah fenomena hipnotik dengan kelaziman sehari-hari, untuk membuat subjek memunculkan fenomena hipnotik yang diinginkan—dan ia ingin membuat subjek memunculkannya dalam cara yang lebih natural. Setidaknya, itu menghilangkan kesan ganjil pada subjek ketika ia harus memunculkan fenomena-fenomena hipnotik tertentu.

Jadi, ketika anda menerapkan prinsip Ericksonian, anda perlu memperhatikan lebih cermat fenomena-fenomena sehari-hari yang lazim dilakukan oleh manusia. Erickson adalah pemerhati kebiasaan dan perilaku sehari-hari manusia dan ia mengasahnya terus-menerus untuk kepentingan hipnosisnya.

Untuk membuat subjek bisa memunculkan fenomena matirasa (anestesia), hipnosis klasik biasa mensugesti agar subjek merasakan tangannya tercelup ke ember berisi air es. Erickson memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain untuk memunculkan fenomena tersebut, memahami prinsipnya, dan mencari kesepadanannya dengan peristiwa-peristiwa sehari-hari.

Ia akan memberikan gagasan bahwa matirasa bisa terjadi ketika orang melupakan sesuatu, atau tidak memikirkan sesuatu berkaitan dengan rasa tertentu. Biasanya rasa sakit.

“Kau akan melupakan rasa sakitmu sendiri ketika ada sesuatu yang lebih besar mengalihkan perhatianmu, seperti seorang ibu akan melupakan rasa sakitnya sendiri ketika melihat anak bayinya menghadapi situasi yang membahayakan.”

“Dan kau melupakan kerah baju yang melekat di lehermu, melupakan kaus kaki yang kaukenakan, melupakan sepatu selama kau berjalan. Kau mengenakannya dan kemudian melupakannya begitu saja. Kau hanya ingat untuk sampai di tempat tujuan pada waktu yang tepat.”

“Dan bagaimana seseorang kehilangan sakit kepalanya ketika ia menyaksikan film yang menegangkan? Ke mana perginya sakit kepala itu selama film berlangsung"



Dari penjelasan di atas, kita mendapatkan sebuah pemahaman bahwa Erickson menganggap fenomena hipnotik adalah kelanjutan belaka dari fenomena sehari-hari. Karena itu ia nyaris tidak pernah menyodorkan gagasan-gagasan yang terasa ganjil bagi subjek. Ia menghindari penyampaian ide-ide yang tidak dijumpai dalam keseharian.

Trance, sekali lagi, adalah kelanjutan belaka dari situasi keseharian, demikian pula fenomena-fenomena trance. Semuanya adalah kelanjutan dari fenomena-fenomena keseharian.

Setidaknya dengan gagasan semacam ini, anda akan membuat subjek lebih percaya diri untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang disugestikan oleh operator hipnotis. Dan operator memiliki kemungkinan sangat luas untuk memberikan pembelajaran kepada subjek tentang bagaimana sesi dijalankan dan bagaimana membimbing subjek memunculkan respons hipnotik dalam sesi yang akan berjalan mudah, karena subjek memiliki pemahaman yang cukup memadai untuk merespons sugesti.

Anda tahu, seringkali subjek gagal merespons sugesti karena ia tidak memiliki pemahaman yang memadai untuk melakukannya. Pengalaman eksperimental dengan beberapa subjek menunjukkan kemampuan yang berbeda-beda dalam merespons sugesti. Ada yang dengan mudah bisa memunculkan fenomena yang disugestikan, meskipun ia baru sekali dihipnotis, ada yang gagal melakukannya pada kesempatan pertama dan baru bisa melakukannya pada kesempatan berikutnya ketika ia diberi pemahaman yang cukup.

Saya mencoba pada beberapa orang, dalam kesempatan terpisah, untuk memunculkan respons hipnotik bangun hanya bagian kepala. Ini eksperimen yang mudah. Pada saat subjek dalam keadaan trance, anda memberinya sugesti yang meminta ia bangun hanya bagian kepala, sementara bagian tubuhnya dari leher ke bawah tetap tidur.

Sugesti untuk ini bisa disampaikan secara rileks saja:

“Nanti aku akan menghitung dari satu sampai lima... Pada hitungan kelima kau bisa membuka mata dan bangun hanya bagian kepalamu saja, bangun dari leher ke atas, sementara bagian leher ke bawah tetap tidur lelap di kursimu.”


Banyak subjek bisa melakukannya dengan mudah melalui sugesti semacam itu. Bahkan subjek yang baru satu kali berurusan dengan hipnosis pun bisa melakukannya. Tetapi dengan sugesti yang sama beberapa subjek eksperimen saya gagal melakukannya. Subjek yang tidak berhasil memunculkan fenomena tersebut biasanya akan membangunkan seluruh tubuhnya.

Sesi berikutnya saya coba pada kesempatan lain dengan subjek-subjek yang gagal membangunkan “hanya bagian kepala” itu. Kali ini saya menyampaikan secara rinci, ketika subjek dalam keadaan trance, hal-hal yang berkenaan dengan sugesti yang saya ingin ia meresponsnya dengan tepat. Dengan demikian ia benar-benar mendapatkan gagasan bagaimana cara merespons sugesti tersebut.

“Kautahu, N, Orang-orang lain bisa bangun bagian kepalanya saja, dari leher ke atas, dan aku tetap ingin tahu apakah kau juga memiliki kemampuan seperti itu. Bangun hanya bagian leher ke atas.

“Dan seseorang yang lain pernah bertanya-tanya, ‘Bagaimana orang bisa melakukan seperti itu?’

“Oh, itu bisa dilakukan dengan mudah. Kau hanya perlu mempertahankan tidurmu sangat lelap. Dan nanti aku akan meminta matamu terbuka. Dan kau membuka mata, dan kau bisa menoleh ke kiri ke kanan, tetapi kau merasakan sesuatu yang lucu, yakni bahwa kau tidak bisa menggerakkan bagian tubuhmu dari bagian leher ke bawah karena bagian tubuhmu dari leher ke bawah tetap tidur... lelap sekali. Dan itu sungguh kejutan yang menakjubkan, bukan?

“Jadi semudah itu, N, nanti aku akan menghitung dari satu sampai lima. Dan pada hitungan kelima kau akan membuka mata.

“Kau bisa menoleh ke kiri ke kanan, dan menikmati beberapa saat keadaanmu ketika baru membuka mata. Tarik nafas panjang bila perlu. Sampai kemudian kau merasakan sesuatu yang lucu itu dan menakjubkan itu. Tubuhmu dari leher ke bawah tetap tidur nyenyak. Kau tahu hal itu karena kau tidak bisa menggerakkannya.

“Sekarang kau sudah paham itu, N?

“Dan kau bisa menganggukkan kepalamu jika kau siap melakukannya?”


(N mengangguk pelan.)

“Oke, aku akan mulai menghitung karena kau menganggukkan kepalamu tanda kau siap. Dan kau siap melakukannya persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu?”

(N kembali mengangguk pelan.)

“Bagus, sekarang aku akan menghitung dari satu satu sampai lima dan kau membuka mata pada hitungan kelima. Hanya membuka mata, dan kau bisa menoleh ke kiri ke kanan jika kau menginginkannya. Aku tidak perlu meyakinkanmu bahwa itu hal yang mudah dilakukan. Ya, hanya membuka mata dan dengan demikian bagian kepalamu bangun.

“Satu... dua... tiga.... empat... lima....buka mata, N. Dan biarkan kepalamu bangun.”


Pada eksperimen kali ini subjek berhasil merespons sugesti secara tepat.

Ia membuka mata pada hitungan kelima, mengerjap-ngerjap sebentar, dan kemudian menoleh sedikit ke kiri ke kanan. Dan spontan ia tersenyum ketika menyadari bahwa ia tidak berhasil menggerakkan anggota badannya dari leher ke bawah.

Salam,
A.S. Laksana

N.B. Tulisan di atas adalah salah satu bagian dari ebook “The Art of Ericksonian Hypnosis: Prinsip-prinsip Mendasar dan Penerapannya”. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut ebook tersebut.

Menganalisa dan Memahami Erickson Bekerja

| A.S. Laksana | Baru-baru ini seseorang menanyakan, melalui sms, bagaimana cara termudah untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Erickson. ...

| A.S. Laksana |

Baru-baru ini seseorang menanyakan, melalui sms, bagaimana cara termudah untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Erickson. Saya jawab pendek saja, “Meniru apa yang ia lakukan.” Namun jawaban pendek itu memiliki konsekuensi yang panjang dalam benak saya. Pertanyaan tersebut dan jawaban singkat yang saya berikan telah mendorong saya untuk berpikir lebih serius, mempertimbangkan lebih cermat, dan menyampaikan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan menyangkut proses pembelajaran.

Jika anda benar-benar berkeinginan meniru cara Erickson melakukan apa yang ia lakukan, maka yang anda lakukan pertama-tama adalah memahami kenapa ia menyampaikan kalimat-kalimat atau sugesti seperti itu. Apa pesan terselubung yang ia sampaikan? Respons apa yang ia kehendaki dari subjek? Bagaimana cara ia membuat subjek mengikuti sugesti-sugestinya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mau tidak mau anda harus melakukan analisa atas serangkaian sugesti yang Erickson sampaikan dalam sesi hipnosisnya dengan subjek. Di bawah ini adalah contoh analisa saya terhadap kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Erickson kepada subjeknya di tahap-tahap awal induksi trance. Subjek ini tidak memiliki pengalaman dengan hipnosis sebelumnya.

Subjek duduk di kursinya. Erickson menyadarkan subjek itu tentang situasi di sekelilingnya, kadang ia akan menyebutkan benda apa saja yang ada di ruangan. Di bawah ini ia hanya menyebut satu benda.

Lihat salah satu sudut atas gambar itu.
Sudut atas gambar itu.
Sekarang aku akan bicara padamu.
(Pause beberapa saat)

Itu adalah cara tidak langsung untuk meminta subjek memusatkan perhatian karena ia akan bicara. Pada saat mengatakan kalimat tersebut, meskipun Erickson tidak melihat wajah subjek, ia akan mengikuti perubahan-perubahan dalam mimik muka, regangan otot di seluruh tubuh, tarikan dan hembusan nafas subjeknya. Mencermati perubahan-perubahan tanpa melihat langsung kepada subjek, itu mudah ia lakukan karena jam terbang. Setelah memfokuskan perhatian subjek, maka mulailah ia menyiapkan pembelajaran awal.

Ketika kau pertama kali masuk taman kanak-kanak, sekolah dasar,
urusan mempelajari huruf-huruf dan angka tampak sebagai urusan besar.

Mempersiapkan pembelajaran di awal induksi ini selalu dilakukan oleh Erickson, terutama kepada subjek-subjek yang belum memiliki pengalaman dengan hipnosis. Ia bicara tentang pengetahuan yang sudah dimiliki oleh subjek. Itu seperti ia mengatakan, “Mempelajari sesuatu yang baru pasti memerlukan upaya keras, tetapi kau sudah pernah melakukannya dan kau berhasil. Sekarang gunakan pengetahuanmu untuk belajar memasuki kondisi trance.”

Bagaimana mengenali huruf A
Membedakan huruf Q dan O sangat, sangat sulit.
Dan mendapati bahwa tulisan tangan dan huruf cetakan sangat berbeda.
Tapi kau belajar membentuk gambaran mental tentang itu semua.
Kau tidak menyadarinya saat itu, tapi itu gambaran mental yang permanen.

Dalam serangkaian sugesti di atas, Erickson menggunakan truisme, serangkaian sugesti yang kebenarannya sudah jelas. Truisme adalah dasar sugesti hipnotik. Prinsip Erickson dalam penggunaan truisme adalah bahwa sugesti selalu diberikan dalam bentuk yang bisa diterima secara mudah oleh subjek, sehingga subjek tidak mungkin mendebatnya.

Dan kemudian pada pelajaran tatabahasa, kau membentuk gambaran mental yang lain tentang kata-kata atau gambar-gambar kalimat.
Kau mengembangkan semakin banyak gambaran mental tanpa tahu bahwa kau sedang mengembangkan gambaran mental.
Dan kau bisa mengingat semua gambaran itu.
(Pause beberapa saat)

Jika hipnoterapis lain memusatkan perhatian subjek dengan meminta subjek memandang satu titik tertentu, Erickson lebih suka membawa subjeknya berfokus pada gambaran mental. “Lebih mudah berurusan dengan gambaran di benak orang,” katanya. “Ada banyak gambaran dalam benak. Orang bisa dengan mudah tergelincir dari satu gambaran mental ke gambaran lainnya selagi ia diam di tempatnya.” Pada saat subjek sudah asyik masyuk dengan gambaran mentalnya, mulailah ia menyodorkan gagasan tentang peralihan situasi.

Oke, sekarang kau bisa pergi ke mana pun yang kauinginkan, dan membawa dirimu sendiri ke situasi apa pun yang kaukehendaki.
Kau bisa merasakan air
Kau mungkin ingin berenang di dalamnya.
(Pause beberapa saat)
Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan.

Sugesti di atas terdengar seolah-olah ia memberikan kebebasan mutlak kepada subjek untuk memilih apa pun yang ia kehendaki, tetapi sesungguhnya ia mengarahkannya ke “air”. Lebih dari itu, hal lain yang penting adalah ia mulai memperkenalkan peralihan situasi (altered state atau kondisi hipnotik) tanpa bisa dikenali oleh pikiran sadar. Kemudian ia menyusulinya dengan sugesti-sugesti untuk memunculkan bawah sadar dan menon-aktifkan pikiran sadar.

Kau bahkan tidak harus mendengarkan suaraku
karena bawah sadarmu akan mendengarnya.
Bawah sadarmu bisa mencoba apa saja yang ia kehendaki.
Tetapi pikiran sadarmu tidak akan melakukan hal penting apa pun.

Memfokuskan perhatian subjek pada gambaran mental adalah cara cerdik Erickson untuk menyelinapkan sugesti-sugestinya ke pikiran bawah sadar. Keika pikiran sadar terfokus pada gambaran mental, ia tidak terlalu memperhatikan apa-apa yang dikatakan oleh Erickson. “Dengan cara itu, pikiran sadar tidak mengganggu jalannya komunikasi dengan pikiran bawah sadar,” katanya. Begitulah, dengan cara mengikat perhatian pikiran sadar pada keasyikan menikmati gambaran-gambaran mental yang sengaja dimunculkan sejak awal, Erickson melakukan “pekerjaan terselubung” untuk menyusupkan sugesti-sugesti ke pikiran bawah sadar. Dalam sesi contoh ini, setelah memunculkan bawah sadar, ia melanjutkannya dengan sugesti untuk makin menyempitkan respons: hanya fokus pada respons kelopak mata.

Kau akan memperhatikan bahwa pikiran sadarmu tetap sadar karena ia membuat kelopak matamu bergetar.
Selain menyempirkan fokus hanya ke kelopak mata, dengan sugesti itu Erickson memberikan ketenteraman kepada subjek tentang keadaannya saat itu. Ia membuat perasaan subjek aman karena diyakinkan bahwa ia “tetap sadar”, karena bisa membuat kelopak mata bergetar.

Kalimat sebab-akibat ini berpola non-sequitur. Ia seolah-olah sebab-akibat, tetapi sebetulnya kedua bagiannya tidak saling berhubungan sebagai sebab-akibat. Masing-masing bekerja sendiri. Sugesti pertama menenteramkan pikiran sadar, sugesti kedua mengelabuinya dan bekerja di level bawah sadar. Menggetarkan kelopak mata sesungguhnya adalah urusan bawah sadar. Orang tidak mungkin bisa menggetarkan kelopak mata secara sadar.

Selanjutnya ia memperkuat kemunculan bawah sadar melalui serangkaian sugesti yang hanya bisa direspons oleh bawah sadar.

Tetapi kau mengubah tarikan nafasmu.
Kau mengubah denyut nadimu.
Kau mengubah tekanan darahmu.
Dan tanpa mengetahuinya, kau memperlihatkan apa yang bisa diperlihatkan oleh subjek hipnotik.

Bagaimana cara orang mengubah denyut nadi? Itu bukan pekerjaan pikiran sadar. Bagaimana orang mengubah tekanan darah? Itu juga bukan pekerjaan pikiran sadar. Subjek hanya perlu merasakannya, dan mengalaminya, dan itu berarti ia membiarkan bawah sadar melakukan pekerjaannya tanpa gangguan pikiran sadar.

Dalam hal ini, sugesti-sugesti yang disampaikan juga berpola truisme. Namun, truisme yang sekarang ini hanya bisa dibenarkan dengan cara melakukan pembuktian internal. Subjek tidak pernah menyadari semua yang disampaikan itu, dan ketika semua itu disampaikan, subjek jadi menyadari bahwa “memang telah terjadi perubahan”. Pada saat pikiran sadar semakin melemah, yang bisa dilakukan oleh subjek pada saat itu bukanlah menguji benar-tidaknya pernyataan-pernyataan tersebut, tetapi sekadar melakukan pembuktian untuk membenarkan bahwa kondisinya memang sudah berubah.

Lalu ia melanjutkannya dengan kalimat samar, seolah-olah menanggapi respons subjek terhadap sugesti sebelumnya, tetapi sesungguhnya ia sedang menyingkirkan segala gangguan dari luar.

Tidak ada yang benar-benar penting
kecuali aktivitas pikiran bawah sadarmu.

Dalam situasi ini, seorang hipnotis tidak pernah benar-benar tahu apa yang tengah berlangsung dalam diri subjeknya. Bagaimana pun selalu ada kemungkinan-kemungkinan suara-suara dari luar mengganggu proses internal si subjek. Erickson memberikan sugesti yang memungkinkan subjeknya untuk melemahkan gangguan dari luar, tanpa menegaskan ada gangguan dari luar. Namun jika gangguan itu ada, pasien bisa menurunkan intensitas gangguan itu dengan sugesti ini. Selanjutnya ia mempersiapkan subjek dengan sugesti untuk memunculkan fenomena hipnotik.

Dan kau bisa mencoba apa saja yang dikehendaki oleh bawah sadarmu.
Ini adalah contoh sugesti yang menyodorkan kepada subjek sebuah “kebebasan ilusif”. Ini menguatkan bentuk kebebasan sebelumnya yang sudah disodorkan, di mana Erickson seolah-olah membebaskan subjek untuk pergi ke mana pun, tetapi ia mengarahkannya ke air.

Dalam kebebasan ilusif kali ini, Erickson menyisipkan kata “mencoba” yang menyiratkan adanya kesulitan atau penghalang bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Orang sering bilang, “Ya, saya akan coba,” dan biasanya ia gagal.

Kenapa Erickson tidak menggunakan kalimat “Dan kau bisa melakukan apa saja yang dikehendaki oleh bawah sadarmu”? Kenapa ia memakai kata “mencoba”?

Itu tampaknya disengaja oleh Erickson untuk untuk memblok bawah sadar subjek sampai ia menerima pengarahan-pengarahan berikutnya dari Erickson. Subjek itu tidak punya pengalaman dengan hipnosis, maka Erickson harus memberikan perasaan bahwa hipnosis aman baginya dan jika ia gagal atau kesulitan dalam pembelajarannya kali ini, itu hal yang wajar. Implikasi lainnya adalah, "Kau boleh mencoba apa saja, tetapi kau akan gagal tanpa pengarahanku."

Prinsip-Prinsip Psikologis dalam Sugesti Hipnotik

| A.S. Laksana | Salah satu yang sering membikin orang penasaran adalah bagaimana sugesti bekerja. Anda tahu, sugesti hipnotik bisa bekerja ...

| A.S. Laksana |

Salah satu yang sering membikin orang penasaran adalah bagaimana sugesti bekerja. Anda tahu, sugesti hipnotik bisa bekerja efektif karena pada dasarnya ia valid secara psikologis. Inilah 3 prinsip psikologis menurut Milton Erickson yang bisa anda manfaatkan untuk sugesti anda.

Pertama, Prinsip Pemusatan Perhatian.

Prinsip ini menyatakan bahwa ketika perhatian secara spontan dipusatkan pada satu ide, maka ide tersebut akan mewujudkan dirinya sendiri. Jika yang kita sodorkan adalah ide tentang gerakan otot atau aktivitas motor, maka hal itu disebut aktivitas ideomotor. Jika yang kita sodorkan adalah ide yang melibatkan organ-organ penginderaan, misalnya tentang perubahan temperatur dan sebagainya, maka itu disebut aktivitas ideosensori.

Misalkan seseorang diminta merentangkan kedua tangannya ke samping, dengan mata tertutup, dan kemudian diberi gagasan bahwa masing-masing pergelangan tangannya diikat dengan tali dan kemudian tali itu ditarik ke depan, maka kedua tangan orang itu akan bergerak ke depan dengan sendirinya—tanpa disadari.

Ketika indera dilibatkan, misalnya seseorang dengan mata terpejam disodori gagasan untuk mencelupkan tangannya pada seember air es, maka ia akan merasakan dingin di tangan itu dan begitu dinginnya sehingga muncullah fenomena matirasa. Aktivitas ideosensori ini juga terjadi dengan sendirinya.

Kedua, Prinsip tentang Hasil yang Berkebalikan

Prinsip kedua yang bekerja dalam sugesti hipnosis adalah apa yang oleh Emile Coue disebut “Hukum tentang Hasil yang Berkebalikan”. Bunyinya seperti ini: Ketika keinginan dan imajinasi saling bertentangan, maka imajinasilah yang selalu menang.

Ketika seseorang memiliki keinginan di benaknya untuk melakukan sesuatu tetapi ia merasa tidak bisa, maka semakin keras ia berusaha, semakin sulit ia mewujudkanya. Jika seseorang diminta berjalan di balok kayu sepanjang 5 meter yang diletakkan di lantai, tanpa kesulitan apa pun ia akan bisa melakukannya. Tetapi jika balok itu diletakkan satu melintang di atas dua kursi yang tingginya setengah meter dari lantai, orang itu akan sedikit mengalami kesulitan untuk berjalan di atas balok tersebut dari satu ujung ke ujung lainnya. Bagaimana pula jika balok tersebut diletakkan melintang di atas dua gedung yang tingginya dua puluh lantai? Orang itu ngeri membayangkan dirinya jatuh dan ia berpikir bahwa ia tidak akan bisa menyeberangi balok itu dari ujung ke ujung. Semakin keras ia mencoba melintasi balok itu, semakin sulit baginya untuk menyeberang. Prinsip “semakin keras berusaha, semakin sulit” ini sering digunakan dalam prosedur induksi.

Ketiga, Prinsip tentang Kekuatan Emosi

Di sini kita paham bahwa dengan menambahkan emosi pada sugesti, maka sugesti kita akan lebih efektif. Emosi yang lebih kuat akan cenderung mengalahkan emosi yang lebih lemah. Misalnya, jika dua orang siswa sedang belajar dan salah seorang merasa malas melanjutkan belajarnya dan ingin menonton film saja, ia bisa menyodorkan sugesti ke temannya, “Nonton film saja yuk!” Ia bisa melanjutkan sugesti itu dengan mengingatkan.”Kau ingat terakhir kali kita belajar keras menjelang ujian, dan kau jeblok?” Hampir bisa dipastikan bahwa temannya akan menutup buku dan mengatakan, “Mari!”

 


Mereka Trance dan Mengamuk

| A.S. Laksana | Gregory Bateson dan Margareth Mead, suami istri yang sama-sama antropolog dari AS, pernah membuat penelitian di Bali pada 1...

| A.S. Laksana |

Gregory Bateson dan Margareth Mead, suami istri yang sama-sama antropolog dari AS, pernah membuat penelitian di Bali pada 1930-an dan mereka menarik kesimpulan bahwa orang-orang Bali menjalani kesehariannya dalam keadaan trance. Itu karena seluruh tindakan sehari-hari mereka difokuskan demi melayani Sang Hyang Widi.

Delapan puluh tahun kemudian, saya kira situasi trance itu sudah meluas. Tidak hanya di Bali orang-orang menjalani keseharian dalam keadaan trance. Kini hampir semua orang Indonesia menjalani keseharian dalam keadaan trance. Saya ingin membahas situasi ini dari sudut pandang lain, berdasarkan pengetahuan yang saya dalami bertahun-tahun belakangan, yakni hipnosis.

Berkali-kali kita mendengar orang secara serampangan mengatakan, “Mereka dihipnotis” untuk menjelaskan bagaimana orang sanggup menjadi bagian dari gerakan terorisme. Baiklah, saya sepakat bahwa mereka dihipnotis. Namun, oleh siapa?

Mari kita bicarakan lebih jernih. Orang-orang yang mengamuk itu, yang kita dengar berita kejadiannya di berbagai tempat, adalah orang-orang yang berada dalam situasi di puncak kebingungan. Ini situasi yang mudah sekali membawa orang memasuki trance dan melakukan tindakan-tindakan di luar kesadaran.

Anda tahu, salah satu teknik paling manjur untuk membawa orang ke kondisi trance, yang dalam pertunjukan panggung anda lihat sebagai kondisi tidur, adalah membuat orang itu kebingungan. Mula-mula anda menyodorkan satu pernyataan, lalu anda susul dengan pernyataan berikutnya yang bertentangan. Pada saat itu subjek (sebutan untuk orang yang dihipnotis) akan menyadari bahwa anda melakukan kekeliruan, tetapi ia akan memaklumi bahwa mungkin anda sedikit selip.

Masalahnya, saat subjek memaklumi anda, dan menganggap itu hanya kekeliruan kecil yang tidak disengaja, anda menyusulkan pernyataan-pernyataan berikutnya yang terus bertentangan dan semakin membingungkan. Terkondisi oleh respons awalnya yang kooperatif terhadap kekeliruan anda, subjek mencoba mengabaikan sedikit kebingungannya itu. Sampai akhirnya ia akan mendapati dirinya terperangkap dalam berbagai kemungkinan respons yang saling bertentangan. Dan ia sudah tidak bisa apa-apa lagi.

“Pada saat berada di puncak kebingungan itulah maka sugesti positif apa pun akan diterima oleh subjek sebagai jalan keluar yang melegakan dan sekaligus membebaskan dirinya dari situasi yang membingungkan,” kata Milton Erickson, seorang hipnotis jenius dari AS dan pelopor hipnosis modern. “Itu adalah momen di mana ia menemukan sesuatu yang bisa dipegang dan direspons secara cepat dan memberinya perasaan tenteram.”

Yah, saya tidak bicara hipnosis yang diperagakan Uya Kuya, sebab itu bukan hipnosis melainkan sandiwara belaka. Orang-orang yang anda lihat tidur dan ngoceh dalam pertunjukan si Kuya adalah aktor yang memang diminta untuk berakting seperti itu. Ini kesimpulan saya. Dalam salah satu pertunjukannya, orang yang berakting sedang trance itu pernah ada yang bertanya, “Apa?” ketika omongan Kuya tidak tertangkap jelas olehnya.

Anda tahu, bertanya bukanlah karakter orang trance. Jika anda trance, anda hanya akan mengerjakan sugesti yang bisa anda jalankan. Ketika sugesti itu tidak tertangkap jelas, artinya tidak bisa dijalankan, anda hanya akan diam, bukan bertanya. Dalam kondisi itu, anda hanya menunggu datangnya perintah lain yang lebih jelas.

Begitulah, dengan efektivitasnya untuk melumpuhkan pikiran sadar, teknik membikin bingung selalu bisa diandalkan oleh hipnotis untuk membawa subjeknya memasuki kondisi trance. Orang akan mudah disuruh tidur ketika pikiran sadarnya sudah kewalahan dan kebingungannya tak tertangani lagi. Trance adalah situasi yang melegakan, yang membuat subjek terbebas dari situasi puncak kebingungan. Selanjutnya ia akan merespons sugesti dengan pikiran bawah sadar. Dan bawah sadar bisa menjalankan sugesti apa pun, memunculkan pelbagai fenomena yang musykil dilakukan oleh pikiran sadar.

Analogi itu tampaknya bisa menjelaskan kenapa orang bisa menjadi beringas dan bertindak di luar nalar. Atas nama apa pun. Bisa atas nama agama, bisa atas nama partai, bisa pula atas nama uang. Banyak orang hari ini dalam keadaan di puncak kebingungan. Kita diserbu oleh segala informasi yang membingungkan dan pelbagai hal yang tidak bisa kita jadikan pegangan.

Kita seperti subjek hipnotik yang sengaja diombang-ambingkan tanpa pernah ada penyelesaian. Apa yang bisa dijadikan pegangan hari ini? Pidato pemerintah? Tidak. Janji-janji pemerintah? Tidak juga. Statistik tentang keberhasilan pemerintah? Oh, yang menikmati keberhasilan statistik itu hanya pemerintah sendiri dan beberapa gelintir orang. Bagian terbesar masyarakat kita hidup seperti reptil—merambat dan melata—mencaplok apa yang ditemukan di jalanan. Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu? Ini juga makin terasa sebagai kebohongan.

Maka, apa yang harus dikerjakan untuk menenteramkan pikiran? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi situasi yang membingungkan ini?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasa muncul di benak orang-orang yang menjadi subjek hipnosis. Mereka menunggu sebuah instruksi yang bisa mereka kerjakan. Dan instruksi untuk tidur, di saat orang sedang di puncak kebingungan adalah instruksi yang melegakan. Jadi, tidurlah dan lakukan semuanya begitu saja.

Perbedaannya, dalam hipnosis panggung, anda dibikin tidur dan disodori instruksi untuk melakukan tindakan musykil yang dimaksudkan untuk menghibur penonton. Dalam hipnoterapi anda dibawa memasuki trance dan diberi sugesti yang memudahkan anda menemukan sumberdaya terbaik yang anda miliki.

Milton Erickson meyakini bahwa setiap orang menyimpan segala sumberdaya yang dibutuhkan untuk menyingkirkan perilaku simptomatiknya. Sumberdaya semacam inilah yang diperkuat sehingga di masa-masa mendatang, anda bisa menghadapi situasi sulit dengan cara yang lebih sehat dan lebih produktif, bukan dengan perilaku simptomatik yang merugikan diri sendiri seperti yang selama ini dilakukan.

Yang terjadi dengan hipnosis massal terhadap warga negeri ini tidaklah demikian. Kita disodori tindakan-tindakan musykil yang jauh dari unsur menghibur dan sama sekali tidak membikin kita lebih sehat. Kita disodori tindakan tak sadar yang brutal dan menyebabkan orang kehilangan nyawa. Kita disodori perilaku antisosial, sebuah tindakan tanpa empati, dan itu adalah gangguan perilaku yang mengerikan.

Anda tahu, orang yang paling mudah terseret menjadi anggota kelompok-kelompok ajaib adalah orang-orang yang berada di puncak kebingungan. Mereka mencari kepastian atau apa pun yang bisa dijadikan pegangan. Dan kelak mereka akan melakukan hal-hal yang menurut anda tidak masuk akal. Tentu saja ketika mereka sudah meyakini bahwa tindakan beringas itu harus dilakukan untuk memerangi apa yang layak diperangi.

Dengan analogi semacam itu, saya hendak mengatakan bahwa pemerintah dan para elite politik kita tidak ubahnya adalah seorang hipnotis yang tidak bertanggung jawab. Mereka menjadi hipnotis terjahat karena yang mereka lakukan hanya membuat subjek kebingungan dan lantas meninggalkannya begitu saja. Mereka melumpuhkan pikiran sadar warga negara dan membiarkan mereka menemukan sendiri apa yang bisa membebaskan mereka dari situasi kacau yang membikin mereka kelelahan. Pendeknya, mereka membawa kita ke puncak kebingungan dan kemudian berlepas tangan.

Dan, anda tahu, dalam situasi ketika pikiran sadar nyaris lumpuh, orang hanya menunggu instruksi. Orang tidak lagi kritis dan menanyakan, “Apa?” seperti dalam sandiwara si Kuya. Hasilnya, anda bisa dibayar untuk mencoblos tanda gambar tertentu dalam pemilu. Anda bisa digerakkan untuk menyerang satu kelompok lain. Anda bisa didorong untuk meledakkan diri sendiri. Anda bisa diberi perintah untuk apa saja dengan alasan-alasan yang tampak remeh, atau bahkan tidak waras, di mata orang lain.

Maka, memang benar bahwa mereka dihipnotis. Dan anda sekarang tahu siapa yang sesungguhnya telah memberi peluang kepada mereka untuk menjadi sebrutal itu.***

------

*) Tulisan ini dimuat pertama kali sebagai kolom di Jawa Pos hari Minggu

Sugesti Hipnoterapis yang Menyesatkan Kliennya

| A.S. Laksana | Di sebuah forum hipnosis online yang saya ikuti, ada seorang anggota menyampaikan masalahnya tentang sesi hipnoterapi yang ...

| A.S. Laksana |

Di sebuah forum hipnosis online yang saya ikuti, ada seorang anggota menyampaikan masalahnya tentang sesi hipnoterapi yang ia jalani dengan seorang terapis untuk menyingkirkan sebuah simptom. Dalam beberapa sesi, menurut ceritanya, ia ditidurkan dan diberi sugesti-sugesti, tetapi pada saat itu pikirannya tidak tertuju pada apa yang dikatakan oleh terapis. “Pikiran saya malah ke mana-mana,” katanya.

Karena terus seperti itu, sesi mereka tidak mengalami kemajuan, dan terapis kemudian mengatakan bahwa kliennya ini tidak bisa dihipnotis. Selanjutnya, sesi akan dijalankan dengan waking trance (itu istilah yang disebut oleh si terapis).

Saya mengusulkan kepada klien (yang menjadi anggota forum) agar menyetop saja urusannya dengan terapis yang menanganinya. Pertimbangan saya, terapisnya sudah berlaku ceroboh dengan memunculkan masalah baru pada klien, yakni dengan menanamkan sugesti bahwa klien tidak bisa dihipnoterapi. Itu fatal dan saya yakin itu sangat keliru.

Dari pengakuan yang disampaikan oleh klien (jika memang benar-benar seperti itu), saya menduga bahwa terapis menerapkan teknik yang ia kuasai (mungkin teknik andalannya), dan ketika teknik tersebut gagal membawa kliennya benar-benar memasuki deep trance, karena pikiran klien masih ke mana-mana, ia lantas menyimpulkan bahwa klien tidak bisa dihipnoterapi.

Efek buruknya adalah, jika sesi dengan terapis itu terus-menerus gagal, klien akan mengembangkan keyakinan bahwa ia memang tidak bisa dihipnoterapi. Dan dengan keyakinan semacam itu, besar kemungkinan ia akan mengembangkan resistensi terhadap hipnosis dan hipnoterapi pada waktu-waktu selanjutnya.

Selain ceroboh, apa yang disampaikan oleh terapis mengenai kondisi kliennya juga bisa menjadi sugesti yang menyesatkan. Hanya karena tekniknya gagal, seorang terapis lantas menyimpulkan dan menyampaikan penilaiannya kepada klien bahwa ia tidak bisa dihipnotis. Saya kira setiap terapis harus paham bahwa hipnoterapi adalah pendekatan yang mengutamakan kebutuhan klien, bukan mengutamakan kebutuhan terapis (dengan cara memaksakan agar klien tunduk pada pendekatan yang ia gunakan).

Semestinya terapis itulah yang menyesuaikan pendekatannya dengan mempertimbangkan kebutuhan subjektif klien. Pada dasarnya setiap orang, asalkan ia bisa mencerna dan memahami komunikasi, pastilah bisa dihipnotis. Ada yang bisa cepat memasuki trance, ada yang memerlukan waktu lebih lama. Namun, setiap pendekatan yang tepat akan memberikan hasil yang diinginkan, bagi terapis maupun kliennya.

Kasus ini membuktikan bahwa tidak ada satu teknik yang berlaku umum, dan sugesti bukanlah mantra atau obat tidur yang bisa digunakan untuk semua orang atau bahkan orang yang sama dalam situasi berbeda, atau simptom yang sama pada orang yang berbeda. Sekali lagi, yang utama dalam hipnosis bukanlah sugesti yang disampaikan oleh terapis, tetapi respons yang dikembangkan oleh subjek ketika menerima sugesti.

Dan agar sugesti anda mendapatkan respons yang dikehendaki, tentu saja anda perlu meningkatkan kecakapan dan pemahaman, tentang hipnosis, dan tentang perilaku manusia. Pendekatan yang anda gunakan mestinya adalah pendekatan yang paling bisa menjawab kebutuhan subjektif klien, sehingga klien merasa benar-benar nyaman menjalani sesi hipnoterapi dan ia bisa mengembangkan respons terapetik yang diinginkan.

Bacaan terkait:
4 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Membuat Subjek Trance
Menghargai Pencapaian Aktual Subjek
Bagaimana Hipnotis Memanfaatkan Perilaku Spontan Subjek

Shock, Surprise, dan Momen Kreatif

| A.S. Laksana | Anda tahu, kejutan adalah teknik paling lazim digunakan untuk tindak kejahatan yang sering disebut-sebut menggunakan hipnos...

| A.S. Laksana |

Anda tahu, kejutan adalah teknik paling lazim digunakan untuk tindak kejahatan yang sering disebut-sebut menggunakan hipnosis. Semata-mata karena dengan diberi kejutan, orang akan menjadi blank atau beberapa saat. Nah, momen beberapa saat blank, di saat pikiran sadar lumpuh, itulah yang digunakan untuk memyusupkan sugesti-sugesti. (Karena itu, jika anda mendapatkan tepukan tiba-tiba di tempat ramai oleh seseorang, segera kuasai kesadaran anda, dan jika si penepuk pundak itu terus nyerocos dan berlagak sebagai teman lama anda, bilang saja secara tegas bahwa anda tidak kenal dengannya. Maka, ia sendiri yang akan jadi blank.)

Dalam hipnoterapi, shock dan surprise berfungsi untuk melonggarkan kerangka berpikir pasien. Erickson sering menggunakan shock dan surprise untuk mengguncangkan kerangka berpikir pasien dan menciptakan momen kreatif ketika pikiran sadar sejenak lumpuh. “Pasien datang kepada anda dengan kerangka mental tertentu, dan berharap anda masuk ke dalam kerangka mental tersebut,” katanya. “Ketika anda mengejutkan mereka, kerangka mental mereka akan melonggar dan anda bisa memolakan sebuah kerangka mental baru.”

Sekarang bayangkan anda berada di tempat umum dan tiba-tiba anda mendengar bunyi ledakan yang mengguncang kesadaran anda. Anda mungkin akan terkesiap dan terlempar ke trance sesaat ketika bawah sadar anda mencari tahu apa yang terjadi. Dan anda bisa kembali rileks beberapa waktu kemudian setelah tahu bahwa itu adalah suara mobil meledak. Namun jika tepat pada momen anda terguncang sesaat itu ada seseorang meneriakkan sugesti: BOM!, bisa saja anda langsung terlompat panik atau bertiarap untuk melindungi keselamatan diri anda.

Olok-olok vulgar atau bentakan memiliki efek serupa itu juga dalam keseharian; keduanya merupakan bentuk-bentuk guncangan yang membuat kesadaran kita lumpuh sejenak. Begitulah, kadang-kadang seseorang menggunakan olok-olok atau bentakan untuk membuat pendengarnya lebih memperhatikan apa yang ia sampaikan.

Berkaitan dengan guncangan, kita akan melihat dalam hipnosis bagaimana sebuah kejutan disodorkan untuk mengguncangkan kerangka mental pasien sehingga keyakinannya terlumpuhkan. Tentu saja anda tidak harus meledakkan sesuatu di ruang praktek, atau mengolok-olok pasien, atau membentak-bentaknya agar ia terguncang. Anda akan membuatnya kapok.

Yang anda lakukan, dengan sugesti, adalah menyodorkan sesuatu yang mengguncang dan memunculkan celah kosong dalam kesadaran mereka. Dengan itulah kita membuka kemungkinan bagi momen kreatif. Dalam percakapan sehari-hari, anda tahu, seseorang bisa memerah wajahnya begitu saja ketika proses emosional bawah sadar disinggungkan padanya. Jika ia tidak memerah mukanya dalam momen seperti itu, kita bisa merangsang kemunculannya dengan bertanya simpel saja, “Kenapa mukamu merah?” Pertanyaan ini--sebagai bentuk sugesti tak langsung yang dijalankan pada momen ketika kerangka mental pendengarnya sedang goyah--akan serta merta mendorong berlangsungnya proses otonom untuk mengikuti sugesti tersebut dengan mudah.

Jika orang memiliki masalah karena keterkungkungan sikap mentalnya, maka akan bermanfaat jika untuk sementara waktu kita melumpuhkan keterkungkungan itu dengan bentuk-bentuk guncangan psikologis atau sesuatu yang memberinya kejutan. Orang itu bisa memeriksa ulang situasi mereka melalui proses pencarian bawah sadar yang bekerja otomatis dalam diri mereka. Jika tidak ada jawaban yang memuaskan, terapis bisa menambahkan sugesti sebagai perangsang selama berlangsungnya celah kekosongan sesaat itu, dengan harapan mereka bisa memunculkan respons terapetik.

Guncangan sesaat bisa dimunculkan dalam percakapan terapetik dengan menyisipkan kata-kata yang mengguncangkan, konsep tabu, dan emosi. Kata-kata seperti "seks", "rahasia", dan sebuah bisikan akan sesaat merenggut perhatian, dan pendengar menjadi lebih reseptif. Jeda sejenak setelah guncangan memberi kesempatan bagi berlangsungnya pencarian bawah sadar. Ia bisa diikuti dengan penguatan atau sugesti yang tepat.

Contoh sugesti Milton Erickson untuk mengguncangkan pasiennya:

Kehidupan seks anda...
[jeda]
adalah hal yang benar-benar anda perlu mengetahui dan memahaminya.
Dan apa yang secara diam-diam anda inginkan

[Jeda]
bisa penting sekali bagi anda.
Kautahu, kalian bisa bercerai

[Jeda]
kecuali kalian berdua benar-benar belajar untuk menemukan
apa yang berharga dalam hubungan kalian.


Guncangan dalam kata-kata yang dicetak miring dalam contoh ini merangsang berlangsungnya pencarian bawah sadar yang bisa menghasilkan respons penting sepanjang waktu jeda. Jika ada indikasi bahwa pasien asyik masyuk ke dalam pencarian bawah sadarnya, terapis sebaiknya memilih diam sampai pasien memunculkan respons dalam bentuk apa pun. Jika tidak ada indikasi akan muncul respons tertentu, terapis mengakhiri waktu jeda dengan penguatan atau sugesti, sebagaimana diilustrasikan di atas. Cara paling efektif untuk membuat shock adalah dengan memanfaatkan kerangka rujukan, tabu, dan kebutuhan pasien sendiri untuk membebaskan diri dari pola lama sehingga penataan ulang yang kreatif bisa dijalankan.
 

Hipnosis Uya Kuya dan Romy Rafael: Tentang Trance Pura-pura dan Sugesti yang Tidak Bekerja

| A.S. Laksana | Seorang teman pernah menanyakan apakah aksi yang dipertontonkan oleh hipnotis di layar televisi itu sungguhan atau bohongan...

| A.S. Laksana |

Seorang teman pernah menanyakan apakah aksi yang dipertontonkan oleh hipnotis di layar televisi itu sungguhan atau bohongan. Ia menanyakan itu sebab, menurutnya, apa yang dipertunjukkan oleh para hipnotis di layar televisi terlalu berlebihan dan kadang seperti mengada-ada.

Saya tanyakan apa maksudnya. Ia bilang tidak percaya pada pertunjukan Uya Kuya. “Orang dalam keadaan trance tidak mungkin menjawab pertanyaan hipnotis selancar itu,” katanya. “Itu jawaban orang sadar. Lagipula saya pernah melihat dalam salah satu pertunjukan Uya Kuya, salah satu subjeknya menanyakan, ‘Apa?’ ketika ia tidak terlalu jelas menangkap pertanyaan yang diajukan oleh hipnotis.”

Terhadap keraguannya, saya mencoba netral saja. “Bagaimanapun, itu hanya pertunjukan,” kata saya. “Tentu saja sebuah pertunjukan harus menampilkan hal-hal yang sensasional, yang menakjubkan, dan aksi-aksi yang selalu berhasil. Kalau pertunjukan di televisi itu menayangkan aksi yang gagal, ia akan menjadi pertunjukan hipnosis yang menggelikan.” (Baca: Sesat Pikir tentang Hipnosis: "Lihat Mata Saya! Lihat Mata Saya!")

Perihal subjek yang menanyakan “Apa?” ketika tidak bisa menangkap jelas pertanyaan Uya Kuya, saya membenarkan pendapatnya. Dalam hipnosis, ketika subjek memasuki kondisi trance, ia menangkap sugesti dengan bawah sadar. Dan bawah sadar memiliki karakter menjalankan apa yang disampaikan kepadanya. Jika sebuah pesan tidak tertangkap jelas olehnya, paling-paling ia akan diam saja. Jika orang itu menanyakan “Apa?”, bisa dipastikan bahwa ia dalam keadaan sadar sepenuhnya.

Jadi saya agak yakin bahwa subjek Uya Kuya dalam pertunjukan yang dimaksudkan itu pastilah tidak dalam keadaan trance. Pikiran sadarnya masih sepenuhnya aktif. Kemungkinannya, ia hanya berpura-pura trance. Maka tidak aneh bahwa ia bisa menjawab dengan amat lancar.

Hal lain yang dipersoalkan oleh teman saya adalah keampuhan sugesti hipnotik Romy Rafael. Di layar televisi Romy Rafael sangat ampuh. “Ia bahkan bisa membuat seorang perempuan bertubuh kurus dan kecil dan tampak lemah menjadi mampu membengkokkan sebatang besi,” katanya. “Itu mengagumkan, tetapi saya tidak terlalu yakin dengan peragaan itu. Kalau hipnosis bisa membuat seorang perempuan kurus menjadi bionic woman, maka tentu si hipnotis bisa juga mensugesti seorang pengemis yang kering kerontang untuk merobohkan Tembok Besar Cina.”

Lagi-lagi saya hanya bisa bilang bahwa itu cuma hiburan yang harus terus-menerus menawarkan sensasi agar tetap bisa menghibur penonton. Tapi kali ini ia tidak puas atas jawaban saya.

Usut punya usut, rupanya ia pernah menjajal sugesti hipnotik Romy Rafael untuk dirinya sendiri. Itu rekaman skrip yang ia dapatkan dari buku “Quit Smoking” karangan Romy Rafael. Teman saya itu seorang perokok berat dan bisa menghabiskan lebih dari 2 bungkus rokok dalam sehari. Ia bilang, ketika ia berniat mendengarkan skrip tersebut, ia memang sama sekali tidak dalam keadaan ingin berhenti merokok, dan ia memang tidak ingin berhenti merokok hingga sekarang. Menurut pengakuannya, skrip tersebut membosankan dan hanya menyampaikan hal-hal yang ia sudah tahu.

Kawan saya ini bukan hipnotis dan tidak banyak memahami hipnosis. Mungkin, ketika ia memutuskan membeli buku "Quit Smoking" (dengan bonus CD audio), pikiran sadarnya mengatakan bahwa ia tidak ingin berhenti merokok, atau hanya ingin coba-coba saja apakah skrip untuk berhenti merokok punya efek pada orang yang pada saat itu tidak ingin berhenti. Namun, saya berasumsi bahwa ada keputusan bawah sadar yang tidak ia sadari. Jjika ia benar-benar tidak ingin berhenti merokok, kenapa ia membeli buku itu? Kenapa ia mendengarkan rekaman skrip itu? Itu mungkin keputusan bawah sadarnya, yang tidak diketahui oleh pikiran sadar.

Menurut saya, jika ia mendapatkan "pengetahuan" yang tidak pernah terpikirkan olehnya tentang rokok, kemungkinan besar ia bisa menghentikan kebiasaannya merokok meskipun semula ia mengaku hanya coba-coba mendengarkan skrip hipnosis itu. Ia tidak mendapatkan efek apa pun karena, seperti pengakuannya sendiri, skrip itu "hanya menyampaikan hal-hal yang sudah ia ketahui."

Reframing yang efektif untuk mewujudkan perubahan perilaku, anda tahu, sering terjadi ketika seseorang mendapatkan wawasan atau cara pandang baru yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Dan itu tergantung pada kepiawaian hipnotis untuk menggali apa yang tak terpikirkan oleh subjek, bukan pada skrip baku yang dihafalkan atau direkam. Mengutip Milton Erickson, bagaimanapun yang terpenting dalam hipnosis bukanlah sugesti yang disodorkan oleh hipnotis, melainkan respons subjek atas sugesti tersebut.

Baca artikel terkait: Sugesti, Perangkat Utama Hipnotis

 


Merancang "Pertandingan" dengan Subjek

| A.S. Laksana | Dalam sesi hipnoterapi, Milton Erickson sering merancang pertandingan dengan subjek atau pasien-pasiennya. Ia menyampaikan ...

| A.S. Laksana |

Dalam sesi hipnoterapi, Milton Erickson sering merancang pertandingan dengan subjek atau pasien-pasiennya. Ia menyampaikan sugesti sedemikian rupa agar muncul dorongan kuat dalam diri si pasien untuk memenangi pertarungan melawan sang hipnotis.

Satu contoh, misalkan hipnotis menghadapi subjek yang ingin berhenti merokok. Saya kira penting untuk tahu betul motivasi seseorang berhenti merokok. Apakah ia ingin lebih menyelamatkan keuangannya? Apakah ia ingin lebih sehat? Apakah karena orang lain memaksa dia berhenti merokok? Apakah karena ada kecemasan tertentu untuk melanjutkan kebiasaan merokok? Bagaimana ia pertama kali memutuskan merokok? Dan apa dorongannya sekarang untuk berhenti merokok? Apa yang dirasakannya ketika ia menyulut sebatang rokok? Apa yang dirasakannya ketika ia mengisap rokoknya? Apa perasaan terbaiknya ketika ia merokok? Apakah ia sudah pernah mencoba berhenti merokok sebelum ini dan berapa lama ia berhasil menghentikan kebiasaannya? Dan sebagainya.

Itu hal-hal yang bisa didalami ketika anda berhadapan dengan subjek, untuk menemukan akar yang menyebabkan kecanduannya merokok dan apa yang membuatnya ingin berhenti merokok. Namun kadang-kadang orang tidak perlu tahu apa akarnya untuk sekadar berhenti merokok. Itu terjadi jika ada paksaan dari luar, misalnya ketika ia mendapatkan larangan dokter. Orang bisa berhenti begitu saja ketika dokter melarangnya merokok. Banyak orang yang berhenti merokok seketika karena larangan dokter. Atau pada bulan puasa. Bahkan pecandu rokok yang paling parah pun, jika ia menjalankan puasa, akan berhenti merokok beberapa jam selama ia menjalankan puasanya.

Artinya, dalam keseharian, sesungguhnya orang punya pengalaman tentang berhenti merokok tanpa peduli apa akar yang menyebabkan ia merokok. Dan itu terjadi ketika ada "paksaan" dari luar yang tidak bisa ia tolak. Dalam situasi tanpa paksaan dari luar, tentu saja orang perlu mengembangkan motivasi yang kuat untuk menghentikannya. Di sinilah hipnosis bisa berperan, yakni untuk memperkuat motivasi orang berhenti merokok.

Pendekatannya bisa bermacam-macam sesuai dengan individualitas masing-masing orang. Dalam pengalaman saya, para pecandu, entah rokok atau apa pun, biasanya adalah tipe orang-orang yang susah diberi saran "baik-baik". Kepada subjek semacam ini, seringkali berguna jika anda menyodorkan situasi "pertandingan". Maksud saya, anda perlu menyinggung egonya dan membuatnya bertanding dengan anda. Ragukan kemampuannya untuk mewujudkan apa yang ia inginkan. Ragukan bahwa ia benar-benar bisa menghentikan kebiasaannya merokok.

Anda bisa menantangnya dengan mengatakan, saat ia trance, misalnya: "Saya bisa membantu anda berhenti merokok, tetapi resep saya sulit sekali dan saya tidak yakin anda sanggup menjalankannya. Saya betul-betul tidak yakin anda memiliki kesanggupan menjalankan apa yang saya sarankan. Karena itu pulang sajalah. Lebih baik kita gunakan waktu kita untuk hal-hal yang lebih produktif. Mungkin anda bisa berhenti merokok lima menit, itu mudah. Berhenti merokok sepuluh menit, itu mudah, tetapi satu jam? Itu tidak mudah. Apalagi satu hari, dua hari, tiga hari. Saya tidak yakin anda bisa berhenti merokok selama seminggu. Anda bilang ingin berhenti merokok, tetapi saya tidak melihat anda sungguh-sungguh punya niat melakukannya. Dan, anda tahu, tentu sangat tidak mudah berhenti merokok selama sebulan, atau dua bulan, apalagi tiga bulan dan seterusnya.

"Saya bisa membantu anda berhenti merokok jika anda betul-betul menginginkan berhenti merokok. Tetapi jika itu hanya satu atau dua hari, apa gunanya? Saya sudah membantu sejumlah orang untuk berhenti merokok selamanya, dan mereka berhasil karena mereka benar-benar sanggup menjalankan resep saya. Sekarang, anda tahu, mereka mengakui bahwa resep saya terlalu berat, tetapi mereka sanggup menjalankannya karena mereka memiliki kehendak yang kuat. Masalahnya dengan anda, saya tidak yakin anda akan sekuat orang-orang itu. Dan saya tahu bahwa sebagian orang terlalu cengeng untuk melakukan sesuatu. Karena itu lebih baik anda pulang, dan jangan datang kemari kecuali anda sepakat menjalankan resep saya. Dan saya tidak akan melanjutkan sesi ini jika anda tidak memiliki kesanggupan untuk menjalankan resep saya."

Anda tahu bawah sadar bekerja seperti kanak-kanak. Jika anda meragukan kanak-kanak, ia akan membuktikan bahwa anda keliru. Dan saya sering menggunakan cara ini dengan hasil yang baik.***

Artikel terkait: Bagaimana Erickson Membalik Pola dan Menantang Pasiennya

 


Teknik "My Friend John": Menghipnotis dengan Menghadirkan Subjek Imajiner

| A.S. Laksana | Penting bagi setiap hipnotis untuk memahami bahwa pada dasarnya tubuh secara otomatis merepons pikiran. Ketika anda membaya...

| A.S. Laksana |

Penting bagi setiap hipnotis untuk memahami bahwa pada dasarnya tubuh secara otomatis merepons pikiran. Ketika anda membayangkan adegan yang menyakitkan, dada anda bisa nyeri atau sesak. Ketika terlintas dalam pikiran anda peristiwa memalukan yang anda alami, pipi anda mungkin memerah. Dan ketika anda mengingat peristiwa yang menyenangkan, anda merasakan kenyamanan.

Memanfaatkan koneksi langsung pikiran dan tubuh ini, Milton Erickson sering memasukkan gambaran tertentu ke dalam pikiran orang dengan menyisipkan contoh-contoh kasus yang menarik dalam ceramah-ceramahnya tentang fenomena hipnotik. Misalnya, ia menceritakan tangan yang bisa mengambang dengan sendirinya (hand-levitation) atau halusinasi inderawi melalui penggambaran yang begitu hidup. (baca: Memanfaatkan Aktivitas Ideomotor untuk Mengatasi Rasa Sakit

Penggambaran semacam itu bisa merangsang proses ideomotor (berkaitan dengan gerakan tubuh) dan ideosensory (berkaitan dengan halusinasi inderawi) di kalangan peserta ceramah tanpa mereka sadari. Karena itu, ketika ia meminta salah satu maju ke depan untuk dijadikan subjek hipnotik, orang itu benar-benar dalam keadaan siap mengangkat tangan atau mengalami halusinasi dengan spontan di tingkat bawah sadar.

Teknik “My-Friend-John” dikembangkan oleh Erickson berdasarkan prinsip ini. John adalah subjek hipnotik imajiner yang seolah-olah duduk di sebelah subjek sesungguhnya. Erickson akan mengarahkan sugesti-sugestinya kepada subjek imajiner itu, dan dengan cara itu ia membawa subjek sesungguhnya memasuki keadaan hipnotik. Atau John sekadar diceritakan dalam obrolan santai Erickson dengan si subjek. Ini dilakukan, misalnya, ketika ia menangani pasien yang mengidap rasa sakit pasca-amputasi (phantom limb). Ia bilang: “John sungguh luar biasa. Dan aku bicara dengannya mengenai pentingnya memiliki perasaan tenteram dalam kaki kayu, lutut kayu, betis kayu.... Merasakannya hangat. Dingin. Santai.... Anda bisa saja mengidap simptom kegembiraan pasca-amputasi.”

Prosedur semacam ini juga bekerja efektif pada pasien resisten. Dalam hal ini kita bisa mengepung subjek resisten tersebut dengan subjek-subjek yang memiliki penerimaan baik. Proses tanggapan ideodinamik (baik ideomotor maupun ideosensory) akan terjadi secara otomatis dalam diri subjek yang resisten saat itu mendengarkan sugesti dan melihat respons orang lain. Atmosfer hipnotik mempengaruhinya sehingga ia menjadi jauh lebih responsif ketimbang sebelumnya.***

Bacaan terkait: Memanfaatkan Perilaku Ideosensori dalam Terapi



Memusatkan Perhatian Subjek dengan Asosiasi

| A.S. Laksana | Jika anda mempelajari pola sugesti Milton Erickson, anda akan paham bagaimana Erickson selalu memiliki alasan yang masuk ak...

| A.S. Laksana |

Jika anda mempelajari pola sugesti Milton Erickson, anda akan paham bagaimana Erickson selalu memiliki alasan yang masuk akal dengan setiap sugesti yang ia sampaikan. Dalam metode hipnosisnya tidak akan pernah anda jumpai anjuran, baik tersirat maupun harfiah, bahwa anda harus menghafalkan skrip-skrip hipnotik baku.

Milton Erickson menghipnotis orang dan selalu berhasil karena ia sangat memahami perilaku manusia. Karena pemahamannya itulah ia bisa menyampaikan sugesti, dengan cara yang licin, sehingga orang mengikuti setiap sugestinya tanpa merasa sedang didikte. Inilah salah satu kunci efektivitas pola sugesti Milton Erickson: ia selalu mendasarkan setiap sugestinya pada kelaziman perilaku manusia yang mudah kita jumpai dalam pengalaman sehari-hari.

Dalam induksi trance, misalnya, ia tidak akan mengatakan: "Sekarang, pusatkan perhatian anda pada pengalaman batin anda... (atau pada jari telunjuk atau pada bola kristal dan sebagainya)." Ia sangat licin dalam menyampaikan sugesti dan karena itu hipnosisnya menjadi pengalaman natural bagi setiap subjek yang ia tangani. (Baca: 4 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Membuat Subjek Trance)

Salah satu cara Erickson memusatkan perhatian subjeknya adalah dengan asosiasi. "Jika kita berniat mendorong orang lain membicarakan ibunya," kata Erickson, "cara paling mudah adalah kita membicarakan ibu kita sendiri atau ibu secara umum."

Itu hal yang selalu terjadi dalam keseharian kita. Jika kita ngobrol dengan teman, dan kita membicarakan pengalaman masa kecil, maka biasanya teman kita akan terdorong untuk membicarakan juga masa kecilnya dan tiba-tiba ia bisa mengingat apa saja kejadian di masa kecil.

Dengan cara seperti itulah, perhatian subjek difokuskan dan ia pun akan spontan terbawa untuk menceritakan ibunya (jika hipnotis membicarakan ibu). Tak akan terjadi penolakan sadar olehnya, sebab hipnotis tidak menyodorkan permintaan tertentu kepadanya.

Erickson biasa menyisipkan keterangan atau menyampaikan cerita-cerita dan anekdot dalam percakapan santai dan menyenangkan. Kadang cerita-cerita itu tampak tidak saling berkaitan, tetapi sesungguhnya memiliki kesamaan tema atau kesamaan asosiasi yang relevan dengan masalah pasiennya. (Baca: Sugesti Interspersal: Apakah Sugesti Hipnotis Selalu Membutuhkan Trance?)

Bagaimana jika pasien tidak terpancing atau pancingan itu ternyata keliru? Tidak ada masalah. Paling-paling pasien akan diam saja karena tidak ada hal yang perlu ia bicarakan. Jika pancingan mengena, pasien akan melakukan proses pencarian bawah sadar dan itu akan membuatnya memahami salah satu aspek persoalan dirinya dan menggunakannya untuk menemukan solusi, dalam cara dia sendiri.

Jadi, anda masih tetap berpikir bahwa sugesti hipnotis memiliki kekuatan ampuh seperti mantra seorang dukun?

Bacaan terkait: Sugesti Terselubung

Pertanyaan-Pertanyaan Imbisil tentang Sugesti Hipnotis

| A.S. Laksana | Simaklah pertanyaan-pertanyaan berikut ini: " Apa sugesti hipnotis yang manjur untuk anak bandel agar menjadi penurut ...

| A.S. Laksana |

Simaklah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

"Apa sugesti hipnotis yang manjur untuk anak bandel agar menjadi penurut kepada orang tuanya?" atau "Apa sugesti yang paling efektif untuk menangani pasien yang berkecenderungan bunuh diri?" atau "Apa sugesti yang harus saya sampaikan kepada pasien yang mengidap migren?", dan sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu masih banyak saya temukan di kalangan para pembelajar hipnosis. Jujur saja, itu pertanyaan yang sungguh sangat imbisil. Ia menyamakan sugesti dengan sebuah mantra yang bunyinya harus selalu seperti itu dan si pembelajar itu berharap bahwa ketika sebuah "sugesti ampuh" dibacakan di depan pasien, maka pasien yang sudah sekarat pun akan kembali bugar. (Baca: Sugesti Pascahipnotik)

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering membuat saya jengkel. Pertama, ia menyiratkan bahwa si penanya adalah pembelajar yang malas. Dan kita tidak bisa berharap banyak pada pembelajar yang malas, dalam pembelajaran apa pun, tidak melulu dalam urusan menjadi hipnotis. Banyak sumber yang bisa diperoleh, yang akan menyebutkan bahwa sugesti hipnotik tidak bekerja seperti mantra yang keluar dari mulut seorang dukun atau tukang santet.

Kedua, ia menyamakan hipnosis dengan klenik. Anda tahu, menyamakan sugesti dengan mantra sama sekali tidak patut bagi orang-orang yang mempelajari hipnosis. Saya yakin bahwa orang-orang yang mengajukan pertanyaan seperti ini memutuskan belajar hipnosis kebanyakan karena terpukau oleh pameran cara "ajaib" menidurkan dan mempermainkan orang yang lazim kita jumpai dalam hipnosis panggung.

Ketiga, kalau saya menjawab bahwa untuk memperkuat sugesti hipnotik, mereka perlu bertapa 7 hari 9 malam agar setiap kata yang keluar dari mulut mereka benar-benar memiliki kekuatan ampuh, mereka pastilah akan menuruti saran tersebut.

Saya kira pada dasarnya mereka ingin menjadi dukun dan bukan hipnotis. Mereka tidak pernah berpikir bahwa sugesti hipnotik adalah hal yang sangat masuk akal. Ia adalah saran dari seseorang kepada orang lain yang disampaikan melalui pola komunikasi tertentu yang mem-bypass fungsi pikiran sadar. Karena itulah sugesti hipnotis akan langsung bersinggungan dengan bawah sadar orang. (Baca: Fleksibilitas dalam Induksi Trance)

Dan belajar hipnosis bukanlah belajar menghafalkan sugesti seperti anak-anak menghafal puisi sebelum lomba deklamasi, melainkan belajar memahami kekuatan bahasa dan bagaimana cara paling efektif mengomunikasikan sebuah gagasan. Itulah yang akan membuat perubahan pada seseorang, yakni ketika subjek hipnotik memberikan respons terhadap sugesti yang diberikan kepadanya. Mengutip Erickson, "Yang terpenting bukanlah sugesti yang disampaikan oleh hipnotis, melainkan respons subjek atas sugesti yang ia terima."

Bacaan terkait: Sesat Pikir tentang Hipnosis: "Lihat Mata Saya! Lihat Mata Saya!"

Sugesti Pascahipnotik

| A.S. Laksana | Sugesti pascahipnotik adalah sugesti yang diberikan oleh hipnotis ketika subjek dalam keadaan trance. Secara harfiah, suges...

| A.S. Laksana |

Sugesti pascahipnotik adalah sugesti yang diberikan oleh hipnotis ketika subjek dalam keadaan trance. Secara harfiah, sugesti pascahipnotik berarti sugesti untuk dijalankan nanti setelah subjek dibangunkan dari kondisi hipnotik. Milton Erickson mendefinisikan sugesti pascahipnotik sebagai berikut: "Sugesti pascahipnotik adalah sugesti yang diberikan sekarang, hari ini, di sini, di tempat ini, dalam kondisi trance hipnotik, untuk dilakukan nanti ketika subjek sudah tidak lagi dalam situasi hipnotik."

Dalam hipnosis panggung, anda bisa melihat bagaimana subjek diberi sugesti saat mereka trance untuk menunjukkan perilaku tertentu ketika mereka dibangunkan nanti. Dan ketika subjek dibangunkan, ia segera memperlihatkan perilaku sebagaimana yang disugestikan. Misalnya, mabuk oleh air putih, melihat seseorang tinggal separuh, takut pada boneka beruang, dan sebagainya. (Baca: Bagaimana Hipnotis Memanfaatkan Bawah Sadar Pasien

Dalam terapi, misalnya anda menghadapi pasien yang sedang hamil dan ingin persalinannya nanti berlangsung tanpa rasa sakit. Anda membuatnya trance dan kemudian menyampaikan bagaimana proses melahirkan yang ia inginkan. Apakah ia ingin berpartisipasi dalam proses itu? Apakah ia ingin merasakan nyaman saja tanpa rasa sakit?

Ringkasnya, bagaimana kondisi yang ia inginkan nanti pada saat ia menghadapi persalinan. Apakah ia ingin melihat bayinya segera? Apakah ia ingin membahas hal-hal secara ringan dengan dokter kandungan? Apakah ia ingin merasakan itu momen yang betul-betul menggembirakan karena ia menyambut kehidupan baru?

Jadi, anda membuat subjek anda trance hari ini. Tiga atau enam bulan kemudian ia akan mewujudkan sugesti pascahipnotik itu dan melahirkan bayinya tanpa rasa sakit, atau merasakan kesakitan hanya sebatas yang ia inginkan.***

Bacaan terkait: Penyingkiran Ingatan dan Pemanfaatan Amnesia

Menghadirkan Pengalaman yang Mengubah Perilaku (2)

| A.S. Laksana | Dengan menghadapkan si anak pada pengalaman nyata, demi menghindari pendekatan hukuman, kita bisa membawanya untuk menarik ...

| A.S. Laksana |

Dengan menghadapkan si anak pada pengalaman nyata, demi menghindari pendekatan hukuman, kita bisa membawanya untuk menarik kesimpulan sendiri berdasarkan apa yang ia alami. Dalam kasus anak saya, ia menghadapi risiko kerugian yang harus ia pikul sendiri jika ia tidak mengubah perilakunya. Yang terpenting di sini adalah bahwa ia tidak merasakan adanya perintah atau paksaan ketika ia memutuskan tidur pukul sembilan. Jadi, perubahan perilaku terjadi atas kehendaknya sendiri.

Ia sama sekali tidak mengenali adanya sugesti yang terlibat di dalam perubahan perilakunya itu. Sebuah pengalaman telah memberinya kejutan dan bawah sadarnya tahu bahwa di sana ada “sugesti” yang harus ia ikuti, yakni ia harus bertanggung jawab untuk membangunkan dirinya sendiri. Sebab tidak akan ada lagi orang yang membangunkannya jika ia tidak bangun sendiri. Dan sejak itu ia tahu kapan waktu yang tepat untuk berangkat tidur.

Pada kenyataannya, orang mengalami masalah-masalah psikologis, dalam berbagai kasus, karena pikiran sadarnya tidak tahu bagaimana cara memunculkan pengalaman eksperiensial yang bisa mengatasi masalah itu dan mewujudkan perubahan perilaku pada tingkat yang dikehendaki. Dalam situasi-situasi semacam ini ada banyak pola perilaku yang diharapkan akan bisa mengatasi masalah. Namun semuanya hanya dapat dilakukan dengan bantuan proses bawah sadar, yakni proses yang berlangsung otomatis.

Anda mungkin pernah berusaha keras mengingat satu nama, misalnya ketika anda bercakap-cakap dengan seorang teman. Sampai percakapan berakhir anda tetap tidak berhasil mengingat nama itu. Biasanya, pada saat anda sudah tidak memikirkannya, nama itu bisa muncul dengan sendirinya.

Apa yang terjadi pada saat itu? Jelas bahwa pencarian dimulai di tingkat sadar, yakni ketika anda mulai memeras ingatan anda untuk menemukan nama yang anda lupa itu. Pikiran sadar gagal, tetapi bawah sadar terus melakukan pencarian bahkan setelah pikiran sadar menghentikan upayanya.

Masih banyak contoh lain yang anda alami sehari-hari. Misalnya ketika anda lupa di mana anda menempatkan sesuatu dan anda berusaha keras mengingatnya dan anda tidak ingat sama sekali. Beberapa waktu setelah itu, mungkin beberapa hari kemudian, tiba-tiba anda menemukan begitu saja benda itu ketika anda sudah tidak mencarinya. Dalam kasus-kasus semacam ini, sebuah eksperimen oleh Steinberg (1975) memberikan kesimpulan yang mendukung pandangan bahwa pikiran bawah sadar terus melakukan pencarian rata-rata 30 item per detik, bahkan setelah pikiran sadar berpindah ke hal lain.

Dalam hipnosis, yang anda lakukan adalah memudahkan proses pencarian bawah sadar untuk menemukan sumberdaya yang dimiliki oleh subjek. Dengan itulah ia mengatasi masalahnya.***

Menghadirkan Pengalaman yang Mengubah Perilaku (1)

| A.S. Laksana | Seorang ibu meminta anaknya untuk tidur paling lambat pukul sepuluh malam setiap hari. “Pokoknya Ibu tidak mau tahu, jam se...

| A.S. Laksana |

Seorang ibu meminta anaknya untuk tidur paling lambat pukul sepuluh malam setiap hari. “Pokoknya Ibu tidak mau tahu, jam sepuluh kau harus tidur,” katanya. Tetapi si anak agaknya tidak setuju pada permintaan tersebut. Ketidaksetujuan itu tampak jelas dari respons si anak yang enggan menuruti permintaan ibunya. Anak itu kelas satu SD dan tidur sekamar dengan kedua orang tua dan seorang adiknya; dan ia sangat menikmati momen bermain-main di kamar sebelum tidur.

Hal itu mengakibatkan ia sering tidur larut malam, bahkan kadang sampai pukul sebelas atau setengah dua belas malam. Ibunya jengkel menghadapi kebiasaan anaknya itu. Karena selalu tidur larut, paginya si anak menjadi sulit dibangunkan. Kadang-kadang si ibu bahkan menyuapkan sarapan ketika anaknya baru setengah bangun dan belum sepenuhnya sadar. Puncak kejengkelan si ibu adalah ketika ia mendapat laporan bahwa sudah beberapa hari belakangan si anak selalu tertidur di kelas ketika pelajaran berlangsung.

“Gurumu bilang kau tertidur di kelas,” kata si ibu. “Kau tidak malu?”

“Aku tiba-tiba tertidur sendiri,” kata si anak.

“Kau mengantuk karena tidurmu selalu kemalaman,” kata si ibu.

“Sebetulnya aku tidak mau tidur di kelas, tapi aku tertidur sendiri,” kata si anak.

“Mulai sekarang kalau kau tidak tidur pukul sepuluh, aku tidak akan membangunkanmu,” kata si ibu.

Setelah itu, si anak masih tidur seperti biasa, di atas pukul sepuluh malam. Si ibu, meskipun mengancam tidak akan membangunkan, tetap saja membangunkan si anak pada pukul setengah enam pagi. Dan anak itu masih beberapa kali tertidur di kelas.

Saya bilang kepada si ibu bahwa ia hanya perlu membuktikan ancamannya.

Hal lainnya, ada perbedaan cara pandang antara si ibu dan anaknya. Tidur di kelas bukan hal yang membuat anak itu malu. Ibunyalah yang malu. Di samping itu, si anak juga tahu, dari pengalaman yang sudah-sudah, bahwa ibunya hanya suka mengancam tetapi tidak benar-benar menjalankan ancamannya, semarah apa pun dia. Jadi, kenapa harus tidur pukul sepuluh malam? Tidur pukul berapa pun tidak ada masalah; ibunya selalu akan membangunkan dia tiap pagi pukul setengah enam seperti biasa.

Namun, persoalannya menjadi lain ketika si ibu suatu hari benar-benar membuktikan ancamannya: ia membiarkan saja anaknya bangun sendiri dan hanya menunggu pada pukul berapa anak itu membuka mata. Malamnya anak itu baru tidur setelah lewat pukul sebelas. Eok paginya, ia baru bangun pukul tujuh lewat. Hari itu si anak tidak berangkat sekolah karena bangun kesiangan. Ia tampak bingung dan takut-takut. Itu untuk pertama kaliya ia tidak berangkat ke sekolah, sementara ia punya reputasi bagus dalam hal tidak pernah sekalipun absen. Ia bahkan memaksa tetap masuk sekolah kendati pada suatu hari badannya sedikit demam dan ibunya meminta ia tidak usah masuk.

Jadi, hari itu rekor bagusnya tercoreng akibat ia bangun kesiangan. Itu kesalahannya sendiri. Namun, kejadian itu memberi si anak pengalaman nyata tentang akibat buruk apabila ia tidak mau mengubah kebiasaannya tidur malam. Dan strategi “memberi pengalaman nyata” itu bekerja efektif. Peristiwa itu sungguh mengejutkan bagi si anak. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa ia akan benar-benar dibiarkan saja bangun kesiangan.

Kepadanya lalu diberitahukan, pada siang hari ketika ia masih tampak seperti orang linglung "Kau tahu, Nak, anak SD biasanya tidur selama delapan jam," kata ayahnya. "Itu tidur yang sehat bagi anak SD. Jadi kalau kau tidur pukul sebelas malam, maka kau akan bangun pukul tujuh pagi. Seperti yang terjadi padamu hari ini, kan?" Selanjutnya si ayah menyampaikan bahwa ia perlu tidur pukul sembilan malam jika menghandaki bangun pukul lima pagi; tidur pukul sepuluh, bangun pukul enam; tidur pukul sebelas, dan ia akan bangun kesiangan lagi.

“Dan kau lebih suka bangun pukul berapa?” tanya ayahnya.

“Lima,” jawabnya.

“Maka kau sudah tahu pukul berapa kau perlu tidur.”

“Sembilan.”

“Begitulah, kau hanya perlu tidur tepat waktu agar bisa bangun tepat waktu.”

Sejak itu, atas kehendaknya sendiri, ia berangkat tidur pada pukul sembilan. Dan pada hari pertama ia bangun pukul lima, ia bahkan memberi bonus kejutan: ia mandi sendiri dengan air dingin. Dan sebuah kejutan rupanya hanya terjadi sekali. Hari-hari sesudahnya, ia tetap lebih suka dimandikan oleh ibunya, sekalipun sampai beberapa hari kemudian ia masih bangga menceritakan pengalamannya mandi pagi sendiri dengan air dingin.

“Tahu nggak, Pak,” katanya kepada ayahnya, “waktu aku bangun jam lima, aku mandi sendiri. Kau belum bangun, ibu belum bangun, dan aku mandi dengan air dingin. Segar sekali mandi dengan air dingin.”

***

Yah, itu kasus anak saya sendiri. Persoalannya tampak sepele saja, yakni bagaimana meminta seorang anak tidur pada pukul sembilan malam. Ada banyak cara bagi anda, dalam posisi anda sebagai orang tua, untuk memastikan bahwa perintah anda dituruti. Anda bisa memberinya hukuman, misalnya menyetop uang saku bagi si anak jika ia tidak menuruti permintaan anda. Anda juga bisa menjewer telinganya atau mencubit pahanya setiap kali jam dinding di kamar menunjukkan waktu pukul sembilan dan ia belum tidur, atau mengurungnya di dalam kamar seharian. Setelah beberapa kali mendapatkan perlakuan seperti itu, ia akan menjadi tahu cara menghindari jeweran atau cubitan atau menghindari dikurung dalam kamar seharian, yakni dengan mematuhi perintah anda dan ia akan tidur pukul sembilan.

Hanya saja saya khawatir menjalankan itu. Hukuman sebagai “sugesti” bisa memunculkan respons lain di samping kepatuhan: mungkin si anak akan menarik kesimpulan dan meyakini, melalui proses mental bawah sadar, bahwa ia akan dihukum jika mengerjakan hal-hal yang ia sukai. Ia tidak bisa melawan hukuman itu karena ia hanya anak kecil. Terus terang, saya sama sekali tidak menghendaki anak saya menyimpan keyakinan negatif semacam itu.***

Apakah Sugesti Hipnotis Selalu Membutuhkan Trance?

| A.S. Laksana | Jawabannya menurut Ericksonian Hypnosis: tidak! Dalam pendekatan konvensional dengan sugesti langsung, seorang hipnotis bia...

| A.S. Laksana |

Jawabannya menurut Ericksonian Hypnosis: tidak!

Dalam pendekatan konvensional dengan sugesti langsung, seorang hipnotis biasanya cenderung mengulang-ulang sugesti yang sama terus-menerus. Upaya ini tampaknya dimaksudkan untuk membuat pemrograman baru atau memperkuat kesadaran orang terhadap satu ide tertentu. Karena itu repetisi dianggap sangat perlu dilakukan. Tentu saja pemrograman langsung semacam ini bisa benar-benar mempengaruhi perilaku (misalnya pada iklan), namun ia tidak memungkinkan untuk menggali dan memfasilitasi potensi unik si pasien.

Milton Erickson menjelaskan bahwa pola sugesti interspersal (penyisipan), yang disampaikan dalam cara nonrepetitif, justru sangat penting dalam penyampaian sugesti. Pendekatan ini memungkinkan berlangsungnya penyampaian sugesti dalam cara yang sesuai bagi proses bawah sadar pasien. Anda bisa menyisipkan, dalam satu kalimat, sebuah kata yang merangsang asosiasi pasien:

"Kau bisa menyampaikan perasaan itu sebebas-bebasnya sebagaimana yang kau inginkan."

Sisipan sebebas-bebasnya mengasosiasikan daya positif kebebasan dengan perasaan pasien yang mungkin tertekan. Ia bisa membantu pasien untuk bebas merasakan apa yang benar-benar ingin mereka ungkapkan. Di sini individualitas pasien dihargai, sebab mereka bisa bebas memilih. Erickson tak jarang menjalankan terapi dengan menyisipkan kata-kata dan konsep-konsep yang mensugestikan kenyamanan, yang disesuaikan dengan kerangka acuan pasien itu sendiri, sehingga penyembuhan bahkan bisa berlangsung tanpa induksi formal untuk menjadikan pasien trance.

Dua aspek dalam pendekatan interspersal adalah teknik memusatkan perhatian dengan asosiasi (indirect associative focusing) dan memusatkan perhatian pada proses ideodinamik (indirect ideodynamic focusing).