8:30 AM
| 3 April 2018 | KAMI bertemu dan ia mengatakan: Saya tidak bisa dihipnotis. Umurnya mungkin lima tahun di bawah saya. Ia mengen...
| 3 April 2018 |
KAMI bertemu dan ia mengatakan: Saya tidak bisa dihipnotis.
Umurnya mungkin lima tahun di bawah saya. Ia mengenakan baju putih dan celana jins biru. Beberapa hari sebelumnya kami berkontak lewat pesan singkat dan ia menceritakan sudah menemui beberapa praktisi hipnosis, tetapi tidak satu kali pun ia bisa dibuat trance dalam sesi-sesi hipnosis.
“Tidak apa-apa,” kata saya. “Tidak setiap orang bisa dihipnotis. Dan itu bukan berarti kau lebih hebat dari orang-orang lain yang bisa dihipnotis.
“Tidak bisa dihipnotis hanya membuktikan bahwa kau tidak bisa diberi sugesti. Sugesti artinya saran. Tidak bisa diberi sugesti artinya tidak bisa diberi saran atau tidak bisa mengerjakan saran dari orang lain.
“Dan itu bagus-bagus saja selama kau bisa memberi saran kepada dirimu sendiri.
“Baru akan menjadi masalah besar jika kau tidak bisa memberi saran kepada dirimu sendiri dan sekaligus tidak bisa menerima saran dari orang lain.”
Saya menanyakan kenapa ia meluangkan waktu datang ke rumah saya. Ia terdiam beberapa saat dan kemudian menjawab ingin tahu dari saya tentang hipnosis. “Untuk apa mengetahui tentang hipnosis dari saya?” tanya saya.
Ia terhenti lagi, kelihatan berpikir, mungkin mencari jawaban yang ia pikir tepat tentang kenapa ia ingin tahu hipnosis dari saya. Akhirnya ia mengatakan ingin mendapatkan pengetahuan lebih banyak tentang hipnosis.
“Tetapi anda bukan orang yang bisa menerima saran,” kata saya. “Bagaimana mungkin anda bisa mendapatkan pengetahuan lebih banyak jika anda tidak bisa menerima saran? Dan anda ingin mendapatkan pengetahuan hipnosis lebih banyak tanpa pernah mengalami kondisi hipnotik?”
Lelaki di hadapan saya tampak tidak nyaman dengan ucapan terakhir saya. Dan saya membuatnya semakin tidak nyaman dengan kalimat selanjutnya:
“Dan saya bukan orang yang suka membuang-buang waktu. Saya pikir tidak ada gunanya bercakap-cakap dengan orang yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menerima sugesti. Itu sama dengan omong kosong. Saya tidak suka membuang-buang waktu untuk suatu omong kosong.”
Akhirnya ia mengatakan: “Saya sebetulnya ingin juga mengalami keadaan trance. Tetapi mereka mengatakan saya tidak bisa dihipnotis. Dan memang saya tidak pernah bisa memasuki kondisi trance dalam semua sesi hipnosis yang saya jalani.”
“Jadi, anda menemui saya untuk membuktikan sekali lagi bahwa ucapan mereka benar? Bahwa anda tidak bisa dihipnotis?” tanya saya. “Saya menolak dijadikan alat penegasan untuk urusan yang tidak ada manfaatnya. Kenapa tidak membuktikan bahwa ucapan mereka keliru? Apa jadinya jika ucapan mereka keliru? Apa jadinya jika anda bisa dihipnotis? Harga diri anda merosot?”
Dengan ogah-ogahan saya kemudian memenuhi keinginannya untuk dihipnotis. Saya sudah tahu hasilnya ketika ia mulai menyiapkan diri untuk proses induksi: Ia ingin membuktikan bahwa ucapan mereka keliru. Ia bisa dihipnotis dan untuk pertama kalinya bisa menikmati keadaan trance.
Anda ingin mencobanya? Trance hipnotik adalah pengalaman yang sangat menyenangkan.***
6:21 PM
| A.S. Laksana | 11 Desember 2017 | Inti dari praktek Ericksonian Hypnosis adalah sugesti tidak langsung. Dan alat paling efektif untuk...
| A.S. Laksana | 11 Desember 2017 |
Inti dari praktek Ericksonian Hypnosis adalah sugesti tidak langsung. Dan alat paling efektif untuk menyampaikan sugesti tidak langsung adalah cerita. Setiap orang menyukai cerita, sebab cerita membuat nyaman pikiran. Percakapan paling asyik di antara teman-teman kebanyakan adalah pertukaran cerita, bukan bertukar petuah atau nasihat atau khotbah.
Kita saling berbagi cerita dengan teman bicara kita, tentang apa saja, dan percakapan kita bisa berlangsung berjam-jam. Anda bisa lupa waktu jika bercakap-cakap dengan teman yang memiliki banyak cerita menarik.
Di samping itu memberikan kenyamanan, cerita juga akan secara otomatis menggiring perhatian pendengarnya untuk fokus ke arah topik yang sedang diceritakan.
Jika anda berniat mendalami Ericksonian Hypnosis, anda perlu melatih kecakapan bercerita. Bercerita apa saja. Ngawur tidak apa-apa, yang penting anda memiliki cerita untuk disampaikan. Melalui cerita, anda memfokuskan perhatian subjek ke arah yang anda inginkan.
Dan itu hal yang cukup mudah untuk dilakukan. Misalkan anda ingin membuat seseorang memfokuskan perhatian pada masa kecilnya, anda bisa menceritakan teman-teman masa kecil anda sendiri. Mungkin anda ingin orang itu mengingat kejadian-kejadian dengan teman masa kecil yang paling mengganggu, anda bisa menceritakan teman masa kecil yang paling mengganggu. Anda bisa mengatakan: “Masa kecil bisa menyenangkan jika kita memiliki teman-teman yang menyenangkan. Tetapi, tidak semua teman menyenangkan. Ada teman masa kecil yang sangat nakal, sering membully teman-teman lain, dan sepertinya tidak bisa dilawan.”
Respons alami orang ketika mendengar ucapan seperti itu adalah mengingat teman-teman masa kecilnya, dan ketika ia mendengar tentang teman yang suka membully, ingatannya akan segera tergiring ke arah temannya sendiri yang suka membully.
Selanjutnya, untuk semakin memfokuskan perhatian, anda bisa mengajukan pertanyaan:
“Apakah kau juga memiliki teman seperti itu?”
“Ia juga pernah mengganggumu?”
“Kau ingat apa yang telah dilakukannya terhadapmu?”
“Kau tidak berani melawannya?”
“Ya, kebanyakan dari kita mengalami hal itu, dan kita tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika mengalami hal seperti itu.”
Ericksonian Hypnosis adalah hipnosis yang sangat nyaman, sebab ia dilakukan seperti orang bercakap-cakap dan berbagi cerita. Karena itu anda perlu melatih kefasihan menyampaikan cerita, sehingga anda sendiri bisa nyaman saat menyampaikannya, dan ketika anda sendiri merasa nyaman, subjek akan merasakan kenyamanan anda dan ia juga akan ikut merasa nyaman.
Kenyamanan subjek akan membuatnya lebih mudah memasuki kondisi trance.
2:26 AM
Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance. SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnot...
 |
| Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance. |
SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnotis teman sendiri. Itu lebih sulit.
Saya melanggar itu. Subjek-subjek awal saya adalah teman-teman sendiri dan para kerabat.
Ini kejadian bertahun-tahun lalu. Seorang teman lama datang ke rumah, hari Sabtu waktu itu, pukul sepuluh malam. Kami ngobrol-ngobrol apa saja yang kami rasa menarik buat diobrolkan. Sebagian tentang masa lalu ketika kami bekerja di tempat yang sama, sebagian lagi tentang urusan kami masing-masing sekarang. Kepadanya saya bilang bahwa saya masih menulis (cerpen-cerpen saya masih muncul sesekali di koran-koran). Di luar urusan menulis, kata saya, “Saya menghipnotis orang.”
“Kau bisa?” tanyanya.
Pada waktu itu saya sudah dua tahun mendalami hipnosis Milton Erickson dan menjadi seperti pemain sirkus yang keranjingan melakukan atraksi di kandang sendiri.
Saya hipnotis anak saya, saya tidurkan keponakan saya, saya bikin teler adik-adik ipar saya, mertua saya, dan tetangga kiri kanan. Namun istri saya selalu menghindar. Ia hanya senang melihat saya melakukannya pada siapa saja, tetapi ia punya kecurigaan yang tidak masuk akal terhadap hipnosis sehingga tidak pernah mau mencobanya.
Saya tidak pernah memintanya menjadi subjek sampai akhirnya ia sendiri tertarik setelah memastikan bahwa hipnosis ternyata aman-aman belaka.
Kepada kawan saya, saya ceritakan beberapa hal yang saya lakukan dan perasaan nikmat yang didapatkan oleh orang yang memasuki kondisi trance. Saya perhatikan ia tertarik. Akhirnya, ia mengajukan pertanyaan: “Kalau saya, apakah bisa dihipnotis?”
Ini kesempatan untuk memainkan jurus kepada orang luar yang bukan penghuni kandang.
Ketika membaca buku-buku Erickson dan beberapa buku hipnosis lain, saya membaca semua materi dalam bahasa Inggris. Saya mencermati pola-pola sugesti Erickson dan memindahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Berikutnya saya berlatih membuat skrip sendiri, dengan subjek imajiner, menciptakan sejumlah metafora versi saya sendiri. Semuanya dalam bahasa Indonesia.
Sekarang, saya menghadapi subjek berbahasa Jawa. Akan saya sampaikan dalam bahasa apa sugesti-sugesti untuknya?
Saya tak terbiasa berbahasa Indonesia dengan teman saya ini. Namun jika harus mensugesti dalam bahasa Jawa, pasti mumet kepala saya.
Persoalan lainnya, apakah teman saya akan menganggap saya serius bisa menghipnotis? Jangan-jangan ia menganggapnya sebagai guyon belaka dan akan tertawa terbahak-bahak ketika saya mencoba membuatnya tidur.
Sepanjang berlangsungnya keruwetan di dalam benak, saya meminta teman saya duduk nyaman di kursinya dan menaruh kedua telapak tangannya di atas paha. “Jangan biarkan tanganmu saling bersentuhan,” kata saya dalam bahasa Jawa. Kemudian saya meminta matanya melihat gagang pintu yang ada di hadapannya. Ia menuruti semua yang saya minta.
Pada saat itu sebuah ilham seperti datang tiba-tiba. Saya pikir saya akan berterus-terang saja menyampaikan keruwetan saya kepadanya. Masih dalam bahasa Jawa, saya bilang, “Oke, biasanya kita ngobrol dalam bahasa Jawa. Jika kita ngobrol dalam bahasa Indonesia, percakapan kita pasti akan terdengar seperti ketoprak humor. Begitu, kan?”
Ia tertawa.
Lanjut saya, “Tapi, sekarang, saya sesekali mungkin akan menggunakan bahasa Jawa, sesekali bahasa Indonesia, dan itu baik-baik saja ... Yang terpenting di sini, kau bisa memahami apa yang kusampaikan selagi kau duduk nyaman di kursimu ... menikmati ketenteraman kursi itu ... dan matamu tetap pada gagang pintu. Dan itu membuat kepalamu diam tenang ... dan itu membuat kupingmu tidak bergerak-gerak dan tetap diam di tempatnya.”
Setelah berterus terang seperti ini saya merasa lebih enteng, dan lebih enak berkomunikasi dengannya dalam bahasa campur-campur.
Teman saya tampak tenang dan tidak mempermasalahkan kalimat-kalimat yang pasti terdengar aneh jika digunakan dalam percakapan biasa. Sesungguhnya, dalam hipnosis, anda punya keuntungan bisa berkomunikasi dalam kalimat-kalimat semacam itu, yang akan terasa ganjil dalam ukuran percakapan sehari-hari.
“Sekarang, penting bagimu menjaga kupingmu tetap diam di tempatnya... sebab itu kuping yang kuajak bicara ... dan itu kuping yang bisa mendengar semua suara ... Dan, kau juga tahu, kupingmu bisa pula mengabaikan suara apa saja dan memilih hanya mendengarkan suaraku....”
Erickson melakukan hal ini. Saya hanya menirukan apa saja yang bisa saya ingat.
“Sekarang, kau bahkan bisa mengabaikan suaraku jika kau mau ... dan kau tidak mendengar apa pun ... sebab bawah sadarmu siap melakukan tugasnya ... dan ia dekat sekali denganku ... ia dalam jangkauan suaraku ... karena itu ia selalu bisa mendengar suaraku .... Dan suaraku akan selalu mengikutimu ... ia menjadi suara ayahmu, ibumu, suara teman-temanmu, gurumu, tetanggamu ... dan menjadi suara angin, suara hujan ... suara-suara yang kaukenal di masa kecil ... ketika kau suatu hari merasakan sesuatu yang membahagiakan di dunia masa kecilmu. Apakah itu ketika kau berada di ruang kelas?”
Lagi-lagi saya hanya menirukan Milton Erickson. Ia sering mengatakan kepada subjeknya, dengan cara yang penuh simpati: “And my voice goes everywhere with you … changes into the voice of your parents, your neighbors, your friends, your schoolmates, your playmates, your teachers … and the voices of the wind, and of the rain. And I want you to find yourself sitting in the school room, a little girl feeling happy about something, something that happened a long time ago, that you forgot a long time ago.”
Itu sugesti yang paling saya kagumi. Ia muncul dari seseorang yang sangat mencintai profesinya, seorang hipnotis yang menyayangi subjek-subjeknya.
“Sekarang, aku hanya berurusan dengan pikiran bawah sadarmu ... dan aku bahkan tidak peduli pikiran sadarmu memikirkan apa atau tidak memikirkan apa-apa sama sekali. Sebab aku hanya berurusan dengan bawah sadarmu ... dan ia bisa menangkap suaraku meskipun kupingmu tidak mendengar suaraku... dan suaraku hilang dari pendengaranmu.... Dan jika pikiran sadarmu lelah, ia bisa tidur begitu saja, dengan sendirinya ... Hanya, sekarang, kau perlu memastikan bahwa pikiran bawah sadarmu selalu terjaga ... ketika pikiran sadarmu tidur lelap, semakin lelap.”
Dan, kapan tidurnya teman saya ini?
Ia kelihatan semakin tenang, tetapi matanya tetap melotot ke arah gagang pintu.
“Biasanya orang bisa tidur dengan sendirinya, dan kau pun begitu, ketika kelopak matamu terasa semakin berat ... Mungkin itu didahului dengan satu kedipan ... dan mungkin disusul dengan dua atau tiga kedipan sekaligus....”
Saya menunggu ia mengedipkan kelopak matanya, dan isyarat itu tetap tidak muncul. Matanya masih melotot.
“Sekarang, kautahu, orang biasanya tidur dengan mata tertutup, tetapi kau bisa juga tidur dengan mata terbuka ... dan kau bisa memilih mana yang paling memberimu kenyamanan ... tidur dengan mata terbuka, atau tidur dengan mata tertutup ... Yang terpenting di sini, kau bisa tidur dengan nyaman, bahkan seandainya kau memilih tidur dengan mata terbuka. Dan, sekarang, aku hanya menunggu ... kau menunggu... apa pengalaman menyenangkan yang segera kaualami.”
Ia memilih menutup mata.
“Bagus! Begitulah, kau memilih tidur nyaman dengan mata tertutup. Dan itu sesuai pilihanmu sendiri... begitu matamu tertutup, tidurlah lelap... sangat lelap.”
Selanjutnya saya membuatnya tidur lebih nyenyak.***
3:13 AM
| A.S. Laksana | Seorang perempuan berusia 40-an menemui saya dengan berbagai simptom yang dideritanya. Ia mengidap migren, pembengkakan pad...
| A.S. Laksana |
Seorang perempuan berusia 40-an menemui saya dengan berbagai simptom yang dideritanya. Ia mengidap migren, pembengkakan pada limpa, dan ada masalah dengan keseimbangan tubuh, dan beberapa simptom lain.
Ia dan suaminya sudah berumah tangga selama 17 tahun. Sampai saat itu, kebanyakan ia bercerita tentang hubungannya yang begitu menyiksa dengan kedua orang tua suaminya. Menurutnya, kedua mertuanya selalu menyalahkan dia dan membandingkan dirinya dengan menantu perempuan mereka yang lain. Selain itu, dari ceritanya, saya mendapatkan informasi bahwa suaminya juga sering sakit-sakitan. “Ia sering jadi sasaran kemarahan saya,” katanya.
“Jadi kalian sudah berumah tangga 17 tahun dan sekarang kalian berdua sakit-sakitan,” kata saya. “Kenapa tidak bercerai saja?”
Ia memandangi saya dengan ekspresi kosong.
“Tujuh belas tahun berumah tangga dan kalian berdua makin bodoh dalam mengelola hubungan. Apakah kalian akan menghabiskan waktu untuk menjadi lebih bodoh lagi? Kautahu, segala sesuatu, apa saja, hanya patut dilanjutkan jika itu membuatmu lebih baik, lebih sehat, lebih produktif. Hal yang sama berlaku juga bagi suamimu.”
Ia masih diam dan tampak putus asa.
“Sekarang pejamkan matamu dan lihatlah rumah tangga kalian. Jika kau bisa melihat sesuatu yang baik di sana, lihatlah apa yang baik itu.... sesuatu yang membuatmu lebih sehat untuk meneruskan rumah tangga--itu pun jika ada satu saja hal baik pada rumah tangga kalian, yang akan membuat kalian lebih pintar dalam mengelola hubungan, dalam berkomunikasi. Tetapi aku tidak yakin kalian bisa berkomunikasi dengan baik, kecuali kau tahu caranya....”
Dengan cepat ia mengikuti sugesti yang saya sampaikan kepadanya. Itu menenteramkannya. Saran saya kepadanya untuk "bercerai saja" telah memberinya kejutan. Itu saran yang sama sekali tidak ia duga. Meskipun suatu ketika dalam benaknya mungkin pernah terpikir untuk mengakhiri rumah tangga, terutama di saat-saat ia berada di puncak keputusasaan menghadapi mertua atau menghadapi situasinya, namun bagaimanapun saran untuk bercerai tak pernah ia duga akan muncul dari orang lain. Dan apa yang tak terduga itu membuatnya gelagapan dan kosong sejenak, tak tahu harus apa, atau menanggapinya dengan cara bagaimana. Dan pada saat ia gelagapan itu saya menyusulkan sugesti bahwa “Kalian berdua sama-sama bodoh dalam mengelola hubungan.”
Ia tak bisa membantah itu, dan ketika ia tampak semakin kewalahan, saya memintanya memejamkan mata.
Anda tahu, apa-apa yang tak terduga akan menjadi kejutan bagi seseorang. Dan kejutan membuat pikiran sadar orang menjadi kosong (blank) sejenak. SItuasi seperti ini memungkinkan bagi terapis untuk menyodorkan gagasan, perilaku, atau sugesti baru dan menyusupkannya langsung ke pikiran bawah sadar.
Prinsip kejutan atau surprise adalah memunculkan situasi distraksi dan kebingungan pada pihak subjek yang menerima kejutan itu. Terapis dalam hal ini melakukan sesuatu yang tidak lazim atau tak terduga, yang menyebabkan distraksi atau kebingungan, yang membuat pasien mengembangkan kekosongan beberapa saat. Dalam konteks terapi, situasi blank beberapa saat ini bisa disebut sebagai momen kreatif. Inilah momen di mana terapis bisa leluasa menyusupkan sugesti, perilaku baru, atau gagasan yang akan mudah diterima oleh pasien.
Milton Erickson sangat ahli dalam mengembangkan kebingungan pada subjek atau pasiennya. Dengan beragam cara, verbal maupun non-verbal, ia bisa membuat subjek atau pasiennya kebingungan, sehingga satu-satunya yang bisa dilakukan adalah menunggu perintah darinya. Pada saat itulah sugesti untuk “tidur” atau memasuki kondisi “trance” dengan mudah dijalankan oleh subjeknya.
Catatan
Tulisan ini merupakan penggalan dari naskah berjudul Teknik-Teknik Induksi Surprise yang berisi seluruh prinsip dan strategi untuk menerapkan kejutan, baik verbal maupun non-verbal. Versi utuh dari tulisan ini saya sajikan sebagai materi dalam kursus online Ericksonian Hypnosis. Untuk melihat 106 materi lengkap yang disajikan dalam kursus tersebut, silakan klik Your Steps toward Becoming Ultimate Hypnotherapist. Anda bisa mencicipi “kelas percobaan” dengan mengikuti kursus online gratis 7 hari. Silakan.
1:16 AM
| A.S. Laksana | Ini teknik induksi yang sangat mudah dilakukan dan biasanya efektif. Anda tahu, secara alami orang akan memasuki trance ket...
| A.S. Laksana |
Ini teknik induksi yang sangat mudah dilakukan dan biasanya efektif. Anda tahu, secara alami orang akan memasuki trance ketika mengingat aktivitas yang ia sukai, di suatu tempat, di sebuah situasi. Bahkan setiap kegiatan, apa pun jenisnya, secara alami akan mendorong ke arah trance. Menari, bermain catur, menyanyi, membaca, menonton televisi, berjudi, berolah raga, berpiknik, dan sebagainya.
Untuk menerapkan teknik ini, hal pertama yang anda lakukan adalah menggali dari subjek berbagai hobi dan kesenangan yang ia lakukan di waktu senggang. Mungkin ia suka membaca buku, suka menonton film, memainkan alat musik, mendengarkan lagu, menulis, menerbangkan layang-layang, bepergian ke pantai, ke gunung, atau ke tempat-tempat mana pun yang memberinya perasaan senang.
Jika subjek anda belum pernah berurusan dengan hipnosis sebelumnya, anda bisa memberi penjelasan awal kepada subjek bahwa trance adalah fenomena alami, dan dalam keseharian ia sebenarnya sudah sering mengalaminya tanpa ia tahu bahwa itu trance. Penjelasan semacam ini akan memudahkan subjek untuk nantinya memasuki kondisi trance, sebab ia kini memiliki gambaran yang cukup tentang hipnosis dan apa yang dinamakan kondisi trance.
Anda bisa memulai sesi hipnosis dengan percakapan ringan saja. Dalam hal ini, anda bisa membuat percakapan di seputar hobi subjek anda atau kegiatan di waktu senggang yang paling ia sukai. Kepada subjek yang menyukai pantai, misalnya, saya mengajaknya bercakap-cakap tentang pantai. Saya mula-mula membicarakan pengalaman saya sendiri tentang pantai dan apa yang saya lakukan di sana, tetapi itu sebenarnya arahan kepada subjek untuk mengingat pengalamannya sendiri di pantai.
“Yah, pantai selalu memberi perasaan tertentu yang menyenangkan, atau memberi ketenteraman. Atau mungkin juga perasaan rileks, merasakan kebebasan laut lepas di depan mata kita.... Ada debur ombak membuai telinga kita, ombak yang membentuk garis lurus dan berkejaran menuju pantai... Dan kautahu, angin pantai selalu memberi perasaan berbeda.... ia bertiup agak kencang, memberi kesejukan pada wajah dan tubuhmu, membawa uap air laut dan bau asin garam.... Ya, begitulah, aroma laut entah kenapa selalu menyenangkan.
“Dan Aku tidak ingat kapan pertama kali ke pantai, tetapi itu di waktu kecil...
“Oke, sekarang kau duduklah yang nyaman, kedua kakimu menapak lantai, kedua tanganmu di atas paha.... (saya memberikan contoh bagaimana ia harus duduk) Kau bisa memilih satu titik untuk kaupandangi... Itu agar pandanganmu fokus ke satu titik, dan kupingmu tidak bergeser-geser dari tempatnya.... Aku bicara pada kupingmu, jadi kau perlu memastikan bahwa ia tetap pada tempatnya....”
ASL: Sekarang, kapan kau pertama kali ke pantai?
Subjek: Mmm... masih SD...
ASL: Mmm... masih ingusan, bukankah begitu?
S: (tertawa) Ya, masih ingusan....
ASL: Ya, bocah ingusan yang menyukai pantai.... Apakah bisa dikatakan bahwa ia jatuh cinta pada pantai....
S: Mmmm.... mungkin saja.... mungkin jatuh cinta....
ASL: Mmmm... mungkin saja.... kau tidak tahu pasti apakah kau jatuh cinta pada pantai. Begitu maksudmu?
S: Saya kira... jatuh cinta... ya benar....
ASL: Hmmm, bocah ingusan yang jatuh cinta pada pantai... kedengarannya indah, kan?
S: (matanya menerawang, pupilnya membesar, ekspresi wajahnya tampak datar, dan ia tersenyum)
ASL: Sekarang, kau lihat bocah ingusan itu di pantai.... dengan siapa dia di sana?
S: Teman-teman sekolah.... mereka begitu bebas....berlarian, membuat istana pasir...
ASL: Kau tidak ikut bermain....
S: Takut bajuku kotor.... aku sayang jika bajuku kotor....
ASL: Mmmm... kau jatuh cinta pada pantai dan kau tidak menikmatinya... karena takut bajumu kotor. Begitu?
S: Orang tuaku.....
ASL: Orang tuamu...?
S: Kami miskin.... baju seragamku harus awet.... aku ingin bermain air seperti mereka, tapi takut air laut membuat pakaianku cepat rusak...
ASL: Jadi kau tak pernah berendam di air laut, tak pernah merasakan gulungan ombak kecil menghantam tubuhmu... tak pernah benar-benar menikmati pasir pantai di telapak tanganmu?
S: Mmmm... setelah besar.... setelah punya anak. Bersama anak dan istriku... kami ke pantai dan bermain apa saja dari pagi hingga senja...
ASL: Sekarang, kau perhatikan teman-teman SD-mu. Mereka berlarian di tepi pantai, air laut membasahi kaki-kaki kecil mereka, merasakan hamparan pasir di telapak kaki, merasakan ombak kecil menghantam batang-batang kaki.... Ada kecipak air ketika mereka berlarian.... dan membangun istana pasir. Dan kau ingin seperti mereka... Dan kau baru melakukannya bertahun-tahun kemudian.
Aku tahu kau ingin sekali seperti mereka... tetapi kau bisa membayangkan melakukan apa pun seperti mereka.... Dan pikiranmu bisa membayangkan apa pun... Bermain air laut di dalam benak....membangun istana pasir di dalam benak... merasakan angin bertiup sejuk... matahari hangat di kulitmu... dan merasakan butir-butir pasir di telapak kaki dan tanganmu... dalam benak....
Dan itu seperti kau bermimpi pada waktu tidur... Kau bisa memimpikan apa saja di waktu tidur... dan kau bisa bermimpi melakukan hal yang paling kausukai.... kau seperti berendam di air laut, membangun istana pasir, tetapi sebenarnya kau berbarig di tempat tidur....
Kau merasakan kenyamanan itu semua dengan seluruh inderamu.... Dan merasakan ketenteraman dalam pikiranmu.... Dan kau jatuh cinta pada pantai ketika kecil... tanpa berani menikmati perasaan jatuh cintamu.... sebab kau berada di pantai, menyaksikan teman-temanmu bebas bermain apa saja di sana, dan kau sesungguhnya tidak berada di sana... Pikiranmu melayang ke tempat lain dan itu membuatmu tidak bisa sebebas yang kauinginkan.... Bukankah begitu?
Tetapi akhirnya kau bisa melakukan apa saja di pantai, sebuah tempat yang membuat si bocah ingusan jatuh cinta, dan kau sekarang bisa merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh teman-temanmu waktu itu... dan kau bisa merasakan itu semuanya...
Kau tahu, sangat penting bagimu untuk merasakan kegembiraan untuk melakukan apa saja sebebas-bebasnya sebagaimana yang kaukehendaki.... Dan sangat penting untuk mewujudkan apa yang kauinginkan.... dan kau sudah tahu bagaimana perasaanmu ketika kau bisa mewujudkan itu... berendam di air laut, merasakan pasir, betul-betul menikmati tiupan angin laut, merasakan pakaianmu basah oleh air laut... kau bisa melihat pakaian itu melekat di kulitmu, merasakannya, dan kau tak lagi takut bajumu rusak oleh air laut...
Itu sebuah keberhasilan yang menyenangkan, bukan?
S: (mengangguk)
ASL: Sekarang kau boleh memejamkan matamu, atau tetap melek meskipun kelopak matamu sudah terasa berat....Kau memiliki pilihanmu sendiri untuk memejamkan mata atau tidak memejamkannya. Yang penting saat ini adalah kau bisa merasakan kembali kegembiraanmu di pantai... Bocah ingusan yang memendam keinginan itu kini sudah tahu persis seperti apa perasaan gembira yang dimiliki oleh teman-temannya....
Jika waktunya tiba bagimu untuk tidur, sekarang, kau bisa tidur dengan tenteram, sebab bocah ingusan itu kini sudah benar-benar memiliki kegembiraan pantai yang ia inginkan. Maka, jika sekarang kau memutuskan untuk memejamkan matamu, biarkan itu terjadi dengan sendirinya. Aku sendiri lebih suka kau baru memejamkan mata pada saat sudah benar-benar memasuki trance....
***
CATATAN
Sebelum mengakhiri materi kali ini, saya ingin menegaskan sekali lagi bahwa setiap aktivitas yang menyenangkan di waktu senggang bisa digunakan untuk induksi trance. Bahkan setiap kegiatan sehari-hari. Anda bisa menginduksi dengan aktivitas membaca novel yang menarik, menonton televisi, mendengarkan musik, atau apa saja kegiatan favorit subjek anda di waktu senggang. Karena itu penting bagi anda mengetahui hobi dan kesenangan subjek anda.
Hanya, yang perlu anda perhatikan, hindari menggunakan kegiatan-kegiatan yang bisa membahayakan bagi subjek. Menyopir mobil bisa anda gunakan untuk menginduksi trace, tetapi itu sangat membahayakan. Jika anda menggunakannya untuk menginduksi trance, maka sangat mungkin ia akan mengulangi situasi trance-nya saat sedang mengemudikan mobil. Dan itu sungguh berbahaya.***
_________________
*) Ini adalah salah satu materi yang saya sajikan dalam Kursus Online Gratis 7 Hari. Itu semacam kelas percobaan, agar anda mendapatkan gambaran yang memadai tentang seperti apa materi dan cara penyampaian yang saya gunakan dalam Kursus Online Ericksonian Hypnosis: Your Steps toward Becoming Ultimate Hypnotherapist
8:13 PM
| A.S. Laksana |
Dalam semiggu belakangan ini saya menikmati permainan kartu. Maksud saya, menghipnotis dengan menggunakan kartu sebagai...
| A.S. Laksana |
Dalam semiggu belakangan ini saya menikmati permainan kartu. Maksud saya, menghipnotis dengan menggunakan kartu sebagai alat bantu. Lumayan, dapat 3 subjek dalam waktu seminggu. Kurang sebetulnya, karena untuk menjalankan sebuah eksperimen saya pikir saya perlu menghipnotis paling tidak satu orang setiap hari, sehingga seharusnya ada 7 orang dalam seminggu. Namun beberapa teman sudah mudik, dan akhirnya saya hanya bisa mendapatkan tiga subjek yang bisa menemani saya bermain-main kartu. Di bawah ini pengalaman saya dengan subjek kartu pertama, seorang lelaki, 35 tahun:
"Sekarang pilihlah 10 kartu sesukamu. Sembarang saja... yang penting itu adalah kartu-kartu pilihanmu sendiri."
Ia memilih sepuluh kartu dan menyerahkannya ke saya.
"Aku akan membacakan kartu-kartu ini dan kita lihat apakah hipnosis akan berjalan lebih mudah ... karena kau sendiri yang memilih kartu-kartumu. Oke, duduklah senyaman mungkin di kursimu. Kedua kakimu menapak lantai, kedua tanganmu di atas paha. Ya, seperti ini...."
Saya memberikan contoh. M mengatur duduknya seperti yang saya contohkan.
"Sekarang, jika pembacaan berjalan normal, ketika aku membacakan kartu kelima, M, kau pasti sudah setengah tidur.... Maksudku, itu setengah perjalanan menuju tidur nyenyak ketika nanti aku selesai membaca kartu kesepuluh. Beberapa orang bisa tidur lebih cepat dari itu. Tetapi kau tak perlu lekas-lekas tidur. Yang penting kau menikmati prosesnya. Dan bukankah penting bagi kita menikmati proses?"
"Ya," katanya sambil mengangguk.
"Oke, ada meja, kursi, akuarium, gambar di dinding, pintu, gagang pintu, dan sejumlah benda lain di sekitarmu. Kau bisa melihatnya? Melihat semuanya?"
"Ya." Ia mengangguk.
"Tidak! Kautahu, orang tidak bisa melihat gambar di belakang punggungnya tanpa menoleh. Tetapi kau bisa merasakan kehadiran sesuatu di belakang punggungmu. Kadang kau bisa merasakan bahwa seseorang di belakangmu sedang mengamatimu meski kau tidak melihatnya. Bukankah begitu?"
"Ya. Beberapa teman mengatakan begitu...."
"Kau sendiri belum pernah merasakannya?"
"Eeee...."
"Sulit sekali untuk bilang belum?"
Ia tertawa.
"Sekarang, ada sejumlah benda di ruangan ini, dan kau tidak perlu melihat semuanya dalam satu waktu karena matamu bisa melihat satu saja. Satu benda saja… gagang pintu itu tepat di depanmu, bukan?"
"Ya."
"Kau bisa melihat gagang pintu itu, terus saja ke gagang pintu itu, selagi aku membacakan kartu pilihanmu sendiri.... Oke, lihat saja gagang pintu itu. Dan tentu saja telingamu bisa mendengarkan banyak suara selagi kau menikmati situasimu di sini…. Ada suara anak-anak di luar, suara motor, suara kipas angin di atas kepalamu, dan suara ruangan ini. Dan matamu bisa memilih satu benda, maka telingamu bisa memilih satu suara. Ya, begitu. Telingamu bisa memilih hanya satu suara dan menghilangkan suara-suara lain.
"Nah, karena aku berkomunikasi denganmu, telingamu bisa memilih hanya mendengar suaraku. Itu prinsip komunikasi yang baik. Kau bisa bercakap-cakap dengan temanmu di tempat yang sangat bising, dan kau bisa menyingkirkan semua suara kecuali suara temanmu.
"Tapi telingamu bahkan bisa menyingkirkan semua suara dan memilih tidak mendengar suara apa pun. Itu mudah sekali kaulakukan ketika kau tidur nyenyak. Semua suara hilang dari pendengaranmu ketika kau tidur nyenyak. Kau mengalaminya setiap hari, sehingga hal semacam itu bahkan bisa berlangsung dengan sendirinya tanpa kausadari. Semuanya berlangsung begitu saja. Kau bahkan tidak tahu kapan kau tertidur… dan kapan semua suara hilang dari pendengaranmu.
“Oke, sekarang aku akan membacakan satu demi satu kartu yang sudah kaupilih. Kau siap?”
Ia mengangguk.
Kemudian saya membacakan kartu-kartu tersebut. Itu kartu remi yang sudah diubah menjadi Kartu Ericksonian. Dengan struktur sugesti tertulis di sana. Dengan kalimat-kalimat contoh yang bisa dibacakan begitu saja. Saya membacakan kalimat-kalimat yang tertulis di kartu, membuat sedikit penyesuaian mengikuti respons subjek. Dan ia tidur nyenyak sebelum kartu kedelapan habis saya baca.
"Kau sudah tidur nyanyak sekarang sehingga aku tidak perlu membaca dua kartu terakhir?"
Ia mengangguk-angguk beberapa kali--dengan gerakan pelan. Dan saya menambahkan bahwa ia boleh menyingkirkan semua suara dari pendengarannya ketika tidurnya sudah sangat nyenyak. "Yang penting, bawah sadarmu menangkap suaraku meskipun telingamu kehilangan semua suara," kata saya.
Simpel dan sangat mudah
Dari pengalaman tiga kali menggunakan kartu, saya mendapati bahwa kartu ericksonian adalah alat bantu yang sangat memudahkan untuk membawa subjek memasuki trance. Sebagai alat bantu, kartu ini benar-benar memberikan bantuan optimum, bahkan bagi mereka yang baru mengenal Ericksonian Hypnosis. Mereka bisa menjalankan hipnosis tanpa upaya keras untuk memikirkan apa yang harus saya sampaikan? Setelah ini apalagi yang harus saya sampaikan?
Itu persoalan yang agak sering saya temui dari para pengamal otoritarian hipnosis yang mencoba mendalami Ericksonian: "Apa saja yang harus saya sampaikan untuk membuat subjek memasuki trance."
Kartu-kartu itu sudah memberi tahu anda apa yang bisa anda sampaikan dan kalimat-kalimat contoh di sana memberi keleluasaan kepada anda untuk melakukan improvisasi. Efek lain dengan kartu ini, anda bisa menjalankan hipnosis secara santai karena ia seperti bermain-main belaka. Jika kita sempat bertemu dalam pelatihan, atau dalam kesempatan apa pun, anda akan melihat betapa mudah mengoperasikan hipnosis dengan alat bantu ini.
5:08 AM
| A.S. Laksana | Gregory Bateson dan Margareth Mead, suami istri yang sama-sama antropolog dari AS, pernah membuat penelitian di Bali pada 1...
| A.S. Laksana |
Gregory Bateson dan Margareth Mead, suami istri yang sama-sama antropolog dari AS, pernah membuat penelitian di Bali pada 1930-an dan mereka menarik kesimpulan bahwa orang-orang Bali menjalani kesehariannya dalam keadaan trance. Itu karena seluruh tindakan sehari-hari mereka difokuskan demi melayani Sang Hyang Widi.
Delapan puluh tahun kemudian, saya kira situasi trance itu sudah meluas. Tidak hanya di Bali orang-orang menjalani keseharian dalam keadaan trance. Kini hampir semua orang Indonesia menjalani keseharian dalam keadaan trance. Saya ingin membahas situasi ini dari sudut pandang lain, berdasarkan pengetahuan yang saya dalami bertahun-tahun belakangan, yakni hipnosis.
Berkali-kali kita mendengar orang secara serampangan mengatakan, “Mereka dihipnotis” untuk menjelaskan bagaimana orang sanggup menjadi bagian dari gerakan terorisme. Baiklah, saya sepakat bahwa mereka dihipnotis. Namun, oleh siapa?
Mari kita bicarakan lebih jernih. Orang-orang yang mengamuk itu, yang kita dengar berita kejadiannya di berbagai tempat, adalah orang-orang yang berada dalam situasi di puncak kebingungan. Ini situasi yang mudah sekali membawa orang memasuki trance dan melakukan tindakan-tindakan di luar kesadaran.
Anda tahu, salah satu teknik paling manjur untuk membawa orang ke kondisi trance, yang dalam pertunjukan panggung anda lihat sebagai kondisi tidur, adalah membuat orang itu kebingungan. Mula-mula anda menyodorkan satu pernyataan, lalu anda susul dengan pernyataan berikutnya yang bertentangan. Pada saat itu subjek (sebutan untuk orang yang dihipnotis) akan menyadari bahwa anda melakukan kekeliruan, tetapi ia akan memaklumi bahwa mungkin anda sedikit selip.
Masalahnya, saat subjek memaklumi anda, dan menganggap itu hanya kekeliruan kecil yang tidak disengaja, anda menyusulkan pernyataan-pernyataan berikutnya yang terus bertentangan dan semakin membingungkan. Terkondisi oleh respons awalnya yang kooperatif terhadap kekeliruan anda, subjek mencoba mengabaikan sedikit kebingungannya itu. Sampai akhirnya ia akan mendapati dirinya terperangkap dalam berbagai kemungkinan respons yang saling bertentangan. Dan ia sudah tidak bisa apa-apa lagi.
“Pada saat berada di puncak kebingungan itulah maka sugesti positif apa pun akan diterima oleh subjek sebagai jalan keluar yang melegakan dan sekaligus membebaskan dirinya dari situasi yang membingungkan,” kata Milton Erickson, seorang hipnotis jenius dari AS dan pelopor hipnosis modern. “Itu adalah momen di mana ia menemukan sesuatu yang bisa dipegang dan direspons secara cepat dan memberinya perasaan tenteram.”
Yah, saya tidak bicara hipnosis yang diperagakan Uya Kuya, sebab itu bukan hipnosis melainkan sandiwara belaka. Orang-orang yang anda lihat tidur dan ngoceh dalam pertunjukan si Kuya adalah aktor yang memang diminta untuk berakting seperti itu. Ini kesimpulan saya. Dalam salah satu pertunjukannya, orang yang berakting sedang trance itu pernah ada yang bertanya, “Apa?” ketika omongan Kuya tidak tertangkap jelas olehnya.
Anda tahu, bertanya bukanlah karakter orang trance. Jika anda trance, anda hanya akan mengerjakan sugesti yang bisa anda jalankan. Ketika sugesti itu tidak tertangkap jelas, artinya tidak bisa dijalankan, anda hanya akan diam, bukan bertanya. Dalam kondisi itu, anda hanya menunggu datangnya perintah lain yang lebih jelas.
Begitulah, dengan efektivitasnya untuk melumpuhkan pikiran sadar, teknik membikin bingung selalu bisa diandalkan oleh hipnotis untuk membawa subjeknya memasuki kondisi trance. Orang akan mudah disuruh tidur ketika pikiran sadarnya sudah kewalahan dan kebingungannya tak tertangani lagi. Trance adalah situasi yang melegakan, yang membuat subjek terbebas dari situasi puncak kebingungan. Selanjutnya ia akan merespons sugesti dengan pikiran bawah sadar. Dan bawah sadar bisa menjalankan sugesti apa pun, memunculkan pelbagai fenomena yang musykil dilakukan oleh pikiran sadar.
Analogi itu tampaknya bisa menjelaskan kenapa orang bisa menjadi beringas dan bertindak di luar nalar. Atas nama apa pun. Bisa atas nama agama, bisa atas nama partai, bisa pula atas nama uang. Banyak orang hari ini dalam keadaan di puncak kebingungan. Kita diserbu oleh segala informasi yang membingungkan dan pelbagai hal yang tidak bisa kita jadikan pegangan.
Kita seperti subjek hipnotik yang sengaja diombang-ambingkan tanpa pernah ada penyelesaian. Apa yang bisa dijadikan pegangan hari ini? Pidato pemerintah? Tidak. Janji-janji pemerintah? Tidak juga. Statistik tentang keberhasilan pemerintah? Oh, yang menikmati keberhasilan statistik itu hanya pemerintah sendiri dan beberapa gelintir orang. Bagian terbesar masyarakat kita hidup seperti reptil—merambat dan melata—mencaplok apa yang ditemukan di jalanan. Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu? Ini juga makin terasa sebagai kebohongan.
Maka, apa yang harus dikerjakan untuk menenteramkan pikiran? Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi situasi yang membingungkan ini?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu biasa muncul di benak orang-orang yang menjadi subjek hipnosis. Mereka menunggu sebuah instruksi yang bisa mereka kerjakan. Dan instruksi untuk tidur, di saat orang sedang di puncak kebingungan adalah instruksi yang melegakan. Jadi, tidurlah dan lakukan semuanya begitu saja.
Perbedaannya, dalam hipnosis panggung, anda dibikin tidur dan disodori instruksi untuk melakukan tindakan musykil yang dimaksudkan untuk menghibur penonton. Dalam hipnoterapi anda dibawa memasuki trance dan diberi sugesti yang memudahkan anda menemukan sumberdaya terbaik yang anda miliki.
Milton Erickson meyakini bahwa setiap orang menyimpan segala sumberdaya yang dibutuhkan untuk menyingkirkan perilaku simptomatiknya. Sumberdaya semacam inilah yang diperkuat sehingga di masa-masa mendatang, anda bisa menghadapi situasi sulit dengan cara yang lebih sehat dan lebih produktif, bukan dengan perilaku simptomatik yang merugikan diri sendiri seperti yang selama ini dilakukan.
Yang terjadi dengan hipnosis massal terhadap warga negeri ini tidaklah demikian. Kita disodori tindakan-tindakan musykil yang jauh dari unsur menghibur dan sama sekali tidak membikin kita lebih sehat. Kita disodori tindakan tak sadar yang brutal dan menyebabkan orang kehilangan nyawa. Kita disodori perilaku antisosial, sebuah tindakan tanpa empati, dan itu adalah gangguan perilaku yang mengerikan.
Anda tahu, orang yang paling mudah terseret menjadi anggota kelompok-kelompok ajaib adalah orang-orang yang berada di puncak kebingungan. Mereka mencari kepastian atau apa pun yang bisa dijadikan pegangan. Dan kelak mereka akan melakukan hal-hal yang menurut anda tidak masuk akal. Tentu saja ketika mereka sudah meyakini bahwa tindakan beringas itu harus dilakukan untuk memerangi apa yang layak diperangi.
Dengan analogi semacam itu, saya hendak mengatakan bahwa pemerintah dan para elite politik kita tidak ubahnya adalah seorang hipnotis yang tidak bertanggung jawab. Mereka menjadi hipnotis terjahat karena yang mereka lakukan hanya membuat subjek kebingungan dan lantas meninggalkannya begitu saja. Mereka melumpuhkan pikiran sadar warga negara dan membiarkan mereka menemukan sendiri apa yang bisa membebaskan mereka dari situasi kacau yang membikin mereka kelelahan. Pendeknya, mereka membawa kita ke puncak kebingungan dan kemudian berlepas tangan.
Dan, anda tahu, dalam situasi ketika pikiran sadar nyaris lumpuh, orang hanya menunggu instruksi. Orang tidak lagi kritis dan menanyakan, “Apa?” seperti dalam sandiwara si Kuya. Hasilnya, anda bisa dibayar untuk mencoblos tanda gambar tertentu dalam pemilu. Anda bisa digerakkan untuk menyerang satu kelompok lain. Anda bisa didorong untuk meledakkan diri sendiri. Anda bisa diberi perintah untuk apa saja dengan alasan-alasan yang tampak remeh, atau bahkan tidak waras, di mata orang lain.
Maka, memang benar bahwa mereka dihipnotis. Dan anda sekarang tahu siapa yang sesungguhnya telah memberi peluang kepada mereka untuk menjadi sebrutal itu.***
------
*) Tulisan ini dimuat pertama kali sebagai kolom di Jawa Pos hari Minggu
6:04 AM
| A.S. Laksana | Seorang teman pernah menanyakan apakah aksi yang dipertontonkan oleh hipnotis di layar televisi itu sungguhan atau bohongan...
| A.S. Laksana |
Seorang teman pernah menanyakan apakah aksi yang dipertontonkan oleh hipnotis di layar televisi itu sungguhan atau bohongan. Ia menanyakan itu sebab, menurutnya, apa yang dipertunjukkan oleh para hipnotis di layar televisi terlalu berlebihan dan kadang seperti mengada-ada.
Saya tanyakan apa maksudnya. Ia bilang tidak percaya pada pertunjukan Uya Kuya. “Orang dalam keadaan trance tidak mungkin menjawab pertanyaan hipnotis selancar itu,” katanya. “Itu jawaban orang sadar. Lagipula saya pernah melihat dalam salah satu pertunjukan Uya Kuya, salah satu subjeknya menanyakan, ‘Apa?’ ketika ia tidak terlalu jelas menangkap pertanyaan yang diajukan oleh hipnotis.”
Terhadap keraguannya, saya mencoba netral saja. “Bagaimanapun, itu hanya pertunjukan,” kata saya. “Tentu saja sebuah pertunjukan harus menampilkan hal-hal yang sensasional, yang menakjubkan, dan aksi-aksi yang selalu berhasil. Kalau pertunjukan di televisi itu menayangkan aksi yang gagal, ia akan menjadi pertunjukan hipnosis yang menggelikan.” (Baca: Sesat Pikir tentang Hipnosis: "Lihat Mata Saya! Lihat Mata Saya!")
Perihal subjek yang menanyakan “Apa?” ketika tidak bisa menangkap jelas pertanyaan Uya Kuya, saya membenarkan pendapatnya. Dalam hipnosis, ketika subjek memasuki kondisi trance, ia menangkap sugesti dengan bawah sadar. Dan bawah sadar memiliki karakter menjalankan apa yang disampaikan kepadanya. Jika sebuah pesan tidak tertangkap jelas olehnya, paling-paling ia akan diam saja. Jika orang itu menanyakan “Apa?”, bisa dipastikan bahwa ia dalam keadaan sadar sepenuhnya.
Jadi saya agak yakin bahwa subjek Uya Kuya dalam pertunjukan yang dimaksudkan itu pastilah tidak dalam keadaan trance. Pikiran sadarnya masih sepenuhnya aktif. Kemungkinannya, ia hanya berpura-pura trance. Maka tidak aneh bahwa ia bisa menjawab dengan amat lancar.
Hal lain yang dipersoalkan oleh teman saya adalah keampuhan sugesti hipnotik Romy Rafael. Di layar televisi Romy Rafael sangat ampuh. “Ia bahkan bisa membuat seorang perempuan bertubuh kurus dan kecil dan tampak lemah menjadi mampu membengkokkan sebatang besi,” katanya. “Itu mengagumkan, tetapi saya tidak terlalu yakin dengan peragaan itu. Kalau hipnosis bisa membuat seorang perempuan kurus menjadi bionic woman, maka tentu si hipnotis bisa juga mensugesti seorang pengemis yang kering kerontang untuk merobohkan Tembok Besar Cina.”
Lagi-lagi saya hanya bisa bilang bahwa itu cuma hiburan yang harus terus-menerus menawarkan sensasi agar tetap bisa menghibur penonton. Tapi kali ini ia tidak puas atas jawaban saya.
Usut punya usut, rupanya ia pernah menjajal sugesti hipnotik Romy Rafael untuk dirinya sendiri. Itu rekaman skrip yang ia dapatkan dari buku “Quit Smoking” karangan Romy Rafael. Teman saya itu seorang perokok berat dan bisa menghabiskan lebih dari 2 bungkus rokok dalam sehari. Ia bilang, ketika ia berniat mendengarkan skrip tersebut, ia memang sama sekali tidak dalam keadaan ingin berhenti merokok, dan ia memang tidak ingin berhenti merokok hingga sekarang. Menurut pengakuannya, skrip tersebut membosankan dan hanya menyampaikan hal-hal yang ia sudah tahu.
Kawan saya ini bukan hipnotis dan tidak banyak memahami hipnosis. Mungkin, ketika ia memutuskan membeli buku "Quit Smoking" (dengan bonus CD audio), pikiran sadarnya mengatakan bahwa ia tidak ingin berhenti merokok, atau hanya ingin coba-coba saja apakah skrip untuk berhenti merokok punya efek pada orang yang pada saat itu tidak ingin berhenti. Namun, saya berasumsi bahwa ada keputusan bawah sadar yang tidak ia sadari. Jjika ia benar-benar tidak ingin berhenti merokok, kenapa ia membeli buku itu? Kenapa ia mendengarkan rekaman skrip itu? Itu mungkin keputusan bawah sadarnya, yang tidak diketahui oleh pikiran sadar.
Menurut saya, jika ia mendapatkan "pengetahuan" yang tidak pernah terpikirkan olehnya tentang rokok, kemungkinan besar ia bisa menghentikan kebiasaannya merokok meskipun semula ia mengaku hanya coba-coba mendengarkan skrip hipnosis itu. Ia tidak mendapatkan efek apa pun karena, seperti pengakuannya sendiri, skrip itu "hanya menyampaikan hal-hal yang sudah ia ketahui."
Reframing yang efektif untuk mewujudkan perubahan perilaku, anda tahu, sering terjadi ketika seseorang mendapatkan wawasan atau cara pandang baru yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya. Dan itu tergantung pada kepiawaian hipnotis untuk menggali apa yang tak terpikirkan oleh subjek, bukan pada skrip baku yang dihafalkan atau direkam. Mengutip Milton Erickson, bagaimanapun yang terpenting dalam hipnosis bukanlah sugesti yang disodorkan oleh hipnotis, melainkan respons subjek atas sugesti tersebut.
Baca artikel terkait: Sugesti, Perangkat Utama Hipnotis
7:00 AM
| A.S. Laksana | Jadi apa sesungguhnya “teknik baku” Erickson dalam melakukan induksi hipnotik? Sejak awal ketertarikannya pada hipnosis, Er...
| A.S. Laksana |
Jadi apa sesungguhnya “teknik baku” Erickson dalam melakukan induksi hipnotik?
Sejak awal ketertarikannya pada hipnosis, Erickson memiliki kecenderungan untuk memberikan apresiasi yang tinggi pada individualitas subjek. Bagaimanapun, setiap orang hadir dengan keunikannya masing-masing. “Sama dengan keunikan sidik jari, setiap orang datang sebagai individu yang berbeda,” katanya.
Dengan pandangan seperti itu, ia beranggapan bahwa upaya untuk menetapkan teknik baku dalam hipnosis adalah sesuatu yang bisa dibilang tidak akan pernah berhasil. “Upaya untuk mencari pendekatan baku inilah yang membawa orang pada keputusan absurd untuk merekam skrip dan memproduksinya secara massal,” katanya, “seolah-olah skrip yang sama bisa menghasilkan respons yang sama dan pengaruh yang sama pada setiap orang yang mendengarnya.”
Pandangan seperti ini tumbuh sejak mula ia tertarik pada hipnosis, yakni ketika ia mahasiswa, di bawah supervisi Clark L. Hull, seorang hipnotis yang sangat bergairah untuk menetapkan “teknik baku induksi” yang bisa berlaku umum bagi setiap orang. Kecenderungan Hull ini membawanya pada pandangan bahwa dalam hipnosis yang lebih penting adalah apa yang diucapkan dan dilakukan oleh operator terhadap subjek hipnotik. Dengan demikian penggunaan kata-kata yang sama, waktu yang sama, nada suara yang sama, dan sebagainya itulah yang akhirnya berfungsi untuk membangkitkan keadaan trance.
Tentu saja pandangan ini mengabaikan kenyataan tentang perbedaan individual pada masing-masing subjek dan minat mereka, perbedaan motivasi, dan perbedaan kapasitas orang untuk belajar. Sementara Erickson menganggap bahwa yang jauh lebih penting adalah perilaku internal subjek. Sekalipun demikian, ia mengakui juga bahwa prosedur baku bisa diterapkan juga dalam studi tentang sejumlah fenomena hipnotik.
Dalam periode ini, dalam usianya di awal-awal 20-an, ketika perdebatan tentang apakah hipnotis atau subjek yang lebih penting tidak menemukan titik temu, Erickson mulai bersemangat melakukan berbagai eksperimen. Hanya saja, menurut pengakuannya kemudian, hampir semua hasil eksperimennya pada waktu itu tidak ia siarkan semata-mata karena kesimpulannya bertentangan dengan keyakinan kuat Hull.
Sekarang, ketika akhirnya disepakati bahwa setiap hipnosis adalah self-hypnosis (otohipnosis), maka pandangan Hull tampaknya harus menyingkir, meskipun pendekatan otoritatif yang menunjukkan kecenderungan bahwa hipnotis lebih “berkuasa” masih banyak bisa kita jumpai baik di panggung maupun di ruang terapi. Tetap diproduksinya rekaman skrip yang dianggap absurd oleh Erickson juga menunjukkan sisa-sisa keyakinan di kalangan hipnotis bahwa hipnotis lebih penting ketimbang subjek.
Tidak bisa dipungkiri bahwa bagi sejumlah orang teknik baku tampaknya tetap dibutuhkan. Setidaknya setiap pembelajar awal biasanya membutuhkan resep standar, tak beda dengan anda belajar memasak. Tetapi, anda tahu, dengan satu resep masakan yang sama, setiap orang toh tidak akan menyajikan hasil yang berbeda-beda. Dan koki yang cakap akan selalu menghasilkan masakan yang lebih enak, bukan?
Tentu saja Milton Erickson menyampaikan “resep” juga, atau semacam panduan praktis, tentang bagaimana kita melakukan induksi. Namun panduan Erickson tidak pernah dalam bentuk baku yang disertai contoh-contoh skrip sebagaimana bisa kita jumpai dalam pendekatan otoritarian yang dijalankan dengan sugesti-sugesti langsung. Resep induksi Erickson sesungguhnya adalah sejumlah prinsip tentang bagaimana anda bisa melumpuhkan pikiran sadar subjek agar ia tidak melakukan campur tangan ketika proses pembelajaran berlangsung di tingkat bawah sadar. Dan sesungguhnya inilah prinsip utama dalam setiap pekerjaan hipnosis, yakni ketika pesan yang dikomunikasikan bisa langsung diterima dan direspons oleh bawah sadar tanpa kendali kesadaran.
Di sini anda akan melihat, di satu sisi, seluruh pola sugesti Erickson dan pola bahasa yang ia gunakan kepada subjek, yang dalam khazanah NLP (Neuro Linguistic Progamming) dirumuskan sebagai Milton Model, tidak lain adalah upaya untuk membuat pikiran sadar sibuk, kelelahan, frustrasi, dan akhirnya tidur lelap. Tetapi, di sisi lain, pola bahasa Erickson adalah perangkat bagi kita untuk berkomunikasi di dua level kesadaran.
Maka sambil membuat sibuk pikiran sadar, pada saat yang sama ia juga menjangkau dan mengaktifkan pikiran bawah sadar untuk terus-menerus melakukan pencarian serta merangsangnya memunculkan perilaku internal. Dengan karakter komunikasi yang semacam itu, kita akan menjadi lebih mudah memahami kenapa seringkali Milton Erickson bahkan tidak perlu membawa pasiennya memasuki trance untuk mencapai tujuan terapetik dalam pekerjaan-pekerjaan hipnotiknya.***
7:01 AM
| A.S. Laksana | Dengan dedikasinya yang luar biasa pada hipnosis dan apresiasinya terhadap individualitas subjek, sesungguhnya Milton Erick...
| A.S. Laksana |
Dengan dedikasinya yang luar biasa pada hipnosis dan apresiasinya terhadap individualitas subjek, sesungguhnya Milton Erickson menggunakan cara apa saja yang nyaman bagi subjek yang dihadapinya. Di sinilah ia menunjukkan fleksibilitas sebagai hipnotis yang berakar dari pemahamannya terhadap aspek-aspek perilaku manusia. Ia memanfaatkan perilaku subjek itu sendiri untuk membawa mereka trance dalam cara yang mereka kehendaki.
Ingatlah bagaimana ia menghadapi pasien yang gelisah dan tak bisa duduk tenang dan selalu berjalan mondar-mandir di ruangannya. Erickson menanyakan kepada orang itu, “Apakah kau lebih suka memasuki trance dengan cara berjalan mondar-mandir?” (Baca Orientasi pada Subjek)
Milton tidak terjebak pada kekakuan ritual induksi dan mengharuskan pasiennya duduk di kursi dengan sikap tertentu dan kemudian menjalankan tekniknya untuk membuat orang itu tidur, tidak peduli bahwa orang itu sesungguhnya sangat tidak nyaman duduk di kursi dan ingin berjalan mondar-mandir.
Dalam sebuah eksperimen yang lain, Milton Erickson bahkan juga mengizinkan subjeknya, seorang perempuan muda yang tertarik untuk segera mengalami trance, untuk memilih sendiri kursi dan posisi yang ia merasa akan sangat nyaman. Ketika gadis itu sudah memilih tempat yang nyaman, ia kemudian mengatakan ingin merokok, dan Erickson menyodorkan kepadanya sebatang rokok. Tentang hal ini Erickson memaparkan:
“...gadis itu menyalakan rokok dengan malas, memandang kosong asap yang mengepul ke atas. Saya mengajaknya membicarakan kesenangan merokok, asap yang bergulung-gulung naik, perasaan tenteram menyelipkan rokok di bibir, kepuasan batin saat asyik masyuk mengisap rokok dengan nyaman dan tanpa keperluan untuk memberi perhatian pada apa yang ada di luar dirinya. Singkatnya, percakapan ringan berlangsung tentang mengisap dan menghembuskan, kedua kosakata ini disesuaikan dengan tarikan dan hembusan nafasnya. Pembicaraan lain adalah tentang bagaimana ia bisa secara otomatis mengangkat rokok dan menyelipkan ke bibir dan kemudian menurunkan tangannya ke lengan kursi. Pernyataan ini ditepatkan dengan apa yang sedang ia lakukan. Segera kata-kata “mengisap”, “menghembuskan”, “mengangkat” dan “menurunkan” memperoleh nilai pengkondisian tanpa ia sadari karena sugesti muncul dalam bentuk percakapan ringan. Dalam cara demikian juga kata-kata “tidur”, “mengantuk”, dan “ambang tidur” disesuaikan dengan apa yang berlangsung pada kelopak matanya.
Sebelum rokoknya habis, ia memasuki trance ringan. Kemudian kepadanya saya sampaikan sugesti bahwa ia bisa terus menikmati rokoknya saat ia tidur semakin lelap; bahwa saya akan menjaga rokoknya selagi ia tenggelam dalam tidurnya yang paling lelap; bahwa, saat ia tidur, ia akan terus merasakan sensasi merokok dan menikmati kepuasan. Ia trance sangat dalam, dan saya melatihnya untuk memberikan respons sesuai dengan pola perilaku bawah sadarnya.”
Ia tidak mendesakkan konsepsinya dan mengarahkan bagaimana “seharusnya” subjek berperilaku dalam induksi hipnotik. Sebaliknya, induksi dijalankan dengan semacam pengakuan bahwa peran hipnotis semestinya semakin mengecil dan peran subjek secara konstan semakin membesar. Hanya dengan demikian subjek akan memasuki trance dalam cara yang ia sangat bisa menerima dan menikmatinya. Dan Erickson bisa melakukan itu, melayani “tawaran” apa pun yang disodorkan oleh subjeknya, karena pemahamannya yang baik tentang perilaku manusia.
Itu adalah kecakapan yang ia peroleh karena gairahnya untuk terus-menerus melakukan pengamatan sejak ia muda. Dengan membuat penerimaan itu, pada gilirannya ia membalikkan keadaan dan membimbing subjeknya untuk menggali sumberdaya terbaik yang dimiliki oleh si subjek dan yang bisa diaktifkan untuk membangkitkan perilaku yang diperlukan untuk mengatasi masalah.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Bagi sejumlah orang, kecepatan menginduksi trance sering dijadikan tolok ukur kepiawaian seorang hipnotis. Bagi Milton Eri...
| A.S. Laksana |
Bagi sejumlah orang, kecepatan menginduksi trance sering dijadikan tolok ukur kepiawaian seorang hipnotis. Bagi Milton Erickson tidak demikian. Jika anda berminat menjadi hipnotis dan mempelajari cara-cara Erickson, anda tak akan menemukan apa yang disebut rapid induction atau teknk menidurkan orang secepat-cepatnya dalam Ericksonian Hypnosis.
Menurut Erickson, tak ada urusannya antara kecepatan menidurkan subjek dan kepiawaian seorang hipnotis. Dan saya kira hipnosis memang harus dibedakan dari perlombaan lari sprint. Menganggap kecepatan induksi trance sebagai bukti kepiawaian adalah sesat pikir yang mengekalkan pandangan bahwa hipnotislah, dan bukan subjek, yang memegang peranan dalam mewujudkan kondisi hipnotik. Individualitas subjek diabaikan di sini. Lalu terjadilah pukul rata bahwa waktu dua sampai lima menit sudah cukup untuk menidurkan subjek.
Kesalahkaprahan semacam itu kemudian diikuti dengan kekeliruan lain oleh si hipnotis yang mengharapkan subjek bisa sepenuhnya berubah, baik secara psikologis maupun fisiologis, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumit yang mustahil dilakukan dalam keadaan non-hipnotik. Tentang kecenderungan semacam ini, saya pernah menyaksikan seseorang yang ingin berhenti merokok disugesti bahwa asap rokok itu pahit dan akan membuat perutnya mual, dan ia akan muntah-muntah jika berani coba-coba mengisap rokok. Seketika itu juga, setelah si subjek dibangunkan, ia memang muntah-muntah saat diminta merokok. Persoalannya, seberapa berhasil prosedur semacam itu bisa membebaskan orang dari kecanduan terhadap rokok? Berapa lama sugesti itu bertahan?
Saya kira sugesti yang disampaikan oleh hipnotis di atas adalah sebuah “penipuan”. Setiap perokok, anda tahu, selalu menyadari bahwa ia sedang mengisap racun nikotin, dan mereka tetap melakukannya dengan senang hati sekalipun menyadari hal itu. Lebih dari itu, bertentangan dengan sugesti yang disampaikan, asap rokok tidaklah pahit bagi seorang pecandu rokok.
Jadi, dalam hal ini apa yang dilakukan oleh hipnotis yang saya saksikan itu sama belaka dengan pertunjukan panggung yang mensugesti orang untuk mabuk oleh air putih. Saat itu juga subjek memang sempoyongan meminum air putih, tetapi keadaannya akan kembali seperti semula pada saat pertunjukan berakhir. Jika sugesti “mabuk oleh air putih” itu berefek permanen, atau hipnotis bisa membuat sugesti itu berefek permanen sehingga subjek akan terus-menerus mabuk oleh air putih, maka ia layak melaporkan kepada aparat hukum bahwa si hipnotis telah melakukan tindak kriminal terhadapnya.
Melalui pengalaman panjangnya, dan dengan selalu menjunjung tinggi individualitas subjek, Erickson menyimpulkan bahwa waktu yang diperlukan oleh subjek untuk memasuki trance sangat bervariasi. Ia menyebutkan waktu sekitar 4 sampai 8 jam untuk menginduksi subjek yang baru pertama kali dihipnotis.
Tentu saja ia bisa dengan cepat menidurkan subjeknya. Bahkan ia bisa membuat orang trance ketika bersalaman dengannya, dan ia bisa menjelaskan bagaimana teknik bersalaman yang ia gunakan untuk membuat orang kebingungan dan memasuki trance. Waktu 4-8 jam yang ia sebutkan adalah waktu yang dibutuhkan untuk membuat subjeknya menata ulang proses perilaku sebagaimana yang direncanakan dalam pekerjaan hipnotik, baik untuk kepentingan eksperimental maupun klinis.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Ketika anda mendalami hipnosis, memahami prinsip-prinsip bekerjanya, memahami karakteristik pikiran sadar dan bawah sadar (...
| A.S. Laksana |
Ketika anda mendalami hipnosis, memahami prinsip-prinsip bekerjanya, memahami karakteristik pikiran sadar dan bawah sadar (setidaknya dalam pengertian yang lazim di kalangan para hipnotis), anda akan tahu bahwa sesungguhnya cukup mudah untuk membuat orang lelap dalam tidur hipnotiknya. Yang anda lakukan adalah mengusahakan agar pikiran sadar kewalahan dan tertidur pada puncak kelelahannya. Anda bisa memberi kejutan kepada pikiran sadar, atau memberinya tantangan, atau memfokuskan perhatian, atau membuatnya kebingungan. Mari kita bicarakan sedikit keempat hal tersebut.
Kejutan, misalnya, akan membuat pikiran sadar lumpuh sejenak dan kelumpuhan pikiran sadar itu akan membuat pikiran bawah sadar siap menerima sugesti apa pun. Dalam keseharian, sindiran adalah hal yang memberi kejutan pada pikiran sadar dan akan melumpuhkannya sejenak. Pembicaraan tentang hal yang tabu atau senggolan pada hal-hal yang orang tidak ingin membicarakannya juga akan memberikan efek kejut yang membuat pikiran sadar terlumpuhkan. Atau tepukan di pundak oleh orang yang tidak dikenal di sebuah keramaian?
Itu kejadian yang mungkin sering anda dengar, seseorang menggunakan kejutan untuk mengambil manfaat dari orang lain dan membuat orang yang ditepuk pundaknya tiba-tiba menuruti apa yang dimaui oleh si penepuk. Tunggu dulu! Menuruti apa saja kemauan si penepuk? Tentu saja tidak. Bahwa ia bisa menyerahkan sejumlah uang kepada penepuk pundaknya, itu karena membantu orang lain yang sedang membutuhkan adalah tindakan baik yang tidak bertentangan dengan prinsip moral yang diyakininya.
Yang sering terjadi adalah si penepuk kemudian akan menyampaikan kesulitannya dan ia berhasil membangkitkan respons “bersimpati” pada orang yang ditepuk sehingga orang itu rela “meminjamkan” uangnya kepada orang yang baru ia temui. Itu jika kita membicarakan urusan tepuk-menepuk pundak ini dari kacamata hipnosis. Kemungkinan lain yang juga diyakini banyak orang adalah si pelaku penepukan menggunakan ilmu sihir, atau lazim disebut gendam, dan itu tentu saja di luar lingkup pembicaraan kita.
Menyodorkan tantangan selalu merupakan teknik komunikasi yang efektif. Dalam keseharian, tantangan yang tepat bisa berfungsi optimal untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu yang sebaliknya dari apa yang dikatakan oleh si penantang, demi membuktikan bahwa apa yang disampaikan oleh si penantang itu keliru. Di wilayah politik, lagi-lagi saya akan menyebut nama Gus Dur sebagai orang yang sangat cakap menyodorkan tantangan untuk mendorong pihak lain melakukan apa yang sebaliknya. Dalam pemilu terakhir, ketika orang ramai mempertanyakan kesiapan KPU untuk menyelenggarakan pemilu tepat waktu, Gus Dur melepaskan diri dari perdebatan itu dan dengan enteng ia membuat pernyataan, “Pemilu diundur saja, wong KPU-nya tidak siap.” Itu sebuah tantangan dan KPU termotivasi untuk membuktikan bahwa Gus Dur keliru. (Baca: Bagaimana Erickson Membalik Pola dan Menantang Pasiennya)
Sekarang, anda lihat, apa pun yang terjadi dengan KPU, pernyataan Gus Dur aman dari kesalahan. Jika pemilu diundur karena KPU benar-benar tidak siap, maka pernyataan itu benar. Jika KPU bisa membuktikan diri bahwa ia sanggup menyelenggarakan pemilu tepat waktu dan pemilu berlangsung beres, itu juga sesuatu yang dikehendaki semua warga. Jika KPU berupaya keras membuktikan bahwa Gus Dur keliru dan pemilu bisa berlangsung tepat waktu, dengan kekurangan di sana-sini, pernyataan Gus Dur juga benar: KPU tidak siap.
Saya kadang memanfaatkan pola tantangan semacam ini untuk berkomunikasi, misalnya, dengan anak saya. Meniru cara Erickson mendorong agar anaknya mau makan sayur bayam, saya menyampaikan kepada anak saya: “Sekarang kau sudah kelas satu SD, sudah bisa naik sepeda, sudah bisa membaca, jadi kupikir kau sudah cukup besar. Tetapi rupanya aku keliru karena kau ternyata belum cukup besar untuk makan sendiri.” Saat itu juga anak saya menjawab, “Aku sudah cukup besar,” dan ibunya tidak perlu lagi menyuapinya sebab ia “sudah cukup besar untuk makan sendiri.”
Untuk kepentingan induksi trance, memberikan tantangan demi tantangan yang tak mungkin bisa diselesaikan oleh pikiran sadar juga akan membuat seseorang frustrasi, sehingga tidur adalah pilihan yang paling menenteramkan ketika kesempatan untuk itu disodorkan. Pada saat itulah pikiran bawah sadar akan meneruskan pekerjaannya, tanpa hambatan pikiran sadar, untuk menyelesaikan tantangan demi tantangan itu. Dan tantangan yang membuahkan hasil terapetik adalah prosedur yang juga sering diterapkan oleh Erickson.
Teknik lain adalah memfokuskan perhatian subjek pada pengalaman-pengalaman internalnya, yang pelan-pelan akan membuat subjek tersebut kehilangan perhatian terhadap lingkungan eksternal. Ketika pengalaman internal itu melibatkan seluruh indera—visual, auditoris, dan kinestetik—maka ia akan menjadi semakin nyata dan subjek pada akhirnya akan tercerap ke sana dan melupakan sama sekali lingkungan sekelilingnya. Dengan cara ini subjek dirangsang untuk membangkitkan dalam dirinya serangkaian respons yang bisa berkembang menjadi trance. Salah satu prodedur yang lazim diterapkan orang adalah proses visualisasi, misalnya teknik induksi tiga kamar, di mana subjek diminta membayangkan tiga ruangan imajiner dan diminta memasuki ruangan-ruangan itu satu demi satu untuk membangkitkan sensasi tertentu sesuai dengan warna ruangan. Namun, dalam menerapkan teknik visualisasi, Erickson lebih menyukai penggunaan objek-objek visual yang berkaitan dengan pengalaman hidup subjek, dan bukan objek-objek fantasi berdasarkan buku teks.
Terakhir, membuat pikiran sadar kebingungan, kewalahan, dan frustrasi akan menjadi prosedur yang sangat efektif dalam induksi trance. Erickson menyebut Confusion Technique, yakni teknik induksi yang berangkat dari prinsip membikin bingung pikiran sadar, sebagai salah satu prosedur spesial dalam hipnosis. Ia spesial karena hipnosis bagaimanapun melibatkan upaya untuk membimbing subjek agar bisa menidurkan pikiran sadarnya.***
Bacaan terkait: Bagaimana Hipnotis Memanfaatkan Bawah Sadar Pasien
7:00 AM
| A.S. Laksana | Karena perkembangan kondisi trance sangat tergantung pada proses-proses internal subjek, sudah semestinya hipnotis atau hip...
| A.S. Laksana |
Karena perkembangan kondisi trance sangat tergantung pada proses-proses internal subjek, sudah semestinya hipnotis atau hipnoterapis selalu berupaya menciptakan situasi yang menyenangkan. Erickson mengumpamakan sesi hipnotik dengan proses yang terjadi pada mesin penetas telur. Katanya, “Mesin penetas hanya berfungsi menghadirkan suasana menyenangkan bagi penetasan telur, sementara setiap telur menetas karena perkembangan proses kehidupan di dalam telur itu sendiri.”
Ada sebuah contoh kasus menarik di mana Erickson menghadapi subjek eksperimental yang berkecenderungan melawan. Ketika diminta duduk rileks, ia justru menegakkan tubuhnya dalam posisi menantang. Memanfaatkan perilaku tersebut, Erickson mengatakan bahwa hipnosis sesungguhnya tidak harus selalu bergantung kepada relaksasi, tetapi hipnosis bisa diinduksikan pada subjek yang punya kesediaan asalkan sang hipnotis sendiri juga punya kesediaan untuk menerima sepenuhnya perilaku subjek.
Subjeknya merespons kalimat itu dengan bangkit dan menanyakan apakah ia bisa dihipnotis dengan cara berdiri. Erickson menanggapi pertanyaan tersebut dengan sugesti, “Kenapa tidak menunjukkan bahwa hal itu bisa?” Jawaban ini mengandung penerimaan total terhadap perilaku subjek, dan sekaligus meminta komitmen subjek untuk membuktikannya, yakni mengalami hipnosis dalam cara yang ia inginkan. Subjek kemudian memasuki trance dalam waktu cepat.
Maka, penting bagi anda untuk menerima perilaku apa pun yang dipertunjukkan oleh subjek dan memanfaatkannya untuk mengembangkan lebih lanjut perilaku responsif mereka. Jika anda memaksa subjek untuk melakukan hal-hal yang mereka tidak tertarik melakukannya, itu bisa penghambat induksi trance dan tentunya menghambat deep trance. Ketika perilaku mereka dipahami dan diterima, subjek akan merasa sepenuhnya dihargai sebagai pribadi yang menjalankan fungsinya dalam sebuah kerjasama.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Dalam pendekatan utilisasi, apa yang disebut pencapaian aktual adalah segala perilaku yang ditampilkan oleh subjek. Ketika ...
| A.S. Laksana |
Dalam pendekatan utilisasi, apa yang disebut pencapaian aktual adalah segala perilaku yang ditampilkan oleh subjek. Ketika subjek mengikuti sugesti hipnotis, itu adalah pencapaian. Ketika subjek tidak mengikuti sugesti hipnotis, itu juga pencapaian. Dan pencapaian pertama subjek tentunya adalah kesediaannya menjadi subjek, mengabaikan segala gangguan eksternal, dan mendengarkan sugesti-sugesti sang hipnotis.
Dengan kata lain, apa pun perilaku yang dimunculkan oleh subjek, itu semua merupakan sumber potensial untuk mencapai keberhasilan. Katakanlah subjek anda tidak mengangkat tangannya ketika anda mensugesti hand-levitation. Dari pencapaian subjek tersebut, yakni tidak mengikuti sugesti untuk mengambangkan tangannya, anda bisa mempertimbangkan kemungkinan lain. Ini lebih baik ketimbang anda mati-matian memaksa subjek mengikuti prosedur anda, meskipun prosedur tersebut efektif anda gunakan pada orang lain.
Anda tahu, hand-levitation adalah aktivitas ideomotor. Mungkin subjek lebih nyaman dengan sugesti-sugesti ideosensori, yakni aktivitas yang berkenaan dengan halunasi inderawi. Maka, anda bisa mengaitkan sugesti hand-levitation itu dengan halusinasi visual. Misalnya, anda mensugesti tangan si subjek terangkat untuk meraih sesuatu yang ada di depannya.
Atau lebih simpel lagi, ketika subjek tidak merespons sugesti anda dengan mengambangkan tangannya, anda hanya perlu menerima hal itu sebagai kebutuhan subjek untuk membuat anda gagal dengan sugesti anda. Dan setiap jenis penerimaan, anda tahu, akan dengan cepat menghasilkan banyak fenomena hipnotik lainnya.
Sekiranya anda berupaya keras dengan teknik yang kaku untuk menundukkan subjek, dan terus berusaha membuatnya mengambangkan tangan, kemungkinan besar anda akan gagal. Satu hal perlu digarisbawahi, yakni bahwa perkembangan ke arah trance bukanlah untuk membuktikan kecakapan hipnotis, melainkan untuk mewujudkan pengalaman bernilai dan pemahaman pada diri subjek.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Sebagai hipnotis, anda harus selalu memastikan rasa aman subjek anda. Ini prinsip yang perlu diingat oleh setiap hipnotis d...
| A.S. Laksana |
Sebagai hipnotis, anda harus selalu memastikan rasa aman subjek anda. Ini prinsip yang perlu diingat oleh setiap hipnotis dalam sesi penanganan. Bagaimanapun, kerjasama anda dengan subjek baru akan efektif ketika mereka merasa terlindungi dan mendapatkan perasaan aman. Terlebih-lebih bagi orang yang belum pernah mengalaminya atau pengalamannya dengan hipnosis sekadar yang ia dapat dari adegan di film atau hipnosis panggung yang memberi kesan bahwa pikiran orang bisa dikendalikan begitu rupa.
Orang-orang semcam ini mungkin akan mengembangkan kecemasan bahwa hipnosis akan membuatnya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri dan ia tidak lagi memiliki kehendaknya sendiri. “Perlindungan ini semestinya diberikan secara tepat kepada subjek baik dalam keadaan sadar maupun dalam trance,” kata Erickson. “Dan yang terbaik adalah memberikannya secara tidak langsung ketika ia sadar dan lebih langsung ketika trance.”
Milton menyampaikan bahwa ada teknik-teknik yang simpel dan mudah dilakukan untuk memastikan perasaan aman pada subjek (klien/pasien).
Teknik pertama, anda meminta subjek, dalam keadaan trance ringan, untuk memimpikan pengalaman yang paling menyenangkan dan menikmati pengalaman itu. Selanjutnya anda meminta subjek melupakan saja mimpi itu dan baru memunculkannya nanti ketika situasi membutuhkan ingatan atas mimpi tersebut. Selain memberikan rasa aman (ini efek yang didapat ketika subjek bisa melupakan atau menggunakan ingatan atas kehendak sendiri), ia juga meletakkan landasan luas bagi subjek untuk mengembangkan deep trance.
Teknik kedua, anda membuat sugesti negatif, yakni meminta subjek dalam trance ringan untuk menyembunyikan satu item informasi dari anda selaku hipnotis. Akan lebih baik jika item ini adalah sesuatu yang tidak sepenuhnya diakrabi oleh subjek itu sendiri. Misalnya siapa di antara kerabatnya yang memiliki kemiripan dengannya, atau apa nama depan kawan masa kecilnya. Jadi, melalui pengalaman aktual bahwa mereka bisa menyembunyikan sesuatu, subjek mendapati bahwa mereka bukanlah robot.
Teknik ketiga, sampaikan penghargaan atas kerjasama mereka. Ada kebutuhan manusia untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan atas keberhasilan mereka. Dalam pengalaman Erickson, apresiasi lebih baik diberikan pertama-tama ketika subjek dalam kondisi trance dan selanjutnya ketika ia sadar. Dalam pekerjaan di mana pengungkapan apresiasi tidak mungkin diberikan, subjek bisa menerimanya dalam situasi lain ketika memungkinkan.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Bagaimana Erickson membawakan sugesti-sugestinya sehingga ia nyaris selalu bisa menghadirkan mukjizat bagi orang-orang yang...
| A.S. Laksana |
Bagaimana Erickson membawakan sugesti-sugestinya sehingga ia nyaris selalu bisa menghadirkan mukjizat bagi orang-orang yang ia tangani?
Itu pertanyaan yang lazim muncul ketika kita membaca riwayat keberhasilannya dalam penanganan. Seolah-olah siapa pun yang berhadapan dengannya, seperti apa pun tingkat resistensi orang itu pada mulanya, akan selalu bersedia mengikuti setiap instruksinya.
Sesungguhnya tak ada patokan standar mengenai bagaimana cara “menyuarakan” perintah tersembunyi. Erickson memanfaatkan apa saja untuk menjadikan pikiran sadar pasiennya lengah. Ia kadang tampak seperti hanya sedang memberikan penjelasan dalam percakapan santai dengan pasiennya; ia kadang membacakan artikel yang baru saja ia tulis; dan ia bahkan menyampaikan sugesti melalui gestur dan bahasa non-verbal lainnya. Anda tahu, Erickson bisa membuat seseorang trance dengan jabat tangan.
Jeffrey K. Zeig, direktur The Milton H. Erickson Foundation Inc., menerangkan prinsip dasar bagaimana Erickson berkomunikasi dengan klien-kliennya. Ia mengatakan bahwa Erickson akan menunduk, bicara dengan lantai, dan selalu bersuara pelan (seperti berbisik atau bicara dengan diri sendiri) jika bermaksud menyampaikan pesan kepada bawah sadar. Dan ia akan mengeraskan volume suaranya untuk berkomunikasi dengan pikiran sadar.
Jadi, berbeda dengan asumsi stereotipe yang mengatakan bahwa sugesti hipnotik haruslah disampaikan secara monoton, Erickson justru akan mengubah-ubah intonasi dan tekanan suaranya demi mengacaukan dan membikin lengah pikiran sadar. Atau ia akan menjelaskan sesuatu dengan cara tertentu untuk membuat pasiennya bingung dan lumpuh. Pada prinsipnya, Erickson bekerja dengan keyakinan sepenuhnya bahwa pikiran bawah sadar akan bisa menyeleksi secara otomatis mana pesan yang disampaikan kepadanya.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Dalam hipnotis konvensional dikenal istilah uji sugestibilitas, yakni prosedur yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana ...
| A.S. Laksana |
Dalam hipnotis konvensional dikenal istilah uji sugestibilitas, yakni prosedur yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tingkat "kepatuhan" orang terhadap sugesti. Hipnosis panggung konon selalu hanya memilih orang-orang yang mudah disugesti. Para hipnotis panggung itu tidak berminat pada orang-orang yang resisten. Ini asumsi yang masuk akal, sebab jika yang dijadikan subjek adalah orang-orang yang alot disugesti atau bahkan sama sekali tidak bisa dihipnotis, maka pertunjukan akan menjadi kocar-kacir.
Masalah hipnotisabilitas ini sering menjadi bahan perbincangan di kalangan para hipnotis. Siapa yang bisa dihipnotis? Siapa yang tidak bisa dihipnotis? Apa ciri-ciri orang yang bisa dihipnotis dan tidak bisa dihipnotis? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini biasa muncul dari para pembelajar baru.
Menurut Erickson, seratus persen orang normal bisa dihipnotis. Seorang pasien penyakit mental bisa dihipnotis, tetapi sulit. Orang-orang yang bodoh bisa dihipnotis, tetapi sulit. Berbagai tipe pengidap neurotik bisa dihipnotis, tetapi lagi-lagi, mereka adalah subjek yang sulit.
Tingkat hipnotisabilitas ini tergantung pada situasi dan motivasi pasien. Hubungan personal yang terbangun antara operator dan subjek merupakan faktor yang sangat penting. Ketika anda menghipnotis pasien, anda meminta mereka memusatkan perhatian pada gagasan-gagasan atau pada bagian-bagian realitas yang berkaitan dengan situasi. Pasien kemudian mempersempit perhatian mereka sebagaimana yang diinstruksikan dan memberi perhatian kepada anda.
Perlu anda ingat, dalam hipnosis yang utama adalah respons pasien. Sugesti anda hanyalah alat untuk memunculkan respons pasien, tetapi yang terpenting adalah bagaimana anda membuat pasien merespons anda.
10:00 PM
| A.S. Laksana | Para hipnotis dalam tradisi otoritarian (dengan sugesti langsung )sering menggunakan pelbagai macam alat bantu. Secara trad...
| A.S. Laksana |
Para hipnotis dalam tradisi otoritarian (dengan sugesti langsung)sering menggunakan pelbagai macam alat bantu. Secara tradisional memang begitulah kenyataannya. Cara untuk membuat orang tertidur dalam pendekatan otoritarian sering melibatkan alat-alat bantu berupa bola kristal, metronom, tatapan mata sang operator, cermin berputar, mata elang, bandul, jari tangan, dan sebagainya. Subjek diminta duduk tenang di kursi, diminta menatap bola kristal, atau cermin berputar, atau melihat tatapan mata sang operator, atau mendengarkan metronom ketika matanya menatap titik tertentu. Dan ia tertidur.
Tanpa ragu lagi, masyarakat awam akan berpikir bahwa benda-benda itu, juga tatapan mata sang operator, memiliki kekuatan misterius yang membuat orang tertidur. Begitu orang tertidur, pikirannya bisa dikendalikan dan orang itu bisa didikte untuk melakukan apa saja yang dikehendaki oleh si pemilik benda-benda atau tatapan mata itu.
Yang anda lihat dalam atraksi panggung, di layar hiburan televisi, memang seperti itu. Tetapi anda akan keliru jika menganggap hipnosis semata-mata adalah atraksi yang anda tonton dalam hipnosis panggung, di mana subjek ditidurkan dengan “ritual” tertentu yang membangkitkan kesan magis dan setelah itu disuruh-suruh melakukan apa saja seperti budak.
Tentu saja hipnotis panggung harus memberi kesan semacam itu sehingga hipnosis yang ia peragakan bisa menakjubkan sebagai hiburan dan meninggalkan pertanyaan-pertanyaan dan rasa penasaran di benak orang. Namun, mengenai benda-benda itu, sampai kapan pun anda tidak akan pernah menyerahkan diri anda kepada orang lain hanya karena menatap benda-benda semacam itu tanpa sugesti apa pun yang anda terima.
Ketika Milton Erickson muncul dengan prosedur hipnotik tak langsung dan pendekatan utilisasinya, ia tak memberi tempat bagi benda-benda semacam itu dalam prakteknya. Ia seperti pendekar yang datang dengan tangan kosong dan mengembangkan pendekatan yang kemudian menjadi berbeda dibandingkan para hipnotis sebelum dirinya. Dan itu merupakan sumbangan yang sangat penting untuk mengikis pandangan mistis tentang hipnosis. Baginya hipnosis memang tidak memerlukan semua alat bantu itu. Mungkin hipnotis panggung membutuhkannya sebagai properti yang bisa menghadirkan kesan tertentu, tetapi sesungguhnya alat-alat bantu itu sama sekali tidak esensial dalam hipnosis.
Penggunaan benda-benda semacam itu, menurut Erickson, kadang merugikan karena subjek nantinya justru akan kesulitan memasuki trance tanpa alat bantu itu. Tak bisa dipungkiri bahwa menatap bola kristal mungkin bisa membuat subjek kelelahan dan tidur, tetapi itu bukan bagian esensial dari trance hipnotik.
Milton Erickson justru berpendapat bahwa penggunaan alat bantu imajiner bisa lebih efektif dibandingkan alat bantu nyata. Ini ia buktikan dengan eksperimen pada sejumlah subjek yang ia bagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama sekadar membayangkan bola kristal imajiner dan kelompok kedua menggunakan bola kristal sungguhan. Hasilnya, kelompok pertama bisa mengalami trance lebih cepat ketimbang kelompok kedua. Eksperimen ini juga dilakukan dengan berbagai alat bantu lainnya, seperti metronom dan sebagainya, dan semuanya membuktikan bahwa alat bantu imajiner lebih efektif membawa subjek memasuki trance.***
Lebih lanjut tentang induksi, baca Teknik Efektif Induksi Trance.
4:55 PM
| Oleh: A.S. Laksana | Ada banyak cara menginduksi trance. Yang jelas, anda perlu membuat pasien anda nyaman sehingga proses induksi bisa be...
| Oleh: A.S. Laksana |
Ada banyak cara menginduksi trance. Yang jelas, anda perlu membuat pasien anda nyaman sehingga proses induksi bisa berjalan memuaskan bagi kedua belah pihak, yakni hipnotis dan subjek atau klien atau pasien.
1. Arahkan perhatian subjek pada satu gagasan tertentu. Prinsip utama hipnosis adalah anda membuat perhatian subjek terpusat.
2. Bawa subjek kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Misalnya, anda bisa mensugesti hand levitation kepada subjek dan membuat mereka memperhatikan bahwa tangan kanan terasa ringan dan tangan kiri terasa berat, dan tangan yang terasa ringan akan mengambang pelan-pelan semakin tinggi sementara pada saat yang sama tangan yang terasa berat akan menekan paha. Anda bisa membuat mereka menutup mata pelan-pelan dan dengan sendirinya. (Baca: Memanfaatkan Aktivitas Ideomotor)
3. Bimbing subjek memperhatikan proses-proses yang berlangsung dalam diri mereka. Jadi anda bisa menginduksi trance dengan mengarahkan perhatian subjek kepada proses, kepada ingatan, kepada gagasan, kepada konsep yang mereka miliki. Proses ini akan mempersempit perhatian subjek, dan memisahkan mereka dari situasi eksternal. Pada saat ini anda bisa meminta subjek mengabaikan apa saja kecuali suara anda. Bahkan anda juga bisa meminta mereka tidak mendengarkan suara anda, “Sebab bawah sadar anda bisa menangkapnya.”
4. Pahami kebutuhan subjek. Anda tahu, ada tahapan-tahapan perilaku trance yang berbeda-beda. Ini sejalan dengan kebutuhan subjek itu sendiri menurut situasi. Trance ringan, trance medium, trance mendalam bisa diinduksikan. Anda harus membedakan trance menurut kebutuhan subjek. (Baca: Orientasi Hipnotis pada Kebutuhan Subjek)
5. Pastikan bahwa subjek menerima sugesti anda sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Dalam induksi trance, kita menyampaikan sugesti-sugesti dan mula-mula dalam bentuk sugesti tak langsung. Anda semestinya menghindari sebisa mungkin tindakan mendikte pasien anda. Jika anda ingin menggunakan hipnosis dengan hasil memuaskan, anda perlu menyampaikan sugesti anda dalam cara yang pasien bisa menerima dan merasakannya sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi mereka.***
Lanjutkan: 4 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Membuat Subjek Trance
4:42 PM
| Oleh: A.S. Laksana | Induksi adalah prosedur yang digunakan oleh hipnotis untuk membimbing subjek memasuki trance atau tidur hipnotik. Ini...
| Oleh: A.S. Laksana |
Induksi adalah prosedur yang digunakan oleh hipnotis untuk membimbing subjek memasuki trance atau tidur hipnotik. Inilah bagian yang tampak seperti ritual magis dalam hipnosis tradisional, yang menjadikan hipnosis sering disalahpahami sebagai kekuatan mistik yang dimiliki oleh hipnotis untuk menguasai dan mengendalikan sepenuhnya pikiran orang lain.
Dalam hipnosis panggung, seorang hipnotis bisa menampakkan kesan seperti itu dengan berbagai cara. Anda bisa juga melakukannya dengan mengenakan ikat kepala hitam, pakaian hitam-hitam, dan selalu melatih setiap hari agar sorot mata anda semakin sangar. Untuk semakin sangat, anda juga menampakkan hidung yang selalu mendengus seperti kerbau.
Dan, untuk urusan agar atraksi panggung semakin tampak sensasional, anda bisa saja melatih keterampilan induksi dengan meminta subjek melihat mata sangar anda yang tampak kosong melompong, sembari anda mengatakan, “Lihat mata saya! Lihat mata saya...!” Pada saat subjek anda tertidur oleh atraksi tersebut, maka para penonton pasti akan menganggap sorot mata anda memiliki kekuatan magis untuk menidurkan orang dan setelah itu anda menguasai pikirannya. (Baca: Pertanyaan-Pertanyaan Imbisil tentang Sugesti Hipnotis)
Pada kesempatan lain, anda bisa mengganti sorot mata dengan bola kristal, atau sebuah bandul, untuk menidurkan subjek anda, atau cermin berputar yang membuat subjek anda pening dan kelelahan. Pada saat itu penonton akan menganggap bahwa, selain sorot mata anda, ternyata cermin dan bandul anda juga memiliki kekuatan sakti.
Apa yang ditampilkan secara ekstrem di panggung itu tampaknya adalah praktek yang memiliki akarnya pada hipnosis tradisional yang memang selalu menampilkan gaya otoritarian. Sugesti langsung yang digunakan, ketika dipraktekkan di panggung, akan terdengar sebagai perintah seorang majikan kepada budaknya. Hipnoterapi, dalam tradisi lama, sering dijalankan dengan anggapan bahwa terapis memegang peran dalam kesembuhan pasien.
Di sinilah jasa besar Milton Erickson: Ia menyingkirkan sesat pikir tentang hipnosis dengan pendekatan yang dilakukannya. Sugesti tak langsung dan teknik utilisasi memiliki alasan yang sangat rasional untuk menjelaskan hipnosis dan bagaimana terapi efektif bisa dijalankan.***
Bacaan terkait: Perlukah Alat-Alat Bantu dalam Induksi Trance