| A.S. Laksana | Di sebuah forum hipnosis online yang saya ikuti, ada seorang anggota menyampaikan masalahnya tentang sesi hipnoterapi yang ...

Sugesti Hipnoterapis yang Menyesatkan Kliennya

7:08 AM A.S. Laksana 2 Comments

| A.S. Laksana |

Di sebuah forum hipnosis online yang saya ikuti, ada seorang anggota menyampaikan masalahnya tentang sesi hipnoterapi yang ia jalani dengan seorang terapis untuk menyingkirkan sebuah simptom. Dalam beberapa sesi, menurut ceritanya, ia ditidurkan dan diberi sugesti-sugesti, tetapi pada saat itu pikirannya tidak tertuju pada apa yang dikatakan oleh terapis. “Pikiran saya malah ke mana-mana,” katanya.

Karena terus seperti itu, sesi mereka tidak mengalami kemajuan, dan terapis kemudian mengatakan bahwa kliennya ini tidak bisa dihipnotis. Selanjutnya, sesi akan dijalankan dengan waking trance (itu istilah yang disebut oleh si terapis).

Saya mengusulkan kepada klien (yang menjadi anggota forum) agar menyetop saja urusannya dengan terapis yang menanganinya. Pertimbangan saya, terapisnya sudah berlaku ceroboh dengan memunculkan masalah baru pada klien, yakni dengan menanamkan sugesti bahwa klien tidak bisa dihipnoterapi. Itu fatal dan saya yakin itu sangat keliru.

Dari pengakuan yang disampaikan oleh klien (jika memang benar-benar seperti itu), saya menduga bahwa terapis menerapkan teknik yang ia kuasai (mungkin teknik andalannya), dan ketika teknik tersebut gagal membawa kliennya benar-benar memasuki deep trance, karena pikiran klien masih ke mana-mana, ia lantas menyimpulkan bahwa klien tidak bisa dihipnoterapi.

Efek buruknya adalah, jika sesi dengan terapis itu terus-menerus gagal, klien akan mengembangkan keyakinan bahwa ia memang tidak bisa dihipnoterapi. Dan dengan keyakinan semacam itu, besar kemungkinan ia akan mengembangkan resistensi terhadap hipnosis dan hipnoterapi pada waktu-waktu selanjutnya.

Selain ceroboh, apa yang disampaikan oleh terapis mengenai kondisi kliennya juga bisa menjadi sugesti yang menyesatkan. Hanya karena tekniknya gagal, seorang terapis lantas menyimpulkan dan menyampaikan penilaiannya kepada klien bahwa ia tidak bisa dihipnotis. Saya kira setiap terapis harus paham bahwa hipnoterapi adalah pendekatan yang mengutamakan kebutuhan klien, bukan mengutamakan kebutuhan terapis (dengan cara memaksakan agar klien tunduk pada pendekatan yang ia gunakan).

Semestinya terapis itulah yang menyesuaikan pendekatannya dengan mempertimbangkan kebutuhan subjektif klien. Pada dasarnya setiap orang, asalkan ia bisa mencerna dan memahami komunikasi, pastilah bisa dihipnotis. Ada yang bisa cepat memasuki trance, ada yang memerlukan waktu lebih lama. Namun, setiap pendekatan yang tepat akan memberikan hasil yang diinginkan, bagi terapis maupun kliennya.

Kasus ini membuktikan bahwa tidak ada satu teknik yang berlaku umum, dan sugesti bukanlah mantra atau obat tidur yang bisa digunakan untuk semua orang atau bahkan orang yang sama dalam situasi berbeda, atau simptom yang sama pada orang yang berbeda. Sekali lagi, yang utama dalam hipnosis bukanlah sugesti yang disampaikan oleh terapis, tetapi respons yang dikembangkan oleh subjek ketika menerima sugesti.

Dan agar sugesti anda mendapatkan respons yang dikehendaki, tentu saja anda perlu meningkatkan kecakapan dan pemahaman, tentang hipnosis, dan tentang perilaku manusia. Pendekatan yang anda gunakan mestinya adalah pendekatan yang paling bisa menjawab kebutuhan subjektif klien, sehingga klien merasa benar-benar nyaman menjalani sesi hipnoterapi dan ia bisa mengembangkan respons terapetik yang diinginkan.

Bacaan terkait:
4 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Membuat Subjek Trance
Menghargai Pencapaian Aktual Subjek
Bagaimana Hipnotis Memanfaatkan Perilaku Spontan Subjek

2 comments:

  1. Well, It's this is about competent thank's Mas AS

    ReplyDelete
  2. salah mas as sambil ngelamun nulisnya hehe

    Salam
    RENDI

    ReplyDelete