Showing posts with label Ericksonian Hypnosis. Show all posts

The Art of Misunderstanding

| 6 April 2018 | BANYAK hal memukau dari Milton Erickson yang bisa anda pelajari dan anda tiru melalui contoh-contoh kasus yang pernah ...

| 6 April 2018 |


BANYAK hal memukau dari Milton Erickson yang bisa anda pelajari dan anda tiru melalui contoh-contoh kasus yang pernah ia tangani. Dan saya kira penting bagi anda untuk mengkaji bagaimana Erickson melakukan apa saja yang telah ia lakukan untuk menghadirkan keajaiban terapetik. Ia sungguh licin dalam menghadapi pasien-pasiennya. Memahami bagaimana cara Erickson bekerja tentunya akan menambah wawasan anda. (Baca: Bagaimana Erickson Membawakan Sugestinya)

Ia banyak akal dan dengan itu ia bisa mengajarkan kepada klien-kliennya bagaimana cara mengatasi situasi yang menekan dan membalikkan keadaan. Salah satu teknik yang ia ajarkan adalah kecakapan untuk—secara sengaja—melakukan kesalahpahaman (the art of misunderstanding). Hal ini ia sampaikan dalam percakapan di tahun 1957 dengan Jay Haley, seorang hipnotis yang ketika itu melakukan penelitian psikoterapi dan sekaligus ingin banyak belajar dari Erickson tentang bagaimana ia menangani pasien-pasiennya.

Salah satu diskusi mereka adalah tentang seorang istri yang mengembangkan simptom “kehilangan suara” ketika hubungannya dengan suami ia rasakan sangat menekan. Riwayat singkat hubungan suami-istri itu sebagai berikut:

Setiap kali perempuan itu berdebat dengan suaminya, si suami selalu akan meninggalkan ruangan di tengah-tengah perdebatan, kembali lagi beberapa waktu kemudian, dan berbicara seolah-olah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Hal ini menyebabkan perempuan itu merasa bahwa apa pun yang dikatakannya, itu semua tak akan bisa mengubah keadaan. Suaminya akan selalu begitu dan lelaki itu memenangi pertempuran dengan cara seperti itu, sementara perempuan itu hanya bisa menyimpan kedongkolan karena merasa semua ucapannya sia-sia. Maka, jelas di sini bahwa tujuan bawah sadar dari simptom “kehilangan suara” yang dikembangkan oleh perempuan itu adalah untuk mengalahkan suaminya dengan cara yang tidak bisa diprotes atau dilawan oleh suaminya.

“Ini salah satu kasus yang kutangani dan aku ingin tahu bagaimana sekiranya kau yang harus menanganinya,” kata Jay Haley.

“Aku akan memberitahu perempuan itu bagaimana caranya bertindak tolol,” kata Erickson, “yakni dengan menyampaikan hal-hal yang tidak tepat. Dengan kata lain, aku akan mengajarkannya the art of misunderstanding.”

“Oya? The art of misunderstanding?”

“Contohnya begini, aku sedang berjalan tergesa-gesa di lorong kampus menuju ruang kelas dan menabrak seseorang di lorong itu. Orang itu mengatakan, ‘Brengsek! Jalan pecicilan nggak pakai mata!’ dan aku berhenti sebentar, melihat arlojiku, dan mengatakan, ‘Jam dua seperempat.’ Setelah itu terus melanjutkan jalan. Apa yang bisa dilakukan orang itu? Ia hanya bisa berdiri melongo, tak bisa lagi memaki. Kurasa ia benar-benar tak bisa apa-apa saat itu.”

Tentang perempuan yang mengidap simptom “kehilangan suara”, Erickson mengatakan bahwa ia akan mengajari perempuan itu bagaimana memenangi pertempuran dengan cara yang lebih sehat dan tidak harus kehilangan suara. Dan itu bisa dilakukan dengan meminta perempuan itu memperhatikan setiap isyarat kecil yang biasa diperlihatkan oleh suaminya beberapa saat menjelang ia meninggalkan ruangan. Dengan memperhatikan isyarat-isyarat kecil itu, ia bisa mengatakan, “Sekarang giliranku yang keluar ruangan,” dan segera meninggalkan suaminya sendirian sebelum lelaki itu sempat menjalankan kebiasaannya. Dengan demikian, perempuan itulah yang memegang kendali untuk memotong perdebatan. Dan ia juga menentukan kapan mengakhiri perdebatan itu.

“Kau mengajarinya cara memenangi pertarungan?”

“Cara mengelola hubungan. Dan dari sana mereka akan melakukan penyesuaian. Ketika kau memberi tahu seorang istri bagaimana cara menangani suaminya, pada dasarnya kau sedang menunjukkan kepada perempuan itu bagaimana mengubah hubungan yang mengecewakan, di mana ia merasa direndahkan, menjadi hubungan yang lebih setara di mana ia bisa mengendalikan suaminya.

“Singkatnya begini, misalkan ada seorang perempuan datang mengeluh bahwa setiap kali ia ribut dengan suaminya mengenai satu masalah, si suami hanya mendengarkan, kemudian keluar dan mengisap rokoknya di halaman. Lelaki itu akan kembali setelah selesai merokok dan bertindak seolah-olah tidak ada masalah. Untuk kasus semacam itu, kepada perempuan tersebut aku bisa mengatakan, ‘Bukankah kau merawat bunga-bunga di pekarangan depan?’ Lalu aku akan memintanya memperhatikan suaminya baik-baik, memperhatikan kebiasaan yang berkembang dalam situasi seperti itu. Ketika suaminya mulai mengeluarkan rokok, perempuan itu tahu bahwa suaminya sebentar lagi akan keluar ke halaman. Pada saat itu, sebelum suaminya keluar, ia bisa mengatakan bahwa sekarang gilirannya untuk keluar. Ia mencintai bunga-bunga dan menikmati bunga-bungamu, dan saat itu ia bisa keluar untuk memetik bunga-bunga yang ia cintai. Setelah itu ia bisa kembali ke ruangan dan melakukan hal yang lebih baik dibandingkan apa yang biasa dilakukan oleh suaminya.”

“Dan apa cara yang lebih baik itu?”

“Aku menyarankan perempuan itu keluar menikmati bunga-bunga. Mereka, bunga-bunga di halaman itu, adalah bagian dari dirinya. Ia yang menanam, merawat, dan menumbuhkan mereka. Ia bisa benar-benar menikmati bunga-bunga itu dan memetik beberapa kuntum.”

Maka, anda tahu, dalam kasus di atas Erickson menjalankan terapinya dengan strategi yang akan membuat perempuan itu tidak sekadar bisa membalas perlakuan suaminya demi menyamakan skor. Melalui pendekatan tak-langsung yang ia terapkan, Erickson justru menggeser isunya bukan lagi pada pertarungan suami-istri yang sejauh ini menyebabkan perempuan itu mengembangkan simptomnya, tetapi bagaimana kliennya bisa menikmati bunga-bunga yang ia rawat dengan penuh kesungguhan. Dalam hal ini keberhasilan perempuan itu membuat suaminya bertekuk lutut hanya ia tempatkan sebagai hasil sampingan dari situasi keseluruhan. Dan situasi keseluruhan itu adalah si perempuan keluar untuk menikmati bunga-bunga, menikmati apa yang ia cintai, menikmati kehidupannya. Dan selanjutnya ia bisa kembali ke ruangan dengan beberapa kuntum bunga di tangan dan menempatkan bunga-bunga itu dalam vas, dan itu sebuah tindakan yang bisa memberikan kepuasan total kepadanya.

Ini cara yang berbeda sekali dibandingkan apa yang biasa dilakukan oleh suaminya. Lelaki itu membuat istrinya terpuruk dalam perdebatan dengan keluar ruangan, yang memberi kesan bahwa ia tak peduli pada apa pun yang diucapkan oleh istrinya, dan masuk lagi dengan mulut tetap terkunci untuk mengakhiri perdebatan. Sementara itu sang istri membuat suaminya tak berdaya dengan keluar ruangan. Lalu ia kembali lagi dengan bunga-bunga yang kemudian ia rangkai di dalam vas. Ini sungguh cara kembali yang berbeda. Dan itu membuat suaminya lebih terpuruk lagi. Istrinya tak sekadar masuk lagi untuk mengakhir perdebatan, tetapi ia kembali ke ruangan dan memperindah ruangan mereka dengan bunga-bunga kesukaannya.

Dengan cara ini, Erickson mengajarkan kepada kliennya bagaimana cara membalik keadaan dalam langkah yang positif. Dengan cara ini pula ia membereskan simptom yang diidap oleh pasiennya. Prinsipnya, jika perempuan itu tahu cara yang lebih sehat dalam menangani suaminya, ia sama sekali tidak memerlukan simptom “kehilangan suara” yang jelas mengandung keputusasaan di dalamnya. Tidak hanya keputusasaan dalam hubungannya dengan suami, tetapi keputusasaan dalam seluruh wilayah kehidupan.***

A.S. Laksana
Penulis
Pola Sugesti dan Strategi Terapi Milton Erickson
The Art of Ericksonian Hypnosis


Bacaan terkait: Struktur Terapi

Ia bilang: Saya tidak bisa dihipnotis

| 3 April 2018 | KAMI bertemu dan ia mengatakan: Saya tidak bisa dihipnotis. Umurnya mungkin lima tahun di bawah saya. Ia mengen...

| 3 April 2018 |



KAMI bertemu dan ia mengatakan: Saya tidak bisa dihipnotis.

Umurnya mungkin lima tahun di bawah saya. Ia mengenakan baju putih dan celana jins biru. Beberapa hari sebelumnya kami berkontak lewat pesan singkat dan ia menceritakan sudah menemui beberapa praktisi hipnosis, tetapi tidak satu kali pun ia bisa dibuat trance dalam sesi-sesi hipnosis.

“Tidak apa-apa,” kata saya. “Tidak setiap orang bisa dihipnotis. Dan itu bukan berarti kau lebih hebat dari orang-orang lain yang bisa dihipnotis.

“Tidak bisa dihipnotis hanya membuktikan bahwa kau tidak bisa diberi sugesti. Sugesti artinya saran. Tidak bisa diberi sugesti artinya tidak bisa diberi saran atau tidak bisa mengerjakan saran dari orang lain.

“Dan itu bagus-bagus saja selama kau bisa memberi saran kepada dirimu sendiri.

“Baru akan menjadi masalah besar jika kau tidak bisa memberi saran kepada dirimu sendiri dan sekaligus tidak bisa menerima saran dari orang lain.”

Saya menanyakan kenapa ia meluangkan waktu datang ke rumah saya. Ia terdiam beberapa saat dan kemudian menjawab ingin tahu dari saya tentang hipnosis. “Untuk apa mengetahui tentang hipnosis dari saya?” tanya saya.

Ia terhenti lagi, kelihatan berpikir, mungkin mencari jawaban yang ia pikir tepat tentang kenapa ia ingin tahu hipnosis dari saya. Akhirnya ia mengatakan ingin mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang hipnosis.

“Tetapi anda bukan orang yang bisa menerima saran,” kata saya. “Bagaimana mungkin anda bisa mendapatkan pengetahuan lebih banyak jika anda tidak bisa menerima saran? Dan anda ingin mendapatkan pengetahuan hipnosis lebih banyak tanpa pernah mengalami kondisi hipnotik?”

Lelaki di hadapan saya tampak tidak nyaman dengan ucapan terakhir saya. Dan saya membuatnya semakin tidak nyaman dengan kalimat selanjutnya:

“Dan saya bukan orang yang suka membuang-buang waktu. Saya pikir tidak ada gunanya bercakap-cakap dengan orang yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menerima sugesti. Itu sama dengan omong kosong. Saya tidak suka membuang-buang waktu untuk suatu omong kosong.”

Akhirnya ia mengatakan: “Saya sebetulnya ingin juga mengalami keadaan trance. Tetapi mereka mengatakan saya tidak bisa dihipnotis. Dan memang saya tidak pernah bisa memasuki kondisi trance dalam semua sesi hipnosis yang saya jalani.”

“Jadi, anda menemui saya untuk membuktikan sekali lagi bahwa ucapan mereka benar? Bahwa anda tidak bisa dihipnotis?” tanya saya. “Saya menolak dijadikan alat penegasan untuk urusan yang tidak ada manfaatnya. Kenapa tidak membuktikan bahwa ucapan mereka keliru? Apa jadinya jika ucapan mereka keliru? Apa jadinya jika anda bisa dihipnotis? Harga diri anda merosot?”

Dengan ogah-ogahan saya kemudian memenuhi keinginannya untuk dihipnotis. Saya sudah tahu hasilnya ketika ia mulai menyiapkan diri untuk proses induksi: Ia ingin membuktikan bahwa ucapan mereka keliru. Ia bisa dihipnotis dan untuk pertama kalinya bisa menikmati keadaan trance.

Anda ingin mencobanya? Trance hipnotik adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.***


Menghipnotis anak-anak sendiri

| 1 April 2018 | VIDEO ini adalah penggalan sesi hipnosis terhadap anak saya sendiri. Dilakukan pada malam hari, di tengah orang-o...

| 1 April 2018 |



VIDEO ini adalah penggalan sesi hipnosis terhadap anak saya sendiri. Dilakukan pada malam hari, di tengah orang-orang yang sedang ramai bercakap-cakap. Teknik Hand-levitation digunakan dalam sesi ini untuk trance deepening--untuk membuatnya tidur lebih nyenyak.

Saya senang menghipnotis anak-anak saya sendiri sejak mereka kecil. Tujuan semula hanya untuk mencari tahu beda antara menghipnotis anak-anak dan menghipnotis orang dewasa. Menghipnotis anak-anak memberikan pengalaman tersendiri, dan juga tantangan yang berbeda. Kita harus menyampaikan sugesti yang mudah mereka pahami, dan memilih penggunaan kata-kata yang paling tepat untuk anak-anak.

Hasilnya sering mengejutkan. Ada anak yang tidak bisa segera tidur dan tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Saya harus mengakhirinya karena ia ketakutan. Ia anak adik saya.

Anak-anak saya lebih mudah saya hipnotis. Anak sulung saya, perempuan, sangat mudah. Ia menyukai cerita-cerita. Ketika kecil, ia tidak bisa tidur sebelum saya membacakan cerita untuknya.

Suatu hari, saya berniat menghipnotisnya dan saya menceritakan kepadanya film serial televisi yang saya sukai di masa kecil, yaitu The Six Million Dollar Man. Tokoh utama film itu saya sebut “Si Manusia Tangan Besi”.

Kepadanya lalu saya ceritakan manusia tangan besi. Ia tertarik pada cerita manusia tangan besi dan memasuki trance ketika mendengarkan cerita dan kemudian menjadikan tangannya sendiri tangan besi. Tangan itu tidak merasakan apa-apa ketika dicubit, tidak merasa sakit ketika dipukul. Dengan kata lain, ia menjadikan tangannya kebal pada waktu trance.

Sekarang, saya menggunakan hipnotis lebih rutin untuk anak-anak saya. Mereka menyukainya karena trance adalah pengalaman yang menyenangkan.

Jika anda bisa menghipnotis anak-anak anda, itu akan sangat membantu dalam proses pengasuhan mereka. Anda bisa membimbing mereka dan menjadikan mereka tangguh. Anda bisa menggunakannya untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk dan membimbing mereka untuk membangun kebiasaan yang produktif. Saran-saran anda akan lebih efektif diterima oleh mereka. Sebab anda memasukkan saran ke level bawah sadar mereka. ***


Memfokuskan Perhatian Subjek Hipnosis dengan Cerita

| A.S. Laksana | 11 Desember 2017 | Inti dari praktek Ericksonian Hypnosis adalah sugesti tidak langsung. Dan alat paling efektif untuk...

| A.S. Laksana | 11 Desember 2017 |


Inti dari praktek Ericksonian Hypnosis adalah sugesti tidak langsung. Dan alat paling efektif untuk menyampaikan sugesti tidak langsung adalah cerita. Setiap orang menyukai cerita, sebab cerita membuat nyaman pikiran. Percakapan paling asyik di antara teman-teman kebanyakan adalah pertukaran cerita, bukan bertukar petuah atau nasihat atau khotbah.

Kita saling berbagi cerita dengan teman bicara kita, tentang apa saja, dan percakapan kita bisa berlangsung berjam-jam. Anda bisa lupa waktu jika bercakap-cakap dengan teman yang memiliki banyak cerita menarik.

Di samping itu memberikan kenyamanan, cerita juga akan secara otomatis menggiring perhatian pendengarnya untuk fokus ke arah topik yang sedang diceritakan.

Jika anda berniat mendalami Ericksonian Hypnosis, anda perlu melatih kecakapan bercerita. Bercerita apa saja. Ngawur tidak apa-apa, yang penting anda memiliki cerita untuk disampaikan. Melalui cerita, anda memfokuskan perhatian subjek ke arah yang anda inginkan.

Dan itu hal yang cukup mudah untuk dilakukan. Misalkan anda ingin membuat seseorang memfokuskan perhatian pada masa kecilnya, anda bisa menceritakan teman-teman masa kecil anda sendiri. Mungkin anda ingin orang itu mengingat kejadian-kejadian dengan teman masa kecil yang paling mengganggu, anda bisa menceritakan teman masa kecil yang paling mengganggu. Anda bisa mengatakan: “Masa kecil bisa menyenangkan jika kita memiliki teman-teman yang menyenangkan. Tetapi, tidak semua teman menyenangkan. Ada teman masa kecil yang sangat nakal, sering membully teman-teman lain, dan sepertinya tidak bisa dilawan.”

Respons alami orang ketika mendengar ucapan seperti itu adalah mengingat teman-teman masa kecilnya, dan ketika ia mendengar tentang teman yang suka membully, ingatannya akan segera tergiring ke arah temannya sendiri yang suka membully.

Selanjutnya, untuk semakin memfokuskan perhatian, anda bisa mengajukan pertanyaan:

“Apakah kau juga memiliki teman seperti itu?”

“Ia juga pernah mengganggumu?”

“Kau ingat apa yang telah dilakukannya terhadapmu?”

“Kau tidak berani melawannya?”

“Ya, kebanyakan dari kita mengalami hal itu, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika mengalami hal seperti itu.”

Ericksonian Hypnosis adalah hipnosis yang sangat nyaman, sebab ia dilakukan seperti orang bercakap-cakap dan berbagi cerita. Karena itu anda perlu melatih kefasihan menyampaikan cerita, sehingga anda sendiri bisa nyaman saat menyampaikannya, dan ketika anda sendiri merasa nyaman, subjek akan merasakan kenyamanan anda dan ia juga akan ikut merasa nyaman.

Kenyamanan subjek akan membuatnya lebih mudah memasuki kondisi trance.

Dan Suaraku akan Terus Bersamamu...

Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance.  SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnot...

Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance. 
SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnotis teman sendiri. Itu lebih sulit.

Saya melanggar itu. Subjek-subjek awal saya adalah teman-teman sendiri dan para kerabat.

Ini kejadian bertahun-tahun lalu. Seorang teman lama datang ke rumah, hari Sabtu waktu itu, pukul sepuluh malam. Kami ngobrol-ngobrol apa saja yang kami rasa menarik buat diobrolkan. Sebagian tentang masa lalu ketika kami bekerja di tempat yang sama, sebagian lagi tentang urusan kami masing-masing sekarang. Kepadanya saya bilang bahwa saya masih menulis (cerpen-cerpen saya masih muncul sesekali di koran-koran). Di luar urusan menulis, kata saya, “Saya menghipnotis orang.”

“Kau bisa?” tanyanya.

Pada waktu itu saya sudah dua tahun mendalami hipnosis Milton Erickson dan menjadi seperti pemain sirkus yang keranjingan melakukan atraksi di kandang sendiri.

Saya hipnotis anak saya, saya tidurkan keponakan saya, saya bikin teler adik-adik ipar saya, mertua saya, dan tetangga kiri kanan. Namun istri saya selalu menghindar. Ia hanya senang melihat saya melakukannya pada siapa saja, tetapi ia punya kecurigaan yang tidak masuk akal terhadap hipnosis sehingga tidak pernah mau mencobanya.

Saya tidak pernah memintanya menjadi subjek sampai akhirnya ia sendiri tertarik setelah memastikan bahwa hipnosis ternyata aman-aman belaka.

Kepada kawan saya, saya ceritakan beberapa hal yang saya lakukan dan perasaan nikmat yang didapatkan oleh orang yang memasuki kondisi trance. Saya perhatikan ia tertarik. Akhirnya, ia mengajukan pertanyaan: “Kalau saya, apakah bisa dihipnotis?”

Ini kesempatan untuk memainkan jurus kepada orang luar yang bukan penghuni kandang.

Ketika membaca buku-buku Erickson dan beberapa buku hipnosis lain, saya membaca semua materi dalam bahasa Inggris. Saya mencermati pola-pola sugesti Erickson dan memindahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Berikutnya saya berlatih membuat skrip sendiri, dengan subjek imajiner, menciptakan sejumlah metafora versi saya sendiri. Semuanya dalam bahasa Indonesia.

Sekarang, saya menghadapi subjek berbahasa Jawa. Akan saya sampaikan dalam bahasa apa sugesti-sugesti untuknya?

Saya tak terbiasa berbahasa Indonesia dengan teman saya ini. Namun jika harus mensugesti dalam bahasa Jawa, pasti mumet kepala saya.

Persoalan lainnya, apakah teman saya akan menganggap saya serius bisa menghipnotis? Jangan-jangan ia menganggapnya sebagai guyon belaka dan akan tertawa terbahak-bahak ketika saya mencoba membuatnya tidur.

Sepanjang berlangsungnya keruwetan di dalam benak, saya meminta teman saya duduk nyaman di kursinya dan menaruh kedua telapak tangannya di atas paha. “Jangan biarkan tanganmu saling bersentuhan,” kata saya dalam bahasa Jawa. Kemudian saya meminta matanya melihat gagang pintu yang ada di hadapannya. Ia menuruti semua yang saya minta.

Pada saat itu sebuah ilham seperti datang tiba-tiba. Saya pikir saya akan berterus-terang saja menyampaikan keruwetan saya kepadanya. Masih dalam bahasa Jawa, saya bilang, “Oke, biasanya kita ngobrol dalam bahasa Jawa. Jika kita ngobrol dalam bahasa Indonesia, percakapan kita  pasti akan terdengar seperti ketoprak humor. Begitu, kan?”

Ia tertawa.

Lanjut saya, “Tapi, sekarang, saya sesekali mungkin akan menggunakan bahasa Jawa, sesekali bahasa Indonesia, dan itu baik-baik saja ... Yang terpenting di sini, kau bisa memahami apa yang kusampaikan selagi kau duduk nyaman di kursimu ... menikmati ketenteraman kursi itu ... dan matamu tetap pada gagang pintu. Dan itu membuat kepalamu diam tenang ... dan itu membuat kupingmu tidak bergerak-gerak dan tetap diam di tempatnya.”

Setelah berterus terang seperti ini saya merasa lebih enteng, dan lebih enak berkomunikasi dengannya dalam bahasa campur-campur.

Teman saya tampak tenang dan tidak mempermasalahkan kalimat-kalimat yang pasti terdengar aneh jika digunakan dalam percakapan biasa. Sesungguhnya, dalam hipnosis, anda punya keuntungan bisa berkomunikasi dalam kalimat-kalimat semacam itu, yang akan terasa ganjil dalam ukuran percakapan sehari-hari.

Sekarang, penting bagimu menjaga kupingmu tetap diam di tempatnya... sebab itu kuping yang kuajak bicara ... dan itu kuping yang bisa mendengar semua suara ... Dan, kau juga tahu, kupingmu bisa pula mengabaikan suara apa saja dan memilih hanya mendengarkan suaraku....

Erickson melakukan hal ini. Saya hanya menirukan apa saja yang bisa saya ingat.

Sekarang, kau bahkan bisa mengabaikan suaraku jika kau mau ... dan kau tidak mendengar apa pun ... sebab bawah sadarmu siap melakukan tugasnya ... dan ia dekat sekali denganku ... ia dalam jangkauan suaraku ... karena itu ia selalu bisa mendengar suaraku .... Dan suaraku akan selalu mengikutimu ... ia menjadi suara ayahmu, ibumu, suara teman-temanmu, gurumu, tetanggamu ... dan menjadi suara angin, suara hujan ... suara-suara yang kaukenal di masa kecil ... ketika kau suatu hari merasakan sesuatu yang membahagiakan di dunia masa kecilmu. Apakah itu ketika kau berada di ruang kelas?”

Lagi-lagi saya hanya menirukan Milton Erickson. Ia sering mengatakan kepada subjeknya, dengan cara yang penuh simpati: “And my voice goes everywhere with you … changes into the voice of your parents, your neighbors, your friends, your schoolmates, your playmates, your teachers … and the voices of the wind, and of the rain. And I want you to find yourself sitting in the school room, a little girl feeling happy about something, something that happened a long time ago, that you forgot a long time ago.”

Itu sugesti yang paling saya kagumi. Ia muncul dari seseorang yang sangat mencintai profesinya, seorang hipnotis yang menyayangi subjek-subjeknya.

Sekarang, aku hanya berurusan dengan pikiran bawah sadarmu ... dan aku bahkan tidak peduli pikiran sadarmu memikirkan apa atau tidak memikirkan apa-apa sama sekali. Sebab aku hanya berurusan dengan bawah sadarmu ... dan ia bisa menangkap suaraku meskipun kupingmu tidak mendengar suaraku... dan suaraku hilang dari pendengaranmu.... Dan jika pikiran sadarmu lelah, ia bisa tidur begitu saja, dengan sendirinya ... Hanya, sekarang, kau perlu memastikan bahwa pikiran bawah sadarmu selalu terjaga ... ketika pikiran sadarmu tidur lelap, semakin lelap.

Dan, kapan tidurnya teman saya ini?

Ia kelihatan semakin tenang, tetapi matanya tetap melotot ke arah gagang pintu.

Biasanya orang bisa tidur dengan sendirinya, dan kau pun begitu, ketika kelopak matamu terasa semakin berat ... Mungkin itu didahului dengan satu kedipan ... dan mungkin disusul dengan dua atau tiga kedipan sekaligus....

Saya menunggu ia mengedipkan kelopak matanya, dan isyarat itu tetap tidak muncul. Matanya masih melotot.

Sekarang, kautahu, orang biasanya tidur dengan mata tertutup, tetapi kau bisa juga tidur dengan mata terbuka ... dan kau bisa memilih mana yang paling memberimu kenyamanan ... tidur dengan mata terbuka, atau tidur dengan mata tertutup ... Yang terpenting di sini, kau bisa tidur dengan nyaman, bahkan seandainya kau memilih tidur dengan mata terbuka. Dan, sekarang, aku hanya menunggu ... kau menunggu... apa pengalaman menyenangkan yang segera kaualami.

Ia memilih menutup mata.

Bagus! Begitulah, kau memilih tidur nyaman dengan mata tertutup. Dan itu sesuai pilihanmu sendiri... begitu matamu tertutup, tidurlah lelap... sangat lelap.

Selanjutnya saya membuatnya tidur lebih nyenyak.***

Memberi Pengalaman “Ajaib” kepada Subjek Hipnotis

Dalam salah satu sesinya, Milton Erickson membangunkan subjek dari kondisi trance, tetapi ia hanya membangunkan bagian kepala si subjek. Tub...

Dalam salah satu sesinya, Milton Erickson membangunkan subjek dari kondisi trance, tetapi ia hanya membangunkan bagian kepala si subjek. Tubuh orang itu, dari bagian leher sampai ke ujung kaki, masih tetap tidur.

Itu sesi yang sangat cerdik dan memukau. Bagian kepala si subjek sadar, tetapi ia tidak bisa mengendalikan bagian tubuhnya yang masih tidur.

Prosedur ini sangat berguna dalam terapi. Kita memberi pasien pengalaman yang aneh tetapi menyenangkan.

Dengan cara ini pasien mendapatkan pelajaran penting, tanpa ia sadari, bahwa ia sanggup melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan.

Saya menyukai prosedur ini dan melakukannya kepada beberapa subjek. Termasuk subjek terakhir yang saya tangani pekan lalu.

“Kenapa saya jadi seperti ini, Om?” tanyanya.

“Tubuhmu tetap tidur?” tanya saya.

“Saya tidak bisa menggerakkan tangan saya,” katanya.

“Kakimu?”

Ia mencoba menggerakkan kakinya, tetapi sia-sia.

“Tidak bisa juga,” katanya.

Beberapa saat ia tetap seperti itu. Tangannya kirinya parkir di pundak kanan dan tidak bisa melakukan apa pun karena tubuhnya tetap tidur. Ia tersenyum-senyum menikmati keadaannya.

“Kautahu, sekarang atau nanti tubuhmu pasti bangun,” kata saya. “Jika sesuatu pasti terjadi sekarang atau nanti, kenapa tidak sekarang saja?”

Pelan-pelan ia menggerakkan tangannya dan kemudian kakinya, dan kemudian ia menggeliat. Saat itu juga seluruh tubuhnya bangun.

Dalam sesi terapi, penting bagi kita memberi pengalaman "ajaib" kepada pasien.

A.S. Laksana

Mempelajari Sesuatu dalam Keadaan Trance

| A.S. Laksana | Mereka datang berdua suatu siang. Keduanya memperkenalkan diri, tetapi saya hanya ingat satu, yakni Fransiskus Indra Prat...

| A.S. Laksana |

Mereka datang berdua suatu siang. Keduanya memperkenalkan diri, tetapi saya hanya ingat satu, yakni Fransiskus Indra Pratama. Ia sudah lebih dulu memperkenalkan namanya lewat telepon, ketika mengatakan ingin dolan ke rumah. “Saya ingin membeli ebook, Pak, dan saya ingin ngobrol-ngobrol,” katanya. Saya mempersilakannya datang saja.

Maka, begitulah, ia datang bersama temannya. Mereka sama-sama sudah pernah mengikuti pelatihan hipnosis. Indra juga sudah mengikuti pelatihan NLP.

Karena mereka datang untuk membicarakan hipnosis, dan saya meladeni dengan senang tema pembicaraan yang mereka obrolkan, maka pembicaraan kami jadi menyenangkan. Setelah beberapa waktu ngobrol, Fransiskus menyampaikan masalahnya bahwa selama ini ia tidak pernah bisa menikmati hipnosis. “Saya bisa tidur,” katanya, “tetapi tetap bisa mendengar semua yang disampaikan ke saya.”

“Belum pernah mengalami deep trance?” tanya saya.

“Ya,” jawab Fransiskus.

Saya kemudian menanyakan kepada temannya apakah ia sudah pernah dihipnotis dan mengalami trance. Ia bilang sudah.

“Deep trance?”

“Deep trance.”

“Pernah melakukan self-hypnosis?”

“Pernah,” katanya.

“Bisa memasuki deep trance dengan self-hypnosis?”

“Bisa.”

"Kau bisa menunjukkan kepada Fransiskus bagaimana caramu memasuki deep trance?”

Ia segera mengatur duduknya dan memejamkan matanya. Kelopak matanya bergetar cepat. Ia sedang memasuki kondisi trance. Kemudian saya hanya meneruskannya, memandunya untuk memunculkan fenomena-fenomena hipnotik. Ketika ia sudah lelap, saya kemudian membangunkannya hanya bagian kepala.

Fransiskus, yang saya minta mengamati secara saksama proses berlangsungnya trance pada temannya, terus memperhatikan temannya, tanpa bicara.

Kepada subjek, yang sekarang bangun bagian kepala saja sementara tubuhnya tetap tidur nyaman, saya meminta agar ia menoleh ke arah Fransiskus yang sedang memandanginya tanpa bicara.

Saya meminta mereka saling memandang. Dan mereka saling memandang.

Sekali lagi saya minta subjek memperhatikan Fransiskus secara cermat. Lalu saya tanyakan apakah ia bisa membuat Fransiskus mengalami kondisi trance seperti dirinya. Ia mengatakan bisa.

“Kau yakin bisa?”

“Bisa.”

“Bagus,” kata saya. “Kau temannya, dan kau perlu membantu temanmu mengalami deep trance. Ia tidak pernah mengalaminya dan ia menginginkannya dan kau temannya. Dan kau sanggup membantunya?”

“Sanggup.”

“Bagus, dan kau yakin bisa?”

“Yakin.”

“Terima kasih, dan kau bisa membuatnya memasuki trance sebagaimana aku membuatmu memasuki trance?”

“Ya.”

“Coba kaulihat dia lagi…. Kau benar-benar yakin?”

Ia menoleh ke arah Fransiskus dan kemudian mengatakan yakin. Selama tanya jawab dengan subjek ini, Fransiskus tetap diam dan hanya memperhatikan temannya. Kemudian saya memintanya tidur lagi, dan membangunkannya dengan instruksi bahwa ketika ia bangun nanti, ia akan mengerjakan tugas yang ia sanggupi dan ia yakini, ialah membantu Fransiskus memasuki trance.

Dan ketika percobaan kami selesai, ia tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Mas, sebetulnya saya tidak pernah melakukan induksi trance dengan cara seperti itu. Bagaimana saya bisa melakukannya?”

“Kau mempelajari hal baru ketika kau memasuki trance,” kata saya.

Sebelum mereka pulang, Fransiskus menanyakan apakah ia boleh datang lagi dan mengajak gurunya. Itu pertanyaan yang menyenangkan dan saya mempersilakannya datang lagi. Dan kira-kira sepekan kemudian ia datang lagi dengan Mas Yanto Tjia, dan kami berkawan dekat sejak itu. Mereka datang sore hari, dan Mas Yanto menanyakan kepada Fransiskus apa yang terjadi padanya ketika pertama kali datang, dan Frannsiskus tertidur lagi ketika diminta mengingat apa yang ia alami pada pertemuan sebelumnya.

Jadi, dua kali Fransiskus tidur di teras rumah saya, di tengah suara anak-anak yang berisik bermain, tanpa saya melakukan induksi langsung kepadanya.

Salam,
A.S. Laksana
The Art of Ericksonian Hypnosis, klik http://1ericksonian.weebly.com/

Subjek Hipnosis yang Beriman

| A.S. Laksana | Suatu hari saya dolan ke kantor lama saya, penerbit buku Mediakita. Ada beberapa kantor penerbitan dalam satu gedung di Jal...

| A.S. Laksana |

Suatu hari saya dolan ke kantor lama saya, penerbit buku Mediakita. Ada beberapa kantor penerbitan dalam satu gedung di Jalan Haji Montong, Ciganjur, dan Mas Moelyono, pemimpin redaksi Visimedia, dengan antusias mengajak bicara soal hipnosis. Visimedia banyak menerbitkan buku-buku hipnosis, dan sebagai pemimpin redaksi penerbitan tersebut, Mas Moelyono tentu saja sudah membaca naskah-naskah yang ia terbitkan. Ia memiliki pemahaman luas tentang hipnosis berkat buku-buku yang ia terbitkan.

Dan sebelum saya lanjutkan, saya perlu sampaikan bahwa nama penerbit Visimedia bukanlah fiktif. Mas Moelyono juga bukan karakter fiktif, dan Denny, nama lain yang akan segera anda jumpai di tulisan ini, juga nama sebenarnya.

Kepada beberapa teman di kantornya, Mas Moelyono sudah mempraktekkan beberapa cara menghipnotis, dan beberapa kali berhasil. Ia menerapkan teknik-teknik uji sugestibilitas, beberapa kali berhasil. Namun pada salah satu rekan kerjanya, ia tidak berhasil. Uji sugestibilitas yang dilakukannya gagal.

“Dia ngeyelan, Mas,” katanya. “Disugesti nggak mau nurut. Coba kalau sampean yang melakukannya.”

Saya tanyakan kepada Denny, orang yang dianggap ngeyelan, apakah dia memang berniat membantah sugesti.

Denny menceritakan bahwa waktu itu ia diminta membayangkan ada lem yang kuat sekali menyatukan jari telunjuk dan ibujarinya sehingga kedua jari tersebut melekat dan ia tidak bisa membukanya. Uji sugestibilitas dilakukan, tetapi Denny dengan mudah bisa memisahkan ibujari dan jari telunjuknya. “Saya tidak merasakan adanya lem, sehingga dengan mudah bisa saya buka,” kata Denny.

“Nah, dia ngeyel seperti itu,” kata si pemimpin redaksi. “Diminta membayangkan lem dia tidak mau membayangkan.”

Mereka berdua berdebat tentang itu. Saya tanyakan kepada Denny, apakah sebetulnya dia ingin dihipnotis. “Saya pengen,” katanya. “Hanya ketika itu saya tidak melihat ada lem.”

“Ya, dia ingin dihipnotis, Mas,” kata saya kepada Mas Moelyono. “Sekarang silakan dicoba lagi, beri tahu dia bagaimana cara mudah memasuki trance.”

“Nggak mau saya,” kata Mas Moel. “Dia ngeyel sekali.”

“Dia mau, kok, dia pengen... dia pengen mengalami trance,” kata saya.

Mas Moel tampaknya sungkan, atau dia tidak mau dibantah untuk kedua kali.

“Kenapa sampean menolak orang yang pengen mengalami hipnosis?” tanya saya.

Mas Moel tetap mengatakan bahwa Denny ini suka membantah sugesti. Saya memintanya membuktikan apakah benar Denny tidak mau mengikuti sugesti seperti yang ia katakan. Pak Pemred tetap ogah.

“Tapi dia beriman pada saya,” kata saya.

Kami tertawa.

“Dia mempercayai saya, dan dia bisa mengikuti apa yang saya katakan. Saya tidak pernah melihat dia sebagai orang yang membangkang. Kami pernah satu kantor dan dia selalu mengikuti apa yang saya katakan.”

Saya menyampaikan fakta bahwa saya dan Denny memang pernah sekantor. Dan Denny memang bukan tipe pembangkang. Kemudian saya tanyakan kepada Denny apakah dia benar-benar ingin merasakan pengalaman trance. Dia mengiyakan.

Lalu saya melangkah ke kursi lain di sebelah sana. Ada satu meja bulat dan empat kursi kosong. Saya duduk di salah satu kursi.

“Sekarang duduklah di sini, Den, di kursi ini, santai saja,” kata saya kepada Denny sambil menunjukkan kursi di samping saya. “Kedua tanganmu di atas paha.”

Denny duduk dengan sikap seperti yang saya sampaikan.

“Atau lebih enak kau di kursi itu saja, Den,” kata saya sambil menunjuk kursi di seberang saya.

Dia pindah duduk ke kursi yang saya tunjuk.

“Oke kita mulai,” kata saya. “Tapi di kursi ini kau bisa lebih enak kelihatannya.”

Dia pindah ke kursi lain di sebelah diri saya. Mengatur duduknya seperti yang saya sampaikan di awal.

“Atau kita bertukar kursi?” tanya saya. “Di kursiku ini pemandangannya lebih baik. Jadi kau duduk di kursiku dan aku di kursimu.”

Dan kami bertukar kursi.

Maka dalam beberapa menit, saya menunjukkan kepada Mas Moel bahwa Denny adalah orang yang selalu menuruti semua perkataan saya. Dan Denny membuktikan bahwa dirinya memang seperti itu.

Selanjutnya, sesi berjalan sangat mudah, karena subjek benar-benar bisa menerima sugesti-sugesti yang saya sampaikan.

Seni Menyampaikan Sugesti

| A.S. Laksana | Pada dasarnya, sugesti bisa disampaikan melalui berbagai macam cara. Anda bisa menyampaikan sugesti dengan cara mengkomuni...

| A.S. Laksana |

Pada dasarnya, sugesti bisa disampaikan melalui berbagai macam cara. Anda bisa menyampaikan sugesti dengan cara mengkomunikasikan gagasan, menyampaikan fakta, menuturkan cerita, memberi penjelasan, memberi instruksi, atau bahkan menantang subjek. Dan saat menyampaikan apa pun, sikap terbaik untuk menyampaikannya adalah anda menyampaikannya secara enteng saja, seolah-olah semua yang anda sampaikan adalah fakta.

Hipnosis otoritarian kebanyakan menggunakan bentuk instruksi sebagai cara langsung penyampaian sugesti. Hipnosis Ericksonian menggunakan berbagai cara yang menghindari penyampaian sugesti secara langsung, sehingga nyaris terasa tidak ada perintah ketika orang menerima sugesti tersebut.

Namun, apa pun style hipnosis anda, anda perlu menguasai seni menyampaikan sugesti karena memang di situlah kunci kecakapan seorang hipnotis. Tak peduli cara apa pun yang anda pakai, anda harus bisa memastikan bahwa subjek menerima sugesti-sugesti anda dan bisa menjalankannya.

Menurut saya, cara yang digunakan oleh Erickson untuk menyampaikan sugesti adalah cara orang yang sabar. Saya suka menggambarkannya seperti seorang petani yang dengan tekun menanam benih dan menyiraminya, sebelum kemudian memanen hasilnya. Begitulah Erickson menjalankan hipnosisnya. Ia akan dengan sabar menanam-nanamkan lebih dulu berbagai gagasan. Itu ia lakukan untuk mempersiapkan sugesti-sugesti yang nantinya akan ia sampaikan kepada subjek.

Dan karena pemahaman subjek sudah memadai, maka ketika sugesti disampaikan, ia bisa mencernanya dengan enak dan bisa menjalankannya. Erickson akan menanamkan segala pengertian yang dekat dengan keseharian untuk memudahkan munculnya respons hipnotik.

Dengan cara itu, respons hipnotik akan menjadi sesuatu yang lebih natural bagi subjek.

Untuk membawa subjek regresi, misalnya, ia akan menyampaikan kepada subjek hal-hal yang secara spontan akan membawa ingatan subjek ke masa lalu. Ia akan mengingatkan kita dengan aktivitas-aktivitas yang kita lakukan di waktu kanak-kanak, seperti awal mula belajar membaca, kanak-kanak yang belajar berdiri dan berjalan, atau menyebutkan kalimat berima, dan sebagainya.

Ingatan-ingatan terhadap segala sesuatu di masa lalu itu tak jarang akan membawa subjek secara spontan mengalami regresi. Dan hal itu akan memudahkan bagi subjek ketika nantinya ia diminta mengalami kembali kejadian tertentu di masa lalunya, sebagaimana yang disugestikan oleh hipnotis. Subjek sudah dilatih atau dikondisikan, tanpa dia sadari, untuk memunculkan fenomena tersebut sejak awal.

Cara yang sama bisa anda lakukan untuk mensugestikan fenomena hipnotik apa pun. Untuk mempermudah fenomena hand-levitation, misalnya, anda bisa membicarakan berbagai peristiwa sehari-hari tentang apa saja yang ringan dan mengapung di udara. Atau ia akan menyampaikan bagaimana tangan bisa naik ke atas tanpa dipikirkan ketika seseorang melambaikan tangan kepada temannya.

Untuk mempersiapkan munculnya gerakan-gerakan ideomotor pada subjek, anda bisa menanamkan pengertian lebih dulu kepada subjek. Sampaikan kepadanya gagasan tentang gerakan-gerakan otomatis yang biasa dilakukan orang dalam peristiwa sehari-hari.

Misalnya, seorang ibu akan membuka mulutnya sendiri, bukan mulut si bayi, ketika ia meminta anaknya membuka mulut untuk menyuapkan makanan ke mulut bayi itu. Atau para penumpang mobil akan secara otomatis akan ikut menekankan kaki mereka seolah-olah menekan pedal rem pada situasi tertentu yang mengharuskan sopir menginjak pedal rem.

Anda juga akan melihat orang-orang yang memainkan game balapan mobil di depan layar monitor akan menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri ke kanan, tanpa sadar, mengikuti liuk-liuk sirkuit di layar monitor atau zig-zag yang dilakukan oleh mobil mainan yang dikemudikannya.

Atau secara otomatis orang akan membungkuk merendahkan kepalanya ketika mobilnya melewati terowongan atau palang yang cukup rendah.

Dan sampaikan dengan enteng menyampaikan kepada subjek anda, “Aku menginginkan gerakan-gerakan otomatis semacam itu.”

Cara-cara semacam itulah yang dilakukan oleh Erickson. Ia hampir selalu menanamkan gagasan-gagasan terlebih dulu, mengaitkan sebuah fenomena hipnotik dengan kelaziman sehari-hari, untuk membuat subjek memunculkan fenomena hipnotik yang diinginkan—dan ia ingin membuat subjek memunculkannya dalam cara yang lebih natural. Setidaknya, itu menghilangkan kesan ganjil pada subjek ketika ia harus memunculkan fenomena-fenomena hipnotik tertentu.

Jadi, ketika anda menerapkan prinsip Ericksonian, anda perlu memperhatikan lebih cermat fenomena-fenomena sehari-hari yang lazim dilakukan oleh manusia. Erickson adalah pemerhati kebiasaan dan perilaku sehari-hari manusia dan ia mengasahnya terus-menerus untuk kepentingan hipnosisnya.

Untuk membuat subjek bisa memunculkan fenomena matirasa (anestesia), hipnosis klasik biasa mensugesti agar subjek merasakan tangannya tercelup ke ember berisi air es. Erickson memikirkan kemungkinan-kemungkinan lain untuk memunculkan fenomena tersebut, memahami prinsipnya, dan mencari kesepadanannya dengan peristiwa-peristiwa sehari-hari.

Ia akan memberikan gagasan bahwa matirasa bisa terjadi ketika orang melupakan sesuatu, atau tidak memikirkan sesuatu berkaitan dengan rasa tertentu. Biasanya rasa sakit.

“Kau akan melupakan rasa sakitmu sendiri ketika ada sesuatu yang lebih besar mengalihkan perhatianmu, seperti seorang ibu akan melupakan rasa sakitnya sendiri ketika melihat anak bayinya menghadapi situasi yang membahayakan.”

“Dan kau melupakan kerah baju yang melekat di lehermu, melupakan kaus kaki yang kaukenakan, melupakan sepatu selama kau berjalan. Kau mengenakannya dan kemudian melupakannya begitu saja. Kau hanya ingat untuk sampai di tempat tujuan pada waktu yang tepat.”

“Dan bagaimana seseorang kehilangan sakit kepalanya ketika ia menyaksikan film yang menegangkan? Ke mana perginya sakit kepala itu selama film berlangsung"



Dari penjelasan di atas, kita mendapatkan sebuah pemahaman bahwa Erickson menganggap fenomena hipnotik adalah kelanjutan belaka dari fenomena sehari-hari. Karena itu ia nyaris tidak pernah menyodorkan gagasan-gagasan yang terasa ganjil bagi subjek. Ia menghindari penyampaian ide-ide yang tidak dijumpai dalam keseharian.

Trance, sekali lagi, adalah kelanjutan belaka dari situasi keseharian, demikian pula fenomena-fenomena trance. Semuanya adalah kelanjutan dari fenomena-fenomena keseharian.

Setidaknya dengan gagasan semacam ini, anda akan membuat subjek lebih percaya diri untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang disugestikan oleh operator hipnotis. Dan operator memiliki kemungkinan sangat luas untuk memberikan pembelajaran kepada subjek tentang bagaimana sesi dijalankan dan bagaimana membimbing subjek memunculkan respons hipnotik dalam sesi yang akan berjalan mudah, karena subjek memiliki pemahaman yang cukup memadai untuk merespons sugesti.

Anda tahu, seringkali subjek gagal merespons sugesti karena ia tidak memiliki pemahaman yang memadai untuk melakukannya. Pengalaman eksperimental dengan beberapa subjek menunjukkan kemampuan yang berbeda-beda dalam merespons sugesti. Ada yang dengan mudah bisa memunculkan fenomena yang disugestikan, meskipun ia baru sekali dihipnotis, ada yang gagal melakukannya pada kesempatan pertama dan baru bisa melakukannya pada kesempatan berikutnya ketika ia diberi pemahaman yang cukup.

Saya mencoba pada beberapa orang, dalam kesempatan terpisah, untuk memunculkan respons hipnotik bangun hanya bagian kepala. Ini eksperimen yang mudah. Pada saat subjek dalam keadaan trance, anda memberinya sugesti yang meminta ia bangun hanya bagian kepala, sementara bagian tubuhnya dari leher ke bawah tetap tidur.

Sugesti untuk ini bisa disampaikan secara rileks saja:

“Nanti aku akan menghitung dari satu sampai lima... Pada hitungan kelima kau bisa membuka mata dan bangun hanya bagian kepalamu saja, bangun dari leher ke atas, sementara bagian leher ke bawah tetap tidur lelap di kursimu.”


Banyak subjek bisa melakukannya dengan mudah melalui sugesti semacam itu. Bahkan subjek yang baru satu kali berurusan dengan hipnosis pun bisa melakukannya. Tetapi dengan sugesti yang sama beberapa subjek eksperimen saya gagal melakukannya. Subjek yang tidak berhasil memunculkan fenomena tersebut biasanya akan membangunkan seluruh tubuhnya.

Sesi berikutnya saya coba pada kesempatan lain dengan subjek-subjek yang gagal membangunkan “hanya bagian kepala” itu. Kali ini saya menyampaikan secara rinci, ketika subjek dalam keadaan trance, hal-hal yang berkenaan dengan sugesti yang saya ingin ia meresponsnya dengan tepat. Dengan demikian ia benar-benar mendapatkan gagasan bagaimana cara merespons sugesti tersebut.

“Kautahu, N, Orang-orang lain bisa bangun bagian kepalanya saja, dari leher ke atas, dan aku tetap ingin tahu apakah kau juga memiliki kemampuan seperti itu. Bangun hanya bagian leher ke atas.

“Dan seseorang yang lain pernah bertanya-tanya, ‘Bagaimana orang bisa melakukan seperti itu?’

“Oh, itu bisa dilakukan dengan mudah. Kau hanya perlu mempertahankan tidurmu sangat lelap. Dan nanti aku akan meminta matamu terbuka. Dan kau membuka mata, dan kau bisa menoleh ke kiri ke kanan, tetapi kau merasakan sesuatu yang lucu, yakni bahwa kau tidak bisa menggerakkan bagian tubuhmu dari bagian leher ke bawah karena bagian tubuhmu dari leher ke bawah tetap tidur... lelap sekali. Dan itu sungguh kejutan yang menakjubkan, bukan?

“Jadi semudah itu, N, nanti aku akan menghitung dari satu sampai lima. Dan pada hitungan kelima kau akan membuka mata.

“Kau bisa menoleh ke kiri ke kanan, dan menikmati beberapa saat keadaanmu ketika baru membuka mata. Tarik nafas panjang bila perlu. Sampai kemudian kau merasakan sesuatu yang lucu itu dan menakjubkan itu. Tubuhmu dari leher ke bawah tetap tidur nyenyak. Kau tahu hal itu karena kau tidak bisa menggerakkannya.

“Sekarang kau sudah paham itu, N?

“Dan kau bisa menganggukkan kepalamu jika kau siap melakukannya?”


(N mengangguk pelan.)

“Oke, aku akan mulai menghitung karena kau menganggukkan kepalamu tanda kau siap. Dan kau siap melakukannya persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu?”

(N kembali mengangguk pelan.)

“Bagus, sekarang aku akan menghitung dari satu satu sampai lima dan kau membuka mata pada hitungan kelima. Hanya membuka mata, dan kau bisa menoleh ke kiri ke kanan jika kau menginginkannya. Aku tidak perlu meyakinkanmu bahwa itu hal yang mudah dilakukan. Ya, hanya membuka mata dan dengan demikian bagian kepalamu bangun.

“Satu... dua... tiga.... empat... lima....buka mata, N. Dan biarkan kepalamu bangun.”


Pada eksperimen kali ini subjek berhasil merespons sugesti secara tepat.

Ia membuka mata pada hitungan kelima, mengerjap-ngerjap sebentar, dan kemudian menoleh sedikit ke kiri ke kanan. Dan spontan ia tersenyum ketika menyadari bahwa ia tidak berhasil menggerakkan anggota badannya dari leher ke bawah.

Salam,
A.S. Laksana

N.B. Tulisan di atas adalah salah satu bagian dari ebook “The Art of Ericksonian Hypnosis: Prinsip-prinsip Mendasar dan Penerapannya”. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut ebook tersebut.

Pseudo-Orientasi Waktu sebagai Teknik Terapi

| A.S. Laksana | Orang sering mengatakan, “Jika tahu dari awal bahwa ujung-ujungnya akan begini, aku akan mengambil jalan berbeda.” Di ten...

| A.S. Laksana |

Orang sering mengatakan, “Jika tahu dari awal bahwa ujung-ujungnya akan begini, aku akan mengambil jalan berbeda.” Di tengah situasi sulit, biasanya orang sulit juga menjadi objektif. Mereka ingin mengubah situasi sekarang juga dan jarang mau melihat jauh ke depan, mencermati segala kemungkinan yang bisa terjadi di masa depan, dan menemukan solusi bagi masalah hari ini.

Pseudo-orientasi waktu adalah teknik untuk membawa orang melihat ke masa depan.

Kita melakukannya dengan membalik teknik regresi dan mengarahkan orientasi subjek ke masa yang akan datang. Kita membawa pasien melihat situasi ketika terapi berhasil.

Apa manfaat pseudo-orientasi waktu?

Untuk memantapkan perilaku baru. Latihan melihat keberhasilan di masa depan ini adalah cara untuk memperbesar keberhasilan yang sesungguhnya.

Untuk mendapatkan teknik terapi yang berhasil. Dalam keadaan terapis tidak dapat memutuskan bagaimana terapi harus dijalankan, ia bisa meminta pasien (dalam kondisi trance hipnotik) untuk membayangkan keberhasilan terapinya di masa datang. Kepada pasien ditanyakan apa yang telah dilakukan oleh terapis dalam membantu keberhasilannya mengatasi masalah. Pasien melaporkan apa yang dilakukan oleh terapis. Terapis kemudian melakukan penanganan sebagaimana yang dilaporkan oleh pasien untuk mencapai keberhasilan terapi.

Contoh kasus penerapan pseudo-orientasi waktu oleh Milton Erickson

Contoh kasus berikut ini akan memperjelas pembahasan kita tentang pseudo-orientasi waktu dan bagaimana teknik ini diterapkan. Saya menyarikan penanganan berikut ini dari contoh penanganan yang ditulis oleh Erickson dalam Journal of Clinical and Experimental Hypnosis, edisi 1954.

Pasien Erickson ini adalah seorang duda berusia 30 tahun. Ia pegawai kecil, tinggal di kamar kontrakan yang menyedihkan keadaannya, dan tidak punya teman baik lelaki maupun perempuan. Ia tidak gemar membaca, tidak ke gereja atau ke gedung bioskop, makan di rumah makan murah, dan satu-satunya rekreasi yang ia lakukan adalah mengemudikan mobil tanpa tujuan di daerah pedesaan.

Tiga tahun ia menjalani perawatan medis karena berbagai keluhan somatik yang melibatkan seluruh bagian tubuhnya. Pada satu waktu ia masuk rumah sakit untuk operasi usus buntu. Dan reaksinya ketika masuk ke ruang bedah sungguh ekstrem. Ia meraung-raung, berteriak, dan mengeluh sakit perut tak tertahankan. Waktu pemulihannya berjalan lebih dari sebulan dan setelah itu ia membuat keluhan lain yang lebih mengerikan ketimbang sebelumnya.

Selain itu, ia kerap depresi, menangis, dan enggan meninggalkan rumah sakit. Perilakunya saat operasi dan sesudahnya membuktikan bahwa ia seorang “pengecut”, “orang yang tidak baik”, “tidak berguna”, dan “manusia gagal”.

Selanjutnya situasi orang ini semakin menyedihkan. Ia merosot secara pribadi dan kacau balau dalam urusan keuangan. Dua sampai empat kali seminggu ia mengunjungi dokter untuk mendapatkan solusi atas berbagai keluhannya: nyeri punggung, sakit kepala, nyeri lambung, dan lain-lain. Dokter merujuknya ke psikiater. Tapi para psikiater gagal menanganinya. Laporan mereka tentang lelaki ini bervariasi: ia “cacat karakter”, “pribadi yang lemah”, “mengidap delusi yang parah bahwa dirinya sakit,” dan “psikopat dalam jenis yang inferior”.

Semua psikiater sepakat bahwa ia tidak bisa diterapi.

Sekitar 18 bulan setelah operasi usus buntu, ia dirujuk ke Erickson untuk hipnoterapi. Dokter menyerahkan juga catatan lengkap tentang riwayat kasus orang ini.

Mudah bagi Erickson untuk membangun rapport dengan pasien ini. Dan meski kondisinya sangat menyedihkan, ia adalah subjek yang baik. Dalam empat sesi di bulan pertama Erickson hanya melatihnya agar mampu mengembangkan berbagai fenomena hipnotik. Setiap kali sesi berakhir, pasien selalu dibikin amnesia saat dibangunkan. Selama empat sesi pertama ini benar-benar tidak ada upaya terapi selain meningkatkan kedekatan dan mengembangkan rasa aman dan kepercayaan diri pasien.

Dalam dua sesi berikutnya, Erickson membuatnya berhalusinasi dengan memandang sejumlah bola kristal. Di dalam bola-bola kristal itu pasien diminta melihat serangkaian pengalaman yang sangat emosional dan traumatis sepanjang hidupnya, dalam berbagai situasi, pada waktu yang berbeda-beda. Reaksinya terhadap keseluruhan peristiwa itu menunjukkan keputusasaan. Katanya, “Siapa pun yang mengalami peristiwa-peristiwa semacam itu tak akan pernah punya peluang.”

Ketika dibangunkan dalam kondisi amnesia, ia selalu menunjukkan perasaan putus asa dan depresi. Sesi berikutnya mereka hanya ngobrol tentang apa saja yang ia inginkan tentang dirinya sendiri, tentang harapannya, dan tentang semua gagasan yang mungkin ia wujudkan. Sesi ini tidak memuaskan. Banyak waktu dihabiskan oleh pasien untuk mengeluh bahwa ia memang berhak mendapatkan semua kesulitan itu. Pada akhir sesi, ia semakin putus asa.

Pada sesi berikutnya ia dihipnotis dan diberi perintah untuk mengulangi semua tugas yang telah diberikan kepadanya pada sesi sebelumnya. Harapan-harapannya, yang disuarakan dalam nada putus asa, bisa diringkaskan sebagai berikut:

1. Menikmati kesehatan fisik yang “normal saja.”

2. Kenaikan gaji yang “rata-rata saja.”

3. Sedikit lebih luwes, sehingga bisa bergaul, untuk kegembiraan pribadi dan pertemanan.

4. Tidak terlalu penakut, cemas, dan kompulsif.

5. “Cukup bernyali sebagai pria” jika ia harus menjalani operasi, atau, jika ia harus mempertahankan hak, “untuk berantam layaknya lelaki.”

6. Hasrat untuk bisa mengambil langkah yang sedikit lebih baik atas semua hal buruk yang telah terjadi dan yang mungkin akan terjadi.

7. Berharap bisa cukup dewasa secara emosional sehingga ia bisa menikah atas dasar cinta dan bukan karena dikasihani orang lain.

Ia dibangunkan dengan amnesia atas semua pengalaman trancenya dan pulang dengan perasaan depresi. Dalam dua sesi sebelumnya, sebagaimana dalam sesi-sesi terdahulu, tetap tidak ada upaya lain kecuali sekadar memunculkan respons lelaki itu.

Pada sesi selanjutnya, dengan pasien dalam kondisi sadar, Erickson mengajaknya membahas apa yang kira-kira bisa ia harapkan untuk masa depan. Kata Erickson, ini akan merupakan kesempatan untuk merenungi masa lalu, melihat kembali semua keluhan dan kesulitan, dan mengingat kemajuan terapi. Yang terpenting, pasien bisa menguji semua pencapaiannya, melihat keberhasilan terapi dalam mewujudkan apa yang ia harapkan untuk menjadi normal.

Pasien kemudian dihipnotis dan Erickson mengulangi pembahasan yang sama. Dalam keadaan trance somnambulistik, pasien kemudian dibawa ke waktu tertentu, pada suatu hari di masa mendatang.

Proyeksi waktu membawa pasien ini ke masa sekitar lima bulan ke depan,
dalam situasi ia mengunjungi Erickson. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk menyampaikan apa saja yang terjadi sejak ia selesai menjalani terapi.

Erickson mensugesti bahwa ia mungkin ingin memulai dengan cerita singkat tetapi menyeluruh tentang masa lalu sebagaimana yang ia lihat dalam pelbagai adegan di bola-bola kristal. Sekitar 10 menit ia menyampaikan ceritanya tentang kejadian-kejadian di masa lalu. Selama itu ia menunjukkan sikap bersimpati, dan bukan kecemasan, ketakutan luar biasa, atau kemurungan yang sering ia perlihatkan sebelumnya.

Selanjutnya pasien disugesti bahwa mungkin akan lebih mudah baginya untuk melaporkan perkembangan terapi dengan cara membayangkan kejadian-kejadian penting dalam bola-bola kristal. Jadi, ia bisa santai saja melihat kejadian-kejadian tersebut.

Lelaki itu sangat antusias. Ketika ia memandang berbagai adegan halusinasi dalam bola kristal, semangat dan kegembiraannya meningkat. Laporannya bisa diringkaskan begini:

1. Aku sedang berjalan, hendak mengunjungi Dr. X (dokter yang selama ini menanganinya). Tidak, aku melintasinya saja. Kupikir, “Syukurlah, saya tidak harus ke sana lagi.”

2. Aku berenang dan—lihatlah, aku akan menyelam.

3. Lihat, aku meminta kenaikan gaji kepada bos. Ia akan memberikannya. Sialan, aku tak bisa mendengar berapa ia akan menaikkan gaji.

4. Astaga! Kaulihat itu? Si tolol itu selalu memarkir mobilnya menghalangi mobilku sehingga aku tak bisa mengeluarkannya dan harus menunggu orang itu setengah jam kemudian. Sekarang aku bilang kepadanya agar ia parkir di tempat lain dan tolong dipahami alangkah jengkelnya aku karena ia selalu menutupi jalanku.

5. Aku di gedung bioskop. (Ia ditanya apa gambar yang ia lihat.) Siapa yang ada di layar? Aku sedang mencumbu pacarku.

6. Sekarang aku berada di galeri bersama seorang gadis—ini gadis lain—dan kami kemudian keluar makan siang. Ia cantik.

7. Aku bicara di depan sekelompok orang. Aku tidak ingat yang mana, karena aku juga bicara di tempat-tempat lain, tetapi aku tidak melihatnya dengan jelas.

8. Mobilku dicat dan aku mengenakan pakaian baru. Tampak keren. Aku bahkan mengenakannya ke tempat kerja.

Setelah itu ia dibawa kembali ke masa sekarang dan dibangunkan dalam keadaan amnesia terhadap apa saja yang terjadi sepanjang sesi berlangsung. Selain itu, ia diminta tidak memberikan respons terhadap apa pun yang mungkin terjadi selama sesi kecuali mematuhi instruksi yang diberikan kepadanya. Ia pulang, mengeluh sangat kelelahan. Dan datang lagi keesokan harinya. Prosedur yang sama dijalankan lagi. Ia dibawa ke masa tujuh bulan ke depan, dan responsnya serupa dengan sebelumnya. Erickson memulai sesi dengan mengatakan sebagai berikut:

“Seingatku, kau kemari dua bulan lalu. Kau datang untuk menyampaikan kemajuanmu. Aku membuatmu trace dan memintamu menggambarkan dirimu sendiri di bola-bola kristal sehingga kau bisa menyampaikan cerita secara utuh.

“Sekarang, kupikir kau masih ingat semua hal yang kaukatakan dan kaulihat dua bulan lalu itu. Abaikan saja apa yang kulihat atau kulakukan; kau hanya perlu mengingat apa yang kauceritakan dan kaulihat dan kaulakukan selagi kau menyampaikan ceritamu. [Ini untuk menjaganya dari ingatan tentang instruksi-instruksi hipnotik yang ia terima sebelumnya, terutama yang berkaitan dengan proyeksi waktu.]

“Sekarang lihat lagi semua hal itu. Di antaranya ketika kita bertemu pertama kali dan bahkan, lebih jauh lagi, tentang masalah yang telah membawamu datang kepadaku. Sekarang pikirkan baik-baik, secara jernih dan menyeluruh, dan kemudian sampaikan kepadaku.”

Dan inilah ringkasan respons pasien:

“Saya benar-benar berantakan dan menyedihkan ketika pertama kali bertemu denganmu. Seperti bayi cengeng yang selalu merengek. Saya tidak yakin kau bisa membuatku berdiri tegak.

“Aku tidak begitu tahu apa yang terjadi. Rasanya seperti mimpi, tapi itu bukan mimpi. Apa pun yang kaukatakan menjadi kenyataan. Aku seorang bocah, aku lebih besar, lebih besar lagi, kadang semua berlangsung bersamaan. Dengan caramu kau membuat aku mengalami kembali seluruh kehidupanku. Aku benar-benar mengalaminya kembali.

”Kemudian kau membuatku melihat itu semua di bola-bola kristal. Aku di dalam bola kristal. Dan aku yang ada di luar menyaksikan semuanya. Beberapa yang kusaksikan di sana sungguh menyedihkan. Tetapi aku sendirilah yang menyedihkan.

“Namun yang paling kusukai, tetapi aku tidak yakin akan terjadi, adalah ketika kau memintaku menceritakan semua yang kuinginkan. Kemudian entah bagaimana aku mulai melakukan hal-hal itu. Aku tidak tahu itu karena aku mestinya berada di ruangan ini tetapi aku tidak di sini. [Erickson memotongnya, dan memberikan instruksi hipnotik agar ia hanya melaporkan apa yang ia lihat dan lakukan dan tidak perlu mencoba memahami situasinya.]

“Yah, aku melakukan semuanya. Itu sungguh mengejutkan! Oh, aku merasa benar-benar nyaman akan hal itu. Aku senang melakukannya. Aku kaget sendiri ketika aku mengajak waitress itu kencan. Ia manis. Dan kenaikan gajiku 10 dolar. Dan ketika kubilang kepada lelaki sialan itu tentang mobilnya yang menghalangi mobilku, ia bersikap jantan. Dan aku merasa demikian juga. Aku datang ke Dr. X suatu hari karena ia benar-benar memperhatikanku. Kurasa ia mempercayaiku, bahkan sekalipun ia tidak bisa membantuku.”

Dan ia meneruskan ceritanya, dengan kepercayaan diri, perasaan aman, dan kegembiraan, sebuah fantasi tentang keberhasilan terapi. Semua sesuai dengan situasinya. Semua memiliki nilai penting bagi dirinya menyangkut realitas yang harus ia hadapi.

Ketika ia selesai, Erickson memberitahu bahwa ia akan dihipnotis. Teknik ini dilakukan untuk membawanya ke situasi sekarang. Sekali lagi, sebagaimana sesi sebelumnya, ia disodori sugesti post-hypnotic untuk amnesia terhadap semua kejadian yang ia alami.

Masih dalam keadaan trance, ia diberi perintah ambigu bahwa pertemuan berikutnya mungkin berlangsung minggu depan, tetapi pertemuan itu bisa berlangsung bisa juga tidak. Beberapa kejadian akan menentukan apakah pertemuan itu berlangsung minggu depan atau tidak. Namun, yang jelas ia akan datang lagi, jika tidak minggu depan, mungkin dua bulan lagi.

Erickson membangunkannya dan membuatnya amnesia dan menyuruhnya pulang tanpa menyebutkan kapan harus datang lagi. Ia tampak kelelahan dan linglung.

Lelaki itu tidak muncul sampai delapan minggu berikutnya. Ia datang lagi dengan pakaian baru, dan mobilnya dicat baru dan kulit joknya baru. Seorang gadis dengan penampilan atraktif menemaninya, ia sekretaris. Begitu datang ia langsung bilang bahwa ia ingin menceritakan kepada Erickson beberapa kejadian terakhir yang dialaminya. Laporannya ringkasnya sebagai berikut:

Sekitar satu minggu setelah sesi terakhir ia merasa bingung, tapi pada saat yang sama ia memiliki “perasaan” bahwa “sesuatu yang baik sedang terjadi” padanya. Kemudian suatu hari saat bekerja ia bertanya-tanya mengenai pertemuan berikutnya. Tapi sebelumnya ia bisa membuat keputusan, secara impulsif ia meminta kenaikan gaji kepada bosnya. Tidak hanya gajinya dinaikkan, ia juga dipindahkan ke posisi yang lebih baik. Hal ini memberinya kegembiraan luar biasa dan kepercayaan diri.

Saat meninggalkan kantornya malam itu, ia tidak menunggu di dalam mobilnya dengan kemarahan terpendam seperti biasanya, karena mobilnya terhalang, tetapi ia ajak lelaki itu minum bir. Sambil minum-minum, ia bilang kepada lelaki itu dengan nada datar, “Kupikir kau terus-menerus menghalangi mobilku karena aku lembek dan tak bernyali. Mulai sekarang, singkirkan mobilmu dan kita minum bir saja.”

Masalah selesai dengan obrolan ringan.

Dengan kegembiraan yang meluap, ia makan malam di restoran lain malam itu, ngobrol asyik dengan pramusaji, dan mengajaknya nonton. Pramusaji menolak, tetapi ia tetap tenang oleh penolakan itu dan pergi menonton film sendirian.

Selanjutnya ia pindah ke kamar kontrakan yang lebih baik di lokasi yang lebih baik. Dalam proses berpindah, ia buang semua yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun. “Aku benar-benar membersihkan rumah,” katanya.

Sejak itu, ia menjalani hidup normal dan menikmati hal-hal yang menyenangkan bagi kebanyakan orang. “Tiba-tiba saja aku telah membuang semua perangai burukku,” katanya. “Itu mudah jika kau sudah berani memulainya. Aku tidak pernah mencobanya sebelum ini. Aku berpacaran dengan perempuan, hubungan kami stabil. Tapi kami akan melihat lebih jauh apakah kami benar-benar saling mencintai. Kesehatanku membaik. Aku tidak kalut lagi oleh sakit kepala ringan atau rasa nyeri seperti sebelum-sebelumnya.”

Dua tahun setelah itu, ia dan si sekretaris berencana menikah.

Sedikit penjelasan tentang fantasi sadar dan fantasi bawah sadar

Dalam pseudo-orientasi waktu, kita membuat pasien berfantasi tentang keberhasilan terapi. Ini adalah fantasi bawah sadar. Lalu apa beda antara fantasi bawah sadar dan fantasi sadar?

Fantasi sadar merupakan angan-angan yang terpisah dari realitas. Ia tidak lebih dari lamunan atau harapan yang seringkali jauh dari kenyataan. Fantasi bawah sadar, yang dimunculkan melalui pendekatan pseudo-orientasi waktu, adalah proses psikologis untuk mewujudkan realitas. Di sini bawah sadar terlibat dalam mewujudkan keberhasilan tersebut.

Fantasi bawah sadar bukanlah angan-angan belaka, melainkan sebuah niat bawah sadar yang akan dijalankan dalam waktu yang tepat. Dengan kata lain, fantasi bawah sadar bukanlah lamunan yang menjadi sarana orang untuk melarikan diri dari realitas. Ia adalah penilaian serius bawah sadar, dalam bentuk fantasi, tentang realitas. Dan itu berangkat dari pemahaman (bawah sadar) subjek terhadap diri sendiri.

Langkah-langkah menerapkan pseudo-orientasi waktu

Dalam percakapan ringan dengan pasien, anda bisa menyodorkan perumpamaan tentang mimpi dan bagaimana orang bisa bermimpi mengalami kejadian yang berlangsung beberapa hari, beberapa minggu, atau bahkan beberapa bulan ke depan, seolah-olah masa depan berlangsung hari ini.

* Ceritakan pengalaman pribadi anda berkaitan dengan proyeksi waktu ke depan itu kepada pasien atau subjek anda.

* Sampaikan metafora tentang amnesia dan bagaimana kita lupa pada mimpi kita. Bahkan kita lupa pada pengalaman bahwa kita telah melakukan hal-hal yang tepat dalam situasi masa depan itu—namun tanpa kita sadari kita tahu bahwa kita sudah melakukan itu.

* Perkenalkan tentang trance yang menyenangkan dengan meminta subjek mengingat kembali rencana-rencananya di waktu lalu dan yang ia inginkan di masa datang.

* Perdalam trance subjek anda dengan teknik-teknik yang anda kenali. Bisa dengan hitungan, hand levitation, memberikan tugas ganda, dan sebagainya.

* Arahkan subjek ke masa depan (tidak spesifik waktunya), biarkan subjek sendiri yang menentukan waktu yang ia inginkan.

* Bawa subjek ke waktu tertentu, kira-kira beberapa hari sebelum waktu yang ia pilih. Misalnya, ia memilih hari ulang tahunnya, anda membawanya ke beberapa hari sebelum hari ulang tahun itu.

* Sodorkan tantangan untuk memotivasi subjek dan kemudian hadapkan ia pada “kejutan” untuk memunculkan respons bawah sadarnya dalam mengatasi tantangan tersebut. Ini diikuti dengan pembahasan-pembahasan tentang perubahan yang bisa menyelesaikan masalahnya. Di sini terapis menyampaikan berbagai intervensi terapetik atau “resep” dalam mengatasi masalah tersebut.

* Bawa subjek ke situasi sekarang dan bangunkan dengan amnesia.

Catatan akhir:

Secara ringkas, anda menerapkan teknik pseudo-orientasi waktu dengan cara memberikan sugesti post-hypnotic untuk memunculkan serangkaian perilaku baru. Ini adalah perilaku baru yang berguna bagi subjek untuk mengatasi masalahnya. Kemudian proyeksikan ia ke masa depan dan mintalah subjek mengatasi situasi tertentu dengan perilaku barunya. Setelah itu bawa kembali subjek ke masa sekarang dan bangunkan dengan kondisi amnesia.

Untuk membawa subjek ke masa depan, anda bisa melakukannya dengan teknik yang simpel saja. Intinya, anda mensugesti subjek, dalam keadaan deep trance, untuk mengingat tanggal sekarang, menyampaikan bahwa detik, menit, dan jam berjalan, esok hari datang, dan hari ini menjadi kemarin. Dan saat hari-hari berlalu, minggu ini akan segera berlalu dan kemudian tiba-tiba bulan berganti. Tidak perlu tergesa-gesa dalam menerapkan teknik ini. Anda perlu akurat dalam menyampaikan pergantian waktu dari masa kini ke masa depan, dan sebaliknya ketika membawa subjek dari masa depan ke masa sekarang.

Mengenai tanggal tertentu di masa depan, kenapa sebaiknya subjek memilih sendiri tanggal tersebut? Karena tanggal pilihan hipnotis mungkin tidak tepat. Untuk itu, biarkan subjek menentukan sendiri tanggalnya. Tentu saja anda perlu mengembangkan pembicaraan dengan pasien sedemikian rupa sehingga ia mudah menemukan tanggal yang ia inginkan. Ketika tanggal mendatang itu tidak diketahui, anda bisa mensugesti subjek untuk melihat keluar melalui jendela. Saat ia melukiskan apa yang ia lihat di luar sana, secara tidak langsung itu akan mengingatkannya pada waktu tertentu, musim tertentu, dan sebuah lokasi tertentu.

Salah seorang subjek Erickson ketika diminta melihat ke luar jendela segera melukiskan situasi siang hari di waktu natal, ketika orang-orang sibuk berbelanja di kota kecil di pelosok. Begitulah, tanggal dan hari segera ditemukan.***

Teknik Induksi Surprise

| A.S. Laksana | Seorang perempuan berusia 40-an menemui saya dengan berbagai simptom yang dideritanya. Ia mengidap migren, pembengkakan pad...

| A.S. Laksana |

Seorang perempuan berusia 40-an menemui saya dengan berbagai simptom yang dideritanya. Ia mengidap migren, pembengkakan pada limpa, dan ada masalah dengan keseimbangan tubuh, dan beberapa simptom lain.

Ia dan suaminya sudah berumah tangga selama 17 tahun. Sampai saat itu, kebanyakan ia bercerita tentang hubungannya yang begitu menyiksa dengan kedua orang tua suaminya. Menurutnya, kedua mertuanya selalu menyalahkan dia dan membandingkan dirinya dengan menantu perempuan mereka yang lain. Selain itu, dari ceritanya, saya mendapatkan informasi bahwa suaminya juga sering sakit-sakitan. “Ia sering jadi sasaran kemarahan saya,” katanya.

“Jadi kalian sudah berumah tangga 17 tahun dan sekarang kalian berdua sakit-sakitan,” kata saya. “Kenapa tidak bercerai saja?”

Ia memandangi saya dengan ekspresi kosong.

“Tujuh belas tahun berumah tangga dan kalian berdua makin bodoh dalam mengelola hubungan. Apakah kalian akan menghabiskan waktu untuk menjadi lebih bodoh lagi? Kautahu, segala sesuatu, apa saja, hanya patut dilanjutkan jika itu membuatmu lebih baik, lebih sehat, lebih produktif. Hal yang sama berlaku juga bagi suamimu.”

Ia masih diam dan tampak putus asa.

“Sekarang pejamkan matamu dan lihatlah rumah tangga kalian. Jika kau bisa melihat sesuatu yang baik di sana, lihatlah apa yang baik itu.... sesuatu yang membuatmu lebih sehat untuk meneruskan rumah tangga--itu pun jika ada satu saja hal baik pada rumah tangga kalian, yang akan membuat kalian lebih pintar dalam mengelola hubungan, dalam berkomunikasi. Tetapi aku tidak yakin kalian bisa berkomunikasi dengan baik, kecuali kau tahu caranya....”

Dengan cepat ia mengikuti sugesti yang saya sampaikan kepadanya. Itu menenteramkannya. Saran saya kepadanya untuk "bercerai saja" telah memberinya kejutan. Itu saran yang sama sekali tidak ia duga. Meskipun suatu ketika dalam benaknya mungkin pernah terpikir untuk mengakhiri rumah tangga, terutama di saat-saat ia berada di puncak keputusasaan menghadapi mertua atau menghadapi situasinya, namun bagaimanapun saran untuk bercerai tak pernah ia duga akan muncul dari orang lain. Dan apa yang tak terduga itu membuatnya gelagapan dan kosong sejenak, tak tahu harus apa, atau menanggapinya dengan cara bagaimana. Dan pada saat ia gelagapan itu saya menyusulkan sugesti bahwa “Kalian berdua sama-sama bodoh dalam mengelola hubungan.”

Ia tak bisa membantah itu, dan ketika ia tampak semakin kewalahan, saya memintanya memejamkan mata.

Anda tahu, apa-apa yang tak terduga akan menjadi kejutan bagi seseorang. Dan kejutan membuat pikiran sadar orang menjadi kosong (blank) sejenak. SItuasi seperti ini memungkinkan bagi terapis untuk menyodorkan gagasan, perilaku, atau sugesti baru dan menyusupkannya langsung ke pikiran bawah sadar.

Prinsip kejutan atau surprise adalah memunculkan situasi distraksi dan kebingungan pada pihak subjek yang menerima kejutan itu. Terapis dalam hal ini melakukan sesuatu yang tidak lazim atau tak terduga, yang menyebabkan distraksi atau kebingungan, yang membuat pasien mengembangkan kekosongan beberapa saat. Dalam konteks terapi, situasi blank beberapa saat ini bisa disebut sebagai momen kreatif. Inilah momen di mana terapis bisa leluasa menyusupkan sugesti, perilaku baru, atau gagasan yang akan mudah diterima oleh pasien.

Milton Erickson sangat ahli dalam mengembangkan kebingungan pada subjek atau pasiennya. Dengan beragam cara, verbal maupun non-verbal, ia bisa membuat subjek atau pasiennya kebingungan, sehingga satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu perintah darinya. Pada saat itulah sugesti untuk “tidur” atau memasuki kondisi “trance” dengan mudah dijalankan oleh subjeknya.

Catatan
Tulisan ini merupakan penggalan dari naskah berjudul Teknik-Teknik Induksi Surprise yang berisi seluruh prinsip dan strategi untuk menerapkan kejutan, baik verbal maupun non-verbal. Versi utuh dari tulisan ini saya sajikan sebagai materi dalam kursus online Ericksonian Hypnosis. Untuk melihat 106 materi lengkap yang disajikan dalam kursus tersebut, silakan klik Your Steps toward Becoming Ultimate Hypnotherapist. Anda bisa mencicipi “kelas percobaan” dengan mengikuti kursus online gratis 7 hari. Silakan.

Induksi Trance Melalui Aktivitas yang Disukai *)

| A.S. Laksana | Ini teknik induksi yang sangat mudah dilakukan dan biasanya efektif. Anda tahu, secara alami orang akan memasuki trance ket...

| A.S. Laksana |

Ini teknik induksi yang sangat mudah dilakukan dan biasanya efektif. Anda tahu, secara alami orang akan memasuki trance ketika mengingat aktivitas yang ia sukai, di suatu tempat, di sebuah situasi. Bahkan setiap kegiatan, apa pun jenisnya, secara alami akan mendorong ke arah trance. Menari, bermain catur, menyanyi, membaca, menonton televisi, berjudi, berolah raga, berpiknik, dan sebagainya.

Untuk menerapkan teknik ini, hal pertama yang anda lakukan adalah menggali dari subjek berbagai hobi dan kesenangan yang ia lakukan di waktu senggang. Mungkin ia suka membaca buku, suka menonton film, memainkan alat musik, mendengarkan lagu, menulis, menerbangkan layang-layang, bepergian ke pantai, ke gunung, atau ke tempat-tempat mana pun yang memberinya perasaan senang.

Jika subjek anda belum pernah berurusan dengan hipnosis sebelumnya, anda bisa memberi penjelasan awal kepada subjek bahwa trance adalah fenomena alami, dan dalam keseharian ia sebenarnya sudah sering mengalaminya tanpa ia tahu bahwa itu trance. Penjelasan semacam ini akan memudahkan subjek untuk nantinya memasuki kondisi trance, sebab ia kini memiliki gambaran yang cukup tentang hipnosis dan apa yang dinamakan kondisi trance.

Anda bisa memulai sesi hipnosis dengan percakapan ringan saja. Dalam hal ini, anda bisa membuat percakapan di seputar hobi subjek anda atau kegiatan di waktu senggang yang paling ia sukai. Kepada subjek yang menyukai pantai, misalnya, saya mengajaknya bercakap-cakap tentang pantai. Saya mula-mula membicarakan pengalaman saya sendiri tentang pantai dan apa yang saya lakukan di sana, tetapi itu sebenarnya arahan kepada subjek untuk mengingat pengalamannya sendiri di pantai.

“Yah, pantai selalu memberi perasaan tertentu yang menyenangkan, atau memberi ketenteraman. Atau mungkin juga perasaan rileks, merasakan kebebasan laut lepas di depan mata kita.... Ada debur ombak membuai telinga kita, ombak yang membentuk garis lurus dan berkejaran menuju pantai... Dan kautahu, angin pantai selalu memberi perasaan berbeda.... ia bertiup agak kencang, memberi kesejukan pada wajah dan tubuhmu, membawa uap air laut dan bau asin garam.... Ya, begitulah, aroma laut entah kenapa selalu menyenangkan.

“Dan Aku tidak ingat kapan pertama kali ke pantai, tetapi itu di waktu kecil...

“Oke, sekarang kau duduklah yang nyaman, kedua kakimu menapak lantai, kedua tanganmu di atas paha.... (saya memberikan contoh bagaimana ia harus duduk) Kau bisa memilih satu titik untuk kaupandangi... Itu agar pandanganmu fokus ke satu titik, dan kupingmu tidak bergeser-geser dari tempatnya.... Aku bicara pada kupingmu, jadi kau perlu memastikan bahwa ia tetap pada tempatnya....”

ASL: Sekarang, kapan kau pertama kali ke pantai?

Subjek: Mmm... masih SD...

ASL: Mmm... masih ingusan, bukankah begitu?

S: (tertawa) Ya, masih ingusan....

ASL: Ya, bocah ingusan yang menyukai pantai.... Apakah bisa dikatakan bahwa ia jatuh cinta pada pantai....

S: Mmmm.... mungkin saja.... mungkin jatuh cinta....

ASL: Mmmm... mungkin saja.... kau tidak tahu pasti apakah kau jatuh cinta pada pantai. Begitu maksudmu?

S: Saya kira... jatuh cinta... ya benar....

ASL: Hmmm, bocah ingusan yang jatuh cinta pada pantai... kedengarannya indah, kan?

S: (matanya menerawang, pupilnya membesar, ekspresi wajahnya tampak datar, dan ia tersenyum)

ASL: Sekarang, kau lihat bocah ingusan itu di pantai.... dengan siapa dia di sana?

S: Teman-teman sekolah.... mereka begitu bebas....berlarian, membuat istana pasir...

ASL: Kau tidak ikut bermain....

S: Takut bajuku kotor.... aku sayang jika bajuku kotor....

ASL: Mmmm... kau jatuh cinta pada pantai dan kau tidak menikmatinya... karena takut bajumu kotor. Begitu?

S: Orang tuaku.....

ASL: Orang tuamu...?

S: Kami miskin.... baju seragamku harus awet.... aku ingin bermain air seperti mereka, tapi takut air laut membuat pakaianku cepat rusak...

ASL: Jadi kau tak pernah berendam di air laut, tak pernah merasakan gulungan ombak kecil menghantam tubuhmu... tak pernah benar-benar menikmati pasir pantai di telapak tanganmu?

S: Mmmm... setelah besar.... setelah punya anak. Bersama anak dan istriku... kami ke pantai dan bermain apa saja dari pagi hingga senja...

ASL: Sekarang, kau perhatikan teman-teman SD-mu. Mereka berlarian di tepi pantai, air laut membasahi kaki-kaki kecil mereka, merasakan hamparan pasir di telapak kaki, merasakan ombak kecil menghantam batang-batang kaki.... Ada kecipak air ketika mereka berlarian.... dan membangun istana pasir. Dan kau ingin seperti mereka... Dan kau baru melakukannya bertahun-tahun kemudian.

Aku tahu kau ingin sekali seperti mereka... tetapi kau bisa membayangkan melakukan apa pun seperti mereka.... Dan pikiranmu bisa membayangkan apa pun... Bermain air laut di dalam benak....membangun istana pasir di dalam benak... merasakan angin bertiup sejuk... matahari hangat di kulitmu... dan merasakan butir-butir pasir di telapak kaki dan tanganmu... dalam benak....

Dan itu seperti kau bermimpi pada waktu tidur... Kau bisa memimpikan apa saja di waktu tidur... dan kau bisa bermimpi melakukan hal yang paling kausukai.... kau seperti berendam di air laut, membangun istana pasir, tetapi sebenarnya kau berbarig di tempat tidur....

Kau merasakan kenyamanan itu semua dengan seluruh inderamu.... Dan merasakan ketenteraman dalam pikiranmu.... Dan kau jatuh cinta pada pantai ketika kecil... tanpa berani menikmati perasaan jatuh cintamu.... sebab kau berada di pantai, menyaksikan teman-temanmu bebas bermain apa saja di sana, dan kau sesungguhnya tidak berada di sana... Pikiranmu melayang ke tempat lain dan itu membuatmu tidak bisa sebebas yang kauinginkan.... Bukankah begitu?

Tetapi akhirnya kau bisa melakukan apa saja di pantai, sebuah tempat yang membuat si bocah ingusan jatuh cinta, dan kau sekarang bisa merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh teman-temanmu waktu itu... dan kau bisa merasakan itu semuanya...

Kau tahu, sangat penting bagimu untuk merasakan kegembiraan untuk melakukan apa saja sebebas-bebasnya sebagaimana yang kaukehendaki.... Dan sangat penting untuk mewujudkan apa yang kauinginkan.... dan kau sudah tahu bagaimana perasaanmu ketika kau bisa mewujudkan itu... berendam di air laut, merasakan pasir, betul-betul menikmati tiupan angin laut, merasakan pakaianmu basah oleh air laut... kau bisa melihat pakaian itu melekat di kulitmu, merasakannya, dan kau tak lagi takut bajumu rusak oleh air laut...

Itu sebuah keberhasilan yang menyenangkan, bukan?

S: (mengangguk)

ASL: Sekarang kau boleh memejamkan matamu, atau tetap melek meskipun kelopak matamu sudah terasa berat....Kau memiliki pilihanmu sendiri untuk memejamkan mata atau tidak memejamkannya. Yang penting saat ini adalah kau bisa merasakan kembali kegembiraanmu di pantai... Bocah ingusan yang memendam keinginan itu kini sudah tahu persis seperti apa perasaan gembira yang dimiliki oleh teman-temannya....

Jika waktunya tiba bagimu untuk tidur, sekarang, kau bisa tidur dengan tenteram, sebab bocah ingusan itu kini sudah benar-benar memiliki kegembiraan pantai yang ia inginkan. Maka, jika sekarang kau memutuskan untuk memejamkan matamu, biarkan itu terjadi dengan sendirinya. Aku sendiri lebih suka kau baru memejamkan mata pada saat sudah benar-benar memasuki trance....

***

CATATAN

Sebelum mengakhiri materi kali ini, saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa setiap aktivitas yang menyenangkan di waktu senggang bisa digunakan untuk induksi trance. Bahkan setiap kegiatan sehari-hari. Anda bisa menginduksi dengan aktivitas membaca novel yang menarik, menonton televisi, mendengarkan musik, atau apa saja kegiatan favorit subjek anda di waktu senggang. Karena itu penting bagi anda mengetahui hobi dan kesenangan subjek anda.

Hanya, yang perlu anda perhatikan, hindari menggunakan kegiatan-kegiatan yang bisa membahayakan bagi subjek. Menyopir mobil bisa anda gunakan untuk menginduksi trace, tetapi itu sangat membahayakan. Jika anda menggunakannya untuk menginduksi trance, maka sangat mungkin ia akan mengulangi situasi trance-nya saat sedang mengemudikan mobil. Dan itu sungguh berbahaya.***

_________________

*) Ini adalah salah satu materi yang saya sajikan dalam Kursus Online Gratis 7 Hari. Itu semacam kelas percobaan, agar anda mendapatkan gambaran yang memadai tentang seperti apa materi dan cara penyampaian yang saya gunakan dalam Kursus Online Ericksonian Hypnosis: Your Steps toward Becoming Ultimate Hypnotherapist

Si Tukang Manipulasi

| A.S. Laksana | Seorang pemuda menelepon pada hari Kamis ketika saya sedang tidak ingin menerima tamu. Hari itu saya menyiapkan kolom untuk...

| A.S. Laksana |

Seorang pemuda menelepon pada hari Kamis ketika saya sedang tidak ingin menerima tamu. Hari itu saya menyiapkan kolom untuk Jawa Pos, pekerjaan rutin tiap pekan. Biasanya saya menulis kolom itu hari Jumat, tetapi saya harus maju karena ada acara pelatihan di Samarinda. “Saya mau ke rumah anda,” katanya. “Saya mau beli ebook Ericksonian, tetapi saya mau datang langsung saja ke rumah anda.”

“Saya tidak bisa hari ini,” jawab saya.

“Ini saya sudah di depan anda,” katanya.

Ia menelepon di depan rumah saya, berdiri di samping pengendara motor yang mengantarkannya. Rupanya ia diantar tukang ojek. Saya sendiri sedang bekerja di teras rumah ketika menjawab teleponnya. Apa boleh buat. Saya mempersilakan masuk tamu yang sudah di depan rumah.

“Saya sebenarnya sudah ikut pelatihan hipnosis,” katanya ketika ia sudah duduk di kursi depan saya. “Apakah saya masih perlu beli ebook anda?”

“Kau sebenarnya sudah ikut pelatihan hipnosis dan kau menanyakan apakah masih perlu beli ebook saya. Dan apa yang kaulakukan dengan hipnosis?”

“Saya juga sudah menerapi orang,” katanya.

“Kau sudah menerapi orang. Maksudmu, kauapakan orang itu ketika kau menerapi orang?”

“Saya hipnotis dia, Pak,” jawabnya.

“Kauhipnotis dia. Kauapakan lagi?”

“Saya beri sugesti, Pak.”

“Sekarang kausugesti aku agar berhenti merokok. Bagaimana sugestimu?”

“Mulai sekarang dan seterusnya, setiap kali anda mengisap rokok yang anda nyalakan, asap rokok terasa pahit di mulut anda dan perut anda mual.”

“Kau menipu aku. Aku sudah bertahun-tahun merokok dan asap rokok tidak pahit dan perutku baik-baik saja.”

“Kan rasa bisa dimanipulasi, Pak?”

“Kulaporkan kau ke polisi kalau begitu.”

Dia tertawa.

"Tapi kan rasa bisa dimanipulasi, Pak?"

"Berapa lama?"

"Iya sih, Pak. Saya pernah mensugesti teman saya untuk berhenti merokok. Hari itu ia berhenti, tapi besoknya ia saya lihat merokok lagi."

“Sekarang, ulangi lagi dari awal. Kau menghipnotis dia. Dan dia terhipnotis?”

“Ya, dia terhipnotis.”

“Kautahu dia terhipnotis?”

“Tahu, Pak. Dia tidur.”

“Dia tidur. Dan menurutmu dia terhipnotis. Kau bisa membedakan apakah kau sedang tidur biasa atau kau sedang tidur hipnotik? Kau bisa menunjukkan bagaimana kau memasuki tidur hipnotik menurut pengalamanmu?”

“Bisa, Pak.”

Dia mengatur duduknya, meletakkan kedua tanganya di paha, memejamkan matanya. Saya kembali menulis. “Sekarang kau menikmati waktumu, dan aku melanjutkan pekerjaanku. Tapi kautahu aku di sebelahmu, menunggumu, menunggu isyaratmu. Nanti kalau sudah lelap sekali tidurmu, beri tahu aku. Kau bisa menganggukkan kepalamu pelan-pelan saja saat kau memasuki trance, atau menggeleng-gelengkan kepalamu jika kau belum memasuki trance. Oke, kau menunggu, aku juga menunggu munculnya isyarat itu.

“Sambil menunggu, kau bisa pergi ke tempat yang kausukai di masa kecilmu... pada umur enam.... Kau bisa bermain-main di sebuah tempat lapang, lapangan yang besar sekali bagi anak kecil umur enam. Dan itu hanya pekarangan kecil di mata orang dewasa. Tetapi mata anak umur enam berbeda dari mata orang dewasa....

“Dan mungkin itu sore hari, matahari hangat, kau melakukan sesuatu yang sudah kaulupakan, menikmati rumput di telapak kakimu, menikmati waktumu sebagai kanak-kanak.... menikmati lagi kegembiraanmu, ketika kau tak memikirkan apa pun, tak mendengar panggilan ketika kau asyik bermain.... Sebab kau menikmati waktumu, menikmati situasimu, menikmati pengalaman menarik yang orang lain tidak tahu. Itu hanya milikmu....”

Beberapa saat kemudian ia memberikan isyarat anggukan kepala pelan-pelan, dan terus-menerus. Lalu saya menyampaikan kepadanya agar bangun bagian kepala saja. Ia bangun mengerjap-ngerjapkan mata. Dan kemudian bertanya, “Jadi saya ini bagaimana, Pak?”

“Menurutmu kau bagaimana? Kau merasa lebih enak?”

“Ya, enak sekali. Tapi pulangnya nanti bagaimana, tubuh saya masih tidur.”

“Kau tidak tahu caranya karena kau baru mengalami kejadian seperti ini sekarang, tapi aku tahu caranya. Untuk bisa bangun, kau harus tidur lagi... lebih lelap dari sebelumnya. Sekarang tidurlah.”

Matanya kembali terpejam, dengan gerakan malas.

“Ya, begitu. Lebih lelap dari sebelumnya. Nikmati tidurmu secukupnya. Dan ketika kau bangun nanti, segera selesaikan urusanmu. Kaubilang kau datang untuk membeli ebook, segera selesaikan urusanmu dan pulanglah dengan perasaan senang. Aku akan melanjutkan urusanku. Tukang ojekmu menunggu.”

Saya melanjutkan menulis. Beberapa waktu kemudian, ia bangun, mulet-mulet sebentar.

“Kau naik ojek ke sini?” tanya saya.

Ia masih mengerjap-ngerjapkan mata. Setelah sepenuhnya sadar. Ia mengambil dompetnya, membayar ebook yang ia beli, dan segera pamit.

“Tidak bisa lama-lama, Pak. Kasihan tukang ojeknya nunggu.”

Menganalisa dan Memahami Erickson Bekerja

| A.S. Laksana | Baru-baru ini seseorang menanyakan, melalui sms, bagaimana cara termudah untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Erickson. ...

| A.S. Laksana |

Baru-baru ini seseorang menanyakan, melalui sms, bagaimana cara termudah untuk melakukan apa yang dilakukan oleh Erickson. Saya jawab pendek saja, “Meniru apa yang ia lakukan.” Namun jawaban pendek itu memiliki konsekuensi yang panjang dalam benak saya. Pertanyaan tersebut dan jawaban singkat yang saya berikan telah mendorong saya untuk berpikir lebih serius, mempertimbangkan lebih cermat, dan menyampaikan sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan menyangkut proses pembelajaran.

Jika anda benar-benar berkeinginan meniru cara Erickson melakukan apa yang ia lakukan, maka yang anda lakukan pertama-tama adalah memahami kenapa ia menyampaikan kalimat-kalimat atau sugesti seperti itu. Apa pesan terselubung yang ia sampaikan? Respons apa yang ia kehendaki dari subjek? Bagaimana cara ia membuat subjek mengikuti sugesti-sugestinya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, mau tidak mau anda harus melakukan analisa atas serangkaian sugesti yang Erickson sampaikan dalam sesi hipnosisnya dengan subjek. Di bawah ini adalah contoh analisa saya terhadap kalimat-kalimat yang disampaikan oleh Erickson kepada subjeknya di tahap-tahap awal induksi trance. Subjek ini tidak memiliki pengalaman dengan hipnosis sebelumnya.

Subjek duduk di kursinya. Erickson menyadarkan subjek itu tentang situasi di sekelilingnya, kadang ia akan menyebutkan benda apa saja yang ada di ruangan. Di bawah ini ia hanya menyebut satu benda.

Lihat salah satu sudut atas gambar itu.
Sudut atas gambar itu.
Sekarang aku akan bicara padamu.
(Pause beberapa saat)

Itu adalah cara tidak langsung untuk meminta subjek memusatkan perhatian karena ia akan bicara. Pada saat mengatakan kalimat tersebut, meskipun Erickson tidak melihat wajah subjek, ia akan mengikuti perubahan-perubahan dalam mimik muka, regangan otot di seluruh tubuh, tarikan dan hembusan nafas subjeknya. Mencermati perubahan-perubahan tanpa melihat langsung kepada subjek, itu mudah ia lakukan karena jam terbang. Setelah memfokuskan perhatian subjek, maka mulailah ia menyiapkan pembelajaran awal.

Ketika kau pertama kali masuk taman kanak-kanak, sekolah dasar,
urusan mempelajari huruf-huruf dan angka tampak sebagai urusan besar.

Mempersiapkan pembelajaran di awal induksi ini selalu dilakukan oleh Erickson, terutama kepada subjek-subjek yang belum memiliki pengalaman dengan hipnosis. Ia bicara tentang pengetahuan yang sudah dimiliki oleh subjek. Itu seperti ia mengatakan, “Mempelajari sesuatu yang baru pasti memerlukan upaya keras, tetapi kau sudah pernah melakukannya dan kau berhasil. Sekarang gunakan pengetahuanmu untuk belajar memasuki kondisi trance.”

Bagaimana mengenali huruf A
Membedakan huruf Q dan O sangat, sangat sulit.
Dan mendapati bahwa tulisan tangan dan huruf cetakan sangat berbeda.
Tapi kau belajar membentuk gambaran mental tentang itu semua.
Kau tidak menyadarinya saat itu, tapi itu gambaran mental yang permanen.

Dalam serangkaian sugesti di atas, Erickson menggunakan truisme, serangkaian sugesti yang kebenarannya sudah jelas. Truisme adalah dasar sugesti hipnotik. Prinsip Erickson dalam penggunaan truisme adalah bahwa sugesti selalu diberikan dalam bentuk yang bisa diterima secara mudah oleh subjek, sehingga subjek tidak mungkin mendebatnya.

Dan kemudian pada pelajaran tatabahasa, kau membentuk gambaran mental yang lain tentang kata-kata atau gambar-gambar kalimat.
Kau mengembangkan semakin banyak gambaran mental tanpa tahu bahwa kau sedang mengembangkan gambaran mental.
Dan kau bisa mengingat semua gambaran itu.
(Pause beberapa saat)

Jika hipnoterapis lain memusatkan perhatian subjek dengan meminta subjek memandang satu titik tertentu, Erickson lebih suka membawa subjeknya berfokus pada gambaran mental. “Lebih mudah berurusan dengan gambaran di benak orang,” katanya. “Ada banyak gambaran dalam benak. Orang bisa dengan mudah tergelincir dari satu gambaran mental ke gambaran lainnya selagi ia diam di tempatnya.” Pada saat subjek sudah asyik masyuk dengan gambaran mentalnya, mulailah ia menyodorkan gagasan tentang peralihan situasi.

Oke, sekarang kau bisa pergi ke mana pun yang kauinginkan, dan membawa dirimu sendiri ke situasi apa pun yang kaukehendaki.
Kau bisa merasakan air
Kau mungkin ingin berenang di dalamnya.
(Pause beberapa saat)
Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan.

Sugesti di atas terdengar seolah-olah ia memberikan kebebasan mutlak kepada subjek untuk memilih apa pun yang ia kehendaki, tetapi sesungguhnya ia mengarahkannya ke “air”. Lebih dari itu, hal lain yang penting adalah ia mulai memperkenalkan peralihan situasi (altered state atau kondisi hipnotik) tanpa bisa dikenali oleh pikiran sadar. Kemudian ia menyusulinya dengan sugesti-sugesti untuk memunculkan bawah sadar dan menon-aktifkan pikiran sadar.

Kau bahkan tidak harus mendengarkan suaraku
karena bawah sadarmu akan mendengarnya.
Bawah sadarmu bisa mencoba apa saja yang ia kehendaki.
Tetapi pikiran sadarmu tidak akan melakukan hal penting apa pun.

Memfokuskan perhatian subjek pada gambaran mental adalah cara cerdik Erickson untuk menyelinapkan sugesti-sugestinya ke pikiran bawah sadar. Keika pikiran sadar terfokus pada gambaran mental, ia tidak terlalu memperhatikan apa-apa yang dikatakan oleh Erickson. “Dengan cara itu, pikiran sadar tidak mengganggu jalannya komunikasi dengan pikiran bawah sadar,” katanya. Begitulah, dengan cara mengikat perhatian pikiran sadar pada keasyikan menikmati gambaran-gambaran mental yang sengaja dimunculkan sejak awal, Erickson melakukan “pekerjaan terselubung” untuk menyusupkan sugesti-sugesti ke pikiran bawah sadar. Dalam sesi contoh ini, setelah memunculkan bawah sadar, ia melanjutkannya dengan sugesti untuk makin menyempitkan respons: hanya fokus pada respons kelopak mata.

Kau akan memperhatikan bahwa pikiran sadarmu tetap sadar karena ia membuat kelopak matamu bergetar.
Selain menyempirkan fokus hanya ke kelopak mata, dengan sugesti itu Erickson memberikan ketenteraman kepada subjek tentang keadaannya saat itu. Ia membuat perasaan subjek aman karena diyakinkan bahwa ia “tetap sadar”, karena bisa membuat kelopak mata bergetar.

Kalimat sebab-akibat ini berpola non-sequitur. Ia seolah-olah sebab-akibat, tetapi sebetulnya kedua bagiannya tidak saling berhubungan sebagai sebab-akibat. Masing-masing bekerja sendiri. Sugesti pertama menenteramkan pikiran sadar, sugesti kedua mengelabuinya dan bekerja di level bawah sadar. Menggetarkan kelopak mata sesungguhnya adalah urusan bawah sadar. Orang tidak mungkin bisa menggetarkan kelopak mata secara sadar.

Selanjutnya ia memperkuat kemunculan bawah sadar melalui serangkaian sugesti yang hanya bisa direspons oleh bawah sadar.

Tetapi kau mengubah tarikan nafasmu.
Kau mengubah denyut nadimu.
Kau mengubah tekanan darahmu.
Dan tanpa mengetahuinya, kau memperlihatkan apa yang bisa diperlihatkan oleh subjek hipnotik.

Bagaimana cara orang mengubah denyut nadi? Itu bukan pekerjaan pikiran sadar. Bagaimana orang mengubah tekanan darah? Itu juga bukan pekerjaan pikiran sadar. Subjek hanya perlu merasakannya, dan mengalaminya, dan itu berarti ia membiarkan bawah sadar melakukan pekerjaannya tanpa gangguan pikiran sadar.

Dalam hal ini, sugesti-sugesti yang disampaikan juga berpola truisme. Namun, truisme yang sekarang ini hanya bisa dibenarkan dengan cara melakukan pembuktian internal. Subjek tidak pernah menyadari semua yang disampaikan itu, dan ketika semua itu disampaikan, subjek jadi menyadari bahwa “memang telah terjadi perubahan”. Pada saat pikiran sadar semakin melemah, yang bisa dilakukan oleh subjek pada saat itu bukanlah menguji benar-tidaknya pernyataan-pernyataan tersebut, tetapi sekadar melakukan pembuktian untuk membenarkan bahwa kondisinya memang sudah berubah.

Lalu ia melanjutkannya dengan kalimat samar, seolah-olah menanggapi respons subjek terhadap sugesti sebelumnya, tetapi sesungguhnya ia sedang menyingkirkan segala gangguan dari luar.

Tidak ada yang benar-benar penting
kecuali aktivitas pikiran bawah sadarmu.

Dalam situasi ini, seorang hipnotis tidak pernah benar-benar tahu apa yang tengah berlangsung dalam diri subjeknya. Bagaimana pun selalu ada kemungkinan-kemungkinan suara-suara dari luar mengganggu proses internal si subjek. Erickson memberikan sugesti yang memungkinkan subjeknya untuk melemahkan gangguan dari luar, tanpa menegaskan ada gangguan dari luar. Namun jika gangguan itu ada, pasien bisa menurunkan intensitas gangguan itu dengan sugesti ini. Selanjutnya ia mempersiapkan subjek dengan sugesti untuk memunculkan fenomena hipnotik.

Dan kau bisa mencoba apa saja yang dikehendaki oleh bawah sadarmu.
Ini adalah contoh sugesti yang menyodorkan kepada subjek sebuah “kebebasan ilusif”. Ini menguatkan bentuk kebebasan sebelumnya yang sudah disodorkan, di mana Erickson seolah-olah membebaskan subjek untuk pergi ke mana pun, tetapi ia mengarahkannya ke air.

Dalam kebebasan ilusif kali ini, Erickson menyisipkan kata “mencoba” yang menyiratkan adanya kesulitan atau penghalang bagi seseorang untuk melakukan sesuatu. Orang sering bilang, “Ya, saya akan coba,” dan biasanya ia gagal.

Kenapa Erickson tidak menggunakan kalimat “Dan kau bisa melakukan apa saja yang dikehendaki oleh bawah sadarmu”? Kenapa ia memakai kata “mencoba”?

Itu tampaknya disengaja oleh Erickson untuk untuk memblok bawah sadar subjek sampai ia menerima pengarahan-pengarahan berikutnya dari Erickson. Subjek itu tidak punya pengalaman dengan hipnosis, maka Erickson harus memberikan perasaan bahwa hipnosis aman baginya dan jika ia gagal atau kesulitan dalam pembelajarannya kali ini, itu hal yang wajar. Implikasi lainnya adalah, "Kau boleh mencoba apa saja, tetapi kau akan gagal tanpa pengarahanku."