| A.S. Laksana | Seorang ibu meminta anaknya untuk tidur paling lambat pukul sepuluh malam setiap hari. “Pokoknya Ibu tidak mau tahu, jam se...

Menghadirkan Pengalaman yang Mengubah Perilaku (1)

7:00 AM A.S. Laksana 0 Comments

| A.S. Laksana |

Seorang ibu meminta anaknya untuk tidur paling lambat pukul sepuluh malam setiap hari. “Pokoknya Ibu tidak mau tahu, jam sepuluh kau harus tidur,” katanya. Tetapi si anak agaknya tidak setuju pada permintaan tersebut. Ketidaksetujuan itu tampak jelas dari respons si anak yang enggan menuruti permintaan ibunya. Anak itu kelas satu SD dan tidur sekamar dengan kedua orang tua dan seorang adiknya; dan ia sangat menikmati momen bermain-main di kamar sebelum tidur.

Hal itu mengakibatkan ia sering tidur larut malam, bahkan kadang sampai pukul sebelas atau setengah dua belas malam. Ibunya jengkel menghadapi kebiasaan anaknya itu. Karena selalu tidur larut, paginya si anak menjadi sulit dibangunkan. Kadang-kadang si ibu bahkan menyuapkan sarapan ketika anaknya baru setengah bangun dan belum sepenuhnya sadar. Puncak kejengkelan si ibu adalah ketika ia mendapat laporan bahwa sudah beberapa hari belakangan si anak selalu tertidur di kelas ketika pelajaran berlangsung.

“Gurumu bilang kau tertidur di kelas,” kata si ibu. “Kau tidak malu?”

“Aku tiba-tiba tertidur sendiri,” kata si anak.

“Kau mengantuk karena tidurmu selalu kemalaman,” kata si ibu.

“Sebetulnya aku tidak mau tidur di kelas, tapi aku tertidur sendiri,” kata si anak.

“Mulai sekarang kalau kau tidak tidur pukul sepuluh, aku tidak akan membangunkanmu,” kata si ibu.

Setelah itu, si anak masih tidur seperti biasa, di atas pukul sepuluh malam. Si ibu, meskipun mengancam tidak akan membangunkan, tetap saja membangunkan si anak pada pukul setengah enam pagi. Dan anak itu masih beberapa kali tertidur di kelas.

Saya bilang kepada si ibu bahwa ia hanya perlu membuktikan ancamannya.

Hal lainnya, ada perbedaan cara pandang antara si ibu dan anaknya. Tidur di kelas bukan hal yang membuat anak itu malu. Ibunyalah yang malu. Di samping itu, si anak juga tahu, dari pengalaman yang sudah-sudah, bahwa ibunya hanya suka mengancam tetapi tidak benar-benar menjalankan ancamannya, semarah apa pun dia. Jadi, kenapa harus tidur pukul sepuluh malam? Tidur pukul berapa pun tidak ada masalah; ibunya selalu akan membangunkan dia tiap pagi pukul setengah enam seperti biasa.

Namun, persoalannya menjadi lain ketika si ibu suatu hari benar-benar membuktikan ancamannya: ia membiarkan saja anaknya bangun sendiri dan hanya menunggu pada pukul berapa anak itu membuka mata. Malamnya anak itu baru tidur setelah lewat pukul sebelas. Eok paginya, ia baru bangun pukul tujuh lewat. Hari itu si anak tidak berangkat sekolah karena bangun kesiangan. Ia tampak bingung dan takut-takut. Itu untuk pertama kaliya ia tidak berangkat ke sekolah, sementara ia punya reputasi bagus dalam hal tidak pernah sekalipun absen. Ia bahkan memaksa tetap masuk sekolah kendati pada suatu hari badannya sedikit demam dan ibunya meminta ia tidak usah masuk.

Jadi, hari itu rekor bagusnya tercoreng akibat ia bangun kesiangan. Itu kesalahannya sendiri. Namun, kejadian itu memberi si anak pengalaman nyata tentang akibat buruk apabila ia tidak mau mengubah kebiasaannya tidur malam. Dan strategi “memberi pengalaman nyata” itu bekerja efektif. Peristiwa itu sungguh mengejutkan bagi si anak. Sama sekali tidak terpikir olehnya bahwa ia akan benar-benar dibiarkan saja bangun kesiangan.

Kepadanya lalu diberitahukan, pada siang hari ketika ia masih tampak seperti orang linglung "Kau tahu, Nak, anak SD biasanya tidur selama delapan jam," kata ayahnya. "Itu tidur yang sehat bagi anak SD. Jadi kalau kau tidur pukul sebelas malam, maka kau akan bangun pukul tujuh pagi. Seperti yang terjadi padamu hari ini, kan?" Selanjutnya si ayah menyampaikan bahwa ia perlu tidur pukul sembilan malam jika menghandaki bangun pukul lima pagi; tidur pukul sepuluh, bangun pukul enam; tidur pukul sebelas, dan ia akan bangun kesiangan lagi.

“Dan kau lebih suka bangun pukul berapa?” tanya ayahnya.

“Lima,” jawabnya.

“Maka kau sudah tahu pukul berapa kau perlu tidur.”

“Sembilan.”

“Begitulah, kau hanya perlu tidur tepat waktu agar bisa bangun tepat waktu.”

Sejak itu, atas kehendaknya sendiri, ia berangkat tidur pada pukul sembilan. Dan pada hari pertama ia bangun pukul lima, ia bahkan memberi bonus kejutan: ia mandi sendiri dengan air dingin. Dan sebuah kejutan rupanya hanya terjadi sekali. Hari-hari sesudahnya, ia tetap lebih suka dimandikan oleh ibunya, sekalipun sampai beberapa hari kemudian ia masih bangga menceritakan pengalamannya mandi pagi sendiri dengan air dingin.

“Tahu nggak, Pak,” katanya kepada ayahnya, “waktu aku bangun jam lima, aku mandi sendiri. Kau belum bangun, ibu belum bangun, dan aku mandi dengan air dingin. Segar sekali mandi dengan air dingin.”

***

Yah, itu kasus anak saya sendiri. Persoalannya tampak sepele saja, yakni bagaimana meminta seorang anak tidur pada pukul sembilan malam. Ada banyak cara bagi anda, dalam posisi anda sebagai orang tua, untuk memastikan bahwa perintah anda dituruti. Anda bisa memberinya hukuman, misalnya menyetop uang saku bagi si anak jika ia tidak menuruti permintaan anda. Anda juga bisa menjewer telinganya atau mencubit pahanya setiap kali jam dinding di kamar menunjukkan waktu pukul sembilan dan ia belum tidur, atau mengurungnya di dalam kamar seharian. Setelah beberapa kali mendapatkan perlakuan seperti itu, ia akan menjadi tahu cara menghindari jeweran atau cubitan atau menghindari dikurung dalam kamar seharian, yakni dengan mematuhi perintah anda dan ia akan tidur pukul sembilan.

Hanya saja saya khawatir menjalankan itu. Hukuman sebagai “sugesti” bisa memunculkan respons lain di samping kepatuhan: mungkin si anak akan menarik kesimpulan dan meyakini, melalui proses mental bawah sadar, bahwa ia akan dihukum jika mengerjakan hal-hal yang ia sukai. Ia tidak bisa melawan hukuman itu karena ia hanya anak kecil. Terus terang, saya sama sekali tidak menghendaki anak saya menyimpan keyakinan negatif semacam itu.***

0 comments: