| A.S. Laksana | Penting bagi setiap hipnotis untuk memahami bahwa pada dasarnya tubuh secara otomatis merepons pikiran. Ketika anda membaya...

Teknik "My Friend John": Menghipnotis dengan Menghadirkan Subjek Imajiner

7:37 PM A.S. Laksana 1 Comments

| A.S. Laksana |

Penting bagi setiap hipnotis untuk memahami bahwa pada dasarnya tubuh secara otomatis merepons pikiran. Ketika anda membayangkan adegan yang menyakitkan, dada anda bisa nyeri atau sesak. Ketika terlintas dalam pikiran anda peristiwa memalukan yang anda alami, pipi anda mungkin memerah. Dan ketika anda mengingat peristiwa yang menyenangkan, anda merasakan kenyamanan.

Memanfaatkan koneksi langsung pikiran dan tubuh ini, Milton Erickson sering memasukkan gambaran tertentu ke dalam pikiran orang dengan menyisipkan contoh-contoh kasus yang menarik dalam ceramah-ceramahnya tentang fenomena hipnotik. Misalnya, ia menceritakan tangan yang bisa mengambang dengan sendirinya (hand-levitation) atau halusinasi inderawi melalui penggambaran yang begitu hidup. (baca: Memanfaatkan Aktivitas Ideomotor untuk Mengatasi Rasa Sakit

Penggambaran semacam itu bisa merangsang proses ideomotor (berkaitan dengan gerakan tubuh) dan ideosensory (berkaitan dengan halusinasi inderawi) di kalangan peserta ceramah tanpa mereka sadari. Karena itu, ketika ia meminta salah satu maju ke depan untuk dijadikan subjek hipnotik, orang itu benar-benar dalam keadaan siap mengangkat tangan atau mengalami halusinasi dengan spontan di tingkat bawah sadar.

Teknik “My-Friend-John” dikembangkan oleh Erickson berdasarkan prinsip ini. John adalah subjek hipnotik imajiner yang seolah-olah duduk di sebelah subjek sesungguhnya. Erickson akan mengarahkan sugesti-sugestinya kepada subjek imajiner itu, dan dengan cara itu ia membawa subjek sesungguhnya memasuki keadaan hipnotik. Atau John sekadar diceritakan dalam obrolan santai Erickson dengan si subjek. Ini dilakukan, misalnya, ketika ia menangani pasien yang mengidap rasa sakit pasca-amputasi (phantom limb). Ia bilang: “John sungguh luar biasa. Dan aku bicara dengannya mengenai pentingnya memiliki perasaan tenteram dalam kaki kayu, lutut kayu, betis kayu.... Merasakannya hangat. Dingin. Santai.... Anda bisa saja mengidap simptom kegembiraan pasca-amputasi.”

Prosedur semacam ini juga bekerja efektif pada pasien resisten. Dalam hal ini kita bisa mengepung subjek resisten tersebut dengan subjek-subjek yang memiliki penerimaan baik. Proses tanggapan ideodinamik (baik ideomotor maupun ideosensory) akan terjadi secara otomatis dalam diri subjek yang resisten saat itu mendengarkan sugesti dan melihat respons orang lain. Atmosfer hipnotik mempengaruhinya sehingga ia menjadi jauh lebih responsif ketimbang sebelumnya.***

Bacaan terkait: Memanfaatkan Perilaku Ideosensori dalam Terapi


1 comment:

  1. Sungguh ide cemerlang mas, terima kasih untuk pencerahannya..

    Salam Antusias
    RENDI

    ReplyDelete