Dan Suaraku akan Terus Bersamamu...

Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance.  SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dal...

Milton Erickson dan subjeknya: Induksi Trance. 
SAYA sering mendengar bahwa jika anda pemula dalam hipnosis, sebaiknya jangan menghipnotis teman sendiri. Itu lebih sulit.

Saya melanggar itu. Subjek-subjek awal saya adalah teman-teman sendiri dan para kerabat.

Ini kejadian bertahun-tahun lalu. Seorang teman lama datang ke rumah, hari Sabtu waktu itu, pukul sepuluh malam. Kami ngobrol-ngobrol apa saja yang kami rasa menarik buat diobrolkan. Sebagian tentang masa lalu ketika kami bekerja di tempat yang sama, sebagian lagi tentang urusan kami masing-masing sekarang. Kepadanya saya bilang bahwa saya masih menulis (cerpen-cerpen saya masih muncul sesekali di koran-koran). Di luar urusan menulis, kata saya, “Saya menghipnotis orang.”

“Kau bisa?” tanyanya.

Pada waktu itu saya sudah dua tahun mendalami hipnosis Milton Erickson dan menjadi seperti pemain sirkus yang keranjingan melakukan atraksi di kandang sendiri.

Saya hipnotis anak saya, saya tidurkan keponakan saya, saya bikin teler adik-adik ipar saya, mertua saya, dan tetangga kiri kanan. Namun istri saya selalu menghindar. Ia hanya senang melihat saya melakukannya pada siapa saja, tetapi ia punya kecurigaan yang tidak masuk akal terhadap hipnosis sehingga tidak pernah mau mencobanya.

Saya tidak pernah memintanya menjadi subjek sampai akhirnya ia sendiri tertarik setelah memastikan bahwa hipnosis ternyata aman-aman belaka.

Kepada kawan saya, saya ceritakan beberapa hal yang saya lakukan dan perasaan nikmat yang didapatkan oleh orang yang memasuki kondisi trance. Saya perhatikan ia tertarik. Akhirnya, ia mengajukan pertanyaan: “Kalau saya, apakah bisa dihipnotis?”

Ini kesempatan untuk memainkan jurus kepada orang luar yang bukan penghuni kandang.

Ketika membaca buku-buku Erickson dan beberapa buku hipnosis lain, saya membaca semua materi dalam bahasa Inggris. Saya mencermati pola-pola sugesti Erickson dan memindahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Berikutnya saya berlatih membuat skrip sendiri, dengan subjek imajiner, menciptakan sejumlah metafora versi saya sendiri. Semuanya dalam bahasa Indonesia.

Sekarang, saya menghadapi subjek berbahasa Jawa. Akan saya sampaikan dalam bahasa apa sugesti-sugesti untuknya?

Saya tak terbiasa berbahasa Indonesia dengan teman saya ini. Namun jika harus mensugesti dalam bahasa Jawa, pasti mumet kepala saya.

Persoalan lainnya, apakah teman saya akan menganggap saya serius bisa menghipnotis? Jangan-jangan ia menganggapnya sebagai guyon belaka dan akan tertawa terbahak-bahak ketika saya mencoba membuatnya tidur.

Sepanjang berlangsungnya keruwetan di dalam benak, saya meminta teman saya duduk nyaman di kursinya dan menaruh kedua telapak tangannya di atas paha. “Jangan biarkan tanganmu saling bersentuhan,” kata saya dalam bahasa Jawa. Kemudian saya meminta matanya melihat gagang pintu yang ada di hadapannya. Ia menuruti semua yang saya minta.

Pada saat itu sebuah ilham seperti datang tiba-tiba. Saya pikir saya akan berterus-terang saja menyampaikan keruwetan saya kepadanya. Masih dalam bahasa Jawa, saya bilang, “Oke, biasanya kita ngobrol dalam bahasa Jawa. Jika kita ngobrol dalam bahasa Indonesia, percakapan kita  pasti akan terdengar seperti ketoprak humor. Begitu, kan?”

Ia tertawa.

Lanjut saya, “Tapi, sekarang, saya sesekali mungkin akan menggunakan bahasa Jawa, sesekali bahasa Indonesia, dan itu baik-baik saja ... Yang terpenting di sini, kau bisa memahami apa yang kusampaikan selagi kau duduk nyaman di kursimu ... menikmati ketenteraman kursi itu ... dan matamu tetap pada gagang pintu. Dan itu membuat kepalamu diam tenang ... dan itu membuat kupingmu tidak bergerak-gerak dan tetap diam di tempatnya.”

Setelah berterus terang seperti ini saya merasa lebih enteng, dan lebih enak berkomunikasi dengannya dalam bahasa campur-campur.

Teman saya tampak tenang dan tidak mempermasalahkan kalimat-kalimat yang pasti terdengar aneh jika digunakan dalam percakapan biasa. Sesungguhnya, dalam hipnosis, anda punya keuntungan bisa berkomunikasi dalam kalimat-kalimat semacam itu, yang akan terasa ganjil dalam ukuran percakapan sehari-hari.

Sekarang, penting bagimu menjaga kupingmu tetap diam di tempatnya... sebab itu kuping yang kuajak bicara ... dan itu kuping yang bisa mendengar semua suara ... Dan, kau juga tahu, kupingmu bisa pula mengabaikan suara apa saja dan memilih hanya mendengarkan suaraku....

Erickson melakukan hal ini. Saya hanya menirukan apa saja yang bisa saya ingat.

Sekarang, kau bahkan bisa mengabaikan suaraku jika kau mau ... dan kau tidak mendengar apa pun ... sebab bawah sadarmu siap melakukan tugasnya ... dan ia dekat sekali denganku ... ia dalam jangkauan suaraku ... karena itu ia selalu bisa mendengar suaraku .... Dan suaraku akan selalu mengikutimu ... ia menjadi suara ayahmu, ibumu, suara teman-temanmu, gurumu, tetanggamu ... dan menjadi suara angin, suara hujan ... suara-suara yang kaukenal di masa kecil ... ketika kau suatu hari merasakan sesuatu yang membahagiakan di dunia masa kecilmu. Apakah itu ketika kau berada di ruang kelas?”

Lagi-lagi saya hanya menirukan Milton Erickson. Ia sering mengatakan kepada subjeknya, dengan cara yang penuh simpati: “And my voice goes everywhere with you … changes into the voice of your parents, your neighbors, your friends, your schoolmates, your playmates, your teachers … and the voices of the wind, and of the rain. And I want you to find yourself sitting in the school room, a little girl feeling happy about something, something that happened a long time ago, that you forgot a long time ago.”

Itu sugesti yang paling saya kagumi. Ia muncul dari seseorang yang sangat mencintai profesinya, seorang hipnotis yang menyayangi subjek-subjeknya.

Sekarang, aku hanya berurusan dengan pikiran bawah sadarmu ... dan aku bahkan tidak peduli pikiran sadarmu memikirkan apa atau tidak memikirkan apa-apa sama sekali. Sebab aku hanya berurusan dengan bawah sadarmu ... dan ia bisa menangkap suaraku meskipun kupingmu tidak mendengar suaraku... dan suaraku hilang dari pendengaranmu.... Dan jika pikiran sadarmu lelah, ia bisa tidur begitu saja, dengan sendirinya ... Hanya, sekarang, kau perlu memastikan bahwa pikiran bawah sadarmu selalu terjaga ... ketika pikiran sadarmu tidur lelap, semakin lelap.

Dan, kapan tidurnya teman saya ini?

Ia kelihatan semakin tenang, tetapi matanya tetap melotot ke arah gagang pintu.

Biasanya orang bisa tidur dengan sendirinya, dan kau pun begitu, ketika kelopak matamu terasa semakin berat ... Mungkin itu didahului dengan satu kedipan ... dan mungkin disusul dengan dua atau tiga kedipan sekaligus....

Saya menunggu ia mengedipkan kelopak matanya, dan isyarat itu tetap tidak muncul. Matanya masih melotot.

Sekarang, kautahu, orang biasanya tidur dengan mata tertutup, tetapi kau bisa juga tidur dengan mata terbuka ... dan kau bisa memilih mana yang paling memberimu kenyamanan ... tidur dengan mata terbuka, atau tidur dengan mata tertutup ... Yang terpenting di sini, kau bisa tidur dengan nyaman, bahkan seandainya kau memilih tidur dengan mata terbuka. Dan, sekarang, aku hanya menunggu ... kau menunggu... apa pengalaman menyenangkan yang segera kaualami.

Ia memilih menutup mata.

Bagus! Begitulah, kau memilih tidur nyaman dengan mata tertutup. Dan itu sesuai pilihanmu sendiri... begitu matamu tertutup, tidurlah lelap... sangat lelap.

Selanjutnya saya membuatnya tidur lebih nyenyak.***

Memberi Pengalaman “Ajaib” kepada Subjek Hipnotis

Dalam salah satu sesinya, Milton Erickson membangunkan subjek dari kondisi trance, tetapi ia hanya membangunkan bagian kepala si subjek. Tub...

Dalam salah satu sesinya, Milton Erickson membangunkan subjek dari kondisi trance, tetapi ia hanya membangunkan bagian kepala si subjek. Tubuh orang itu, dari bagian leher sampai ke ujung kaki, masih tetap tidur.

Itu sesi yang sangat cerdik dan memukau. Bagian kepala si subjek sadar, tetapi ia tidak bisa mengendalikan bagian tubuhnya yang masih tidur.

Prosedur ini sangat berguna dalam terapi. Kita memberi pasien pengalaman yang aneh tetapi menyenangkan.

Dengan cara ini pasien mendapatkan pelajaran penting, tanpa ia sadari, bahwa ia sanggup melakukan sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan.

Saya menyukai prosedur ini dan melakukannya kepada beberapa subjek. Termasuk subjek terakhir yang saya tangani pekan lalu.

“Kenapa saya jadi seperti ini, Om?” tanyanya.

“Tubuhmu tetap tidur?” tanya saya.

“Saya tidak bisa menggerakkan tangan saya,” katanya.

“Kakimu?”

Ia mencoba menggerakkan kakinya, tetapi sia-sia.

“Tidak bisa juga,” katanya.

Beberapa saat ia tetap seperti itu. Tangannya kirinya parkir di pundak kanan dan tidak bisa melakukan apa pun karena tubuhnya tetap tidur. Ia tersenyum-senyum menikmati keadaannya.

“Kautahu, sekarang atau nanti tubuhmu pasti bangun,” kata saya. “Jika sesuatu pasti terjadi sekarang atau nanti, kenapa tidak sekarang saja?”

Pelan-pelan ia menggerakkan tangannya dan kemudian kakinya, dan kemudian ia menggeliat. Saat itu juga seluruh tubuhnya bangun.

Dalam sesi terapi, penting bagi kita memberi pengalaman "ajaib" kepada pasien.

A.S. Laksana

Mengendalikan Diri, Mengendalikan Emosi

Saya senang menangani subjek dan membantunya membereskan masalah yang membuatnya sulit menghada...


Saya senang menangani subjek dan membantunya membereskan masalah yang membuatnya sulit menghadapi situasi-situasi tertentu. Kita tahu bahwa setiap orang bisa mendapatkan masalah, baik masalah psikis, masalah fisik, atau masalah emosional.

Hipnosis mungkin tidak bisa mengatasi semua masalah, tetapi ada banyak masalah yang lebih cepat diselesaikan dengan hipnosis.

Biasanya orang segera mencari solusi untuk masalah-masalah fisik. Anda membeli obat sakit kepala saat kepala anda pusing. Anda pergi ke tukang urut saat tangan atau kaki anda terkilir. Anda pergi ke dokter ketika merasa tidak enak badan.

Namun, anda tidak melakukan apa-apa ketika anda merasa ada masalah psikis atau ada gangguan emosional. Kebanyakan orang tidak merasa perlu melakukan apa-apa saat merasa tertekan atau stres. Kebanyakan orang tidak merasa perlu melakukan sesuatu ketika merasakan gejala-gejala depresi.

Mereka tidak melakukan apa-apa dan mungkin memang tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Anda tahu untuk menjaga kebugaran tubuh, orang melakukan olahraga. Untuk menjaga kebugaran pikiran? Untuk menjaga kebugaran emosi? Untuk menjaga kebugaran psikis?

Kebanyakan orang tidak tahu harus melakukan apa untuk menjaga kebugaran pikiran, mempertahankan kestabilan emosi, dan merawat kesehatan psikis.

Maka, saya senang sekali ketika seorang pemuda, 16 tahun, datang diantar oleh keluarganya. “Saya gampang marah dan tidak mampu menahan emosi,” katanya. “Kadang-kadang pikiran saya gelap sekali.

“Saya tahu ini merugikan saya sendiri. Saya jadi kehilangan teman karena mereka menjauhi saya. Tidak bisa begini terus. Masa depan saya masih panjang.”

Ayahnya mengatakan ia datang atas keinginannya sendiri. Ia menyadari masalahnya, hanya tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Beberapa waktu sebelumnya saya membantu salah satu sepupunya terbebas dari kecanduan. Sekarang ia datang menemui saya. Ia ingin bisa lebih enak menjalani kehidupannya sehari-hari.


Memotivasi Pasien untuk Melanjutkan Terapi

Hal yang cukup lazim terjadi dalam hubungan terapis dan pasiennya adalah pasien memutuskan untuk tidak melanjutkan terapi. Ini terutama terj...

Hal yang cukup lazim terjadi dalam hubungan terapis dan pasiennya adalah pasien memutuskan untuk tidak melanjutkan terapi. Ini terutama terjadi pada terapis yang kurang berpengalaman. Pasien hanya datang sekali kepada terapis, mengikuti sesi pertama, dan tidak datang lagi pada sesi berikutnya dan sampai kapan pun.

Ada satu hal penting yang harus diingat oleh terapis. Yakni, pasien memerlukan motivasi yang kuat untuk melanjutkan terapi. Jika mereka tidak merasakan ada perubahan apa pun, atau tidak bisa merasakan adanya kemajuan, mereka tidak akan memberi waktu lebih panjang kepada anda. Mereka akan menghentikan terapi dan tidak akan datang lagi. Karena itu, jika anda menghadapi pasien dengan masalah besar atau sangat rumit, upayakan membuat ia terkesan dengan perubahan-perubahan kecil dan peningkatan yang bisa ia rasakan. Itu akan memberikan harapan kepada pasien bahwa terapi ini akan membawa hasil yang memuaskan dan layak dilanjutkan.

Artinya, anda harus membuat pasien menyadari adanya perubahan itu, sebab seringkali pasien tidak merasakan adanya perubahan yang berarti dalam proses terapinya, semata-mata karena masalahnya terlalu berat. Jadi, perubahan kecil yang dirasakan oleh pasien seringkali penting untuk membuatnya termotivasi melanjutkan terapi sampai tuntas.

Anda mungkin merasa perlu meyakinkan pasien bahwa sesuatu yang positif sudah terjadi. Dan meskipun itu perubahan kecil saja, namun ini hal kecil yang membuat pasien terkesan sehingga ia bisa meyakini bahwa itu adalah pencapaian besar yang bisa dilakukan di sesi pertama. Ketika pasien terkesan oleh perubahan itu, hal kecil namun berarti, ia akan bersedia melanjutkan terapi bersama anda. Masalahnya, apa perubahan kecil yang bisa membuat pasien terkesan? Urusan semacam ini akan terjawab dengan semakin bertambahnya jam terbang ada. Namun, yang perlu anda pahamis, itu semua kembali kepada pasien, jenis masalahnya, dan sumberdaya yang ia miliki.

Mungkin anda hanya menggunakan sesi pertama itu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jika pertanyaan anda tepat dan bisa memberikan kesadaran baru kepada pasien, mungkin sesi pertama yang semacam ini sudah cukup untuk membuat pasien terkesan. Jika anda pertanyaan-pertanyaan yang anda ajukan tidak membawa kemajuan, anda perlu membuat keputusan cepat. Setelah 15 menit bertanya jawab, lakukan induksi trance. Bawa subjek memasuki kondisi hipnotik. Dengan keputusan ini, setidaknya pasien menjadi tahu bahwa anda bisa melakukan hal penting yang bisa membantunya mengatasi masalah. Kecakapan anda dalam menghipnotis dan memberikan pengalaman-pengalaman hipnotik bisa membuat pasien termotivasi untuk melanjutkan terapi. Dan ketika pasien terkesan, ia akan memberi waktu kepada anda untuk menuntaskan proses terapi demi mendapatkan hasil yang memuaskan bagi dua pihak.

Anda tahu, pasien membutuhkan keberanian besar untuk datang kepada terapis dan mereka berharap mendapati hasil positif untuk keputusannya melakukan terapi itu. Maka, sesi pertama selalu menjadi momen yang penting bagi anda untuk menanamkan kesan dan memperkuat keyakinan pasien terhadap keberhasilan terapi. Ingatlah bahwa anda tidak sedang memamerkan diri atau membuktikan kepada pasien bahwa anda hebat. Anda hanya melakukan sesuatu untuk memberi keyakinan bahwa ia sudah datang kepada terapis yang tepat, yang bisa diharapkan untuk membantunya mengatasi masalah.

Sekali lagi, anda tidak perlu mengesankan diri di depan pasien bahwa anda bisa mengatasi segala masalah atau anda adalah orang bijak yang bisa membantu membereskan semua hal. Anda hanya perlu membuat pasien anda merasa tenteram dengan keputusannya untuk datang terapi kepada anda. Dan penting bagi setiap pasien untuk menyadari bahwa keputusannya untuk datang ke anda adalah keputusan yang tepat. Jika anda menunjukkan gelagat tidak mampu membantu pasien anda, mereka mungkin akan meninggalkan anda dan tidak pernah kembali lagi. Pengalaman itu mungkin akan berpengaruh buruk bagi pasien, yang membuatnya tidak akan pernah lagi mau berhubungan dengan terapis. Jadi, lakukan sesuatu yang tepat dan tunjukkan bahwa pasien bisa membuat kemajuan dengan prosedur anda.

Salam,
A.S. Laksana

NB: Tulisan ini adalah salah satu dari materi Kursus Online Ericksonian Hypnosis: Your Steps toward Ultimate Hypnotherapist. Silakan klik di sini.

Mudik Lebaran dengan Ericksonian Hypnotherapy

Bekal mudik lebaran; bekal untuk membuat "kejutan" di kampung halaman. Anda bisa menghi...



Bekal mudik lebaran; bekal untuk membuat "kejutan" di kampung halaman. Anda bisa menghipotis teman-teman dan saudara sambil bersilaturahmi kangen-kangenan. Atau membantu mereka mengatasi persoalan dengan hipnoterapi yang anda kuasai. Ini akan menjadikan acara mudik anda berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Hari: Sabtu, 4 Agustus 2012
Waktu: 10.00 s/d 17.00 WIB (dilanjutkan buka puasa bersama)
Tempat: Gedung Galeri 678, Kemang, Jakarta Selatan
Instruktur: A.S. Laksana
Biaya kepesertaan: Rp2 juta.

Terbatas! Hanya untuk 15 orang.

  • Pendaftar hari Senin (30 Juli) s/d Kamis (2 Agst 2012), biaya hanya Rp1,6 juta
Yang anda pelajari:
  • Pelbagai teknik induksi untuk membawa orang memasuki kondisi trance
  • Memahami bahasa hipnotik
  • Bagaimana menggunakan bahasa hipnotik dalam keseharian
  • Teknik menghadapi resistensi
  • Prinsip-prinsip dasar dan strategi terapi
Biaya tersebut sudah termasuk:
  1. Materi pelatihan
  2. Materi penunjang untuk pendalaman
  3. Skrip-skrip Ericksonian Hypnotherapy yg bisa anda sesuaikan dengan kebutuhan anda
  4. Kopi + snack + menu buka puasa bersama
Cara pendaftaran:

1. Transfer (Rp.... sesuai waktu pendaftaran anda) ke salah satu rekening di bawah ini:
    Bank Mandiri no 164.000.009.5804 a/n A.S. Laksana
    atau BCA no 566.006.9714 a/n Eka Sulistyawati
2. Konfirmasikan keikutsertaan anda ke inbox FB saya atau via SMS ke no 0878.83793924 sbb: “Saya [nama anda] telah transfer ke [BCA/Mandiri] sebesar…. utk mengikuti pelatihan Ericksonian Hypnotherapy.

Salam,
A.S. Laksana
HP: 0878.83793924

Mempelajari Sesuatu dalam Keadaan Trance

| A.S. Laksana | Mereka datang berdua suatu siang. Keduanya memperkenalkan diri, tetapi saya hanya ingat satu, yakni Fransiskus Indra Prat...

| A.S. Laksana |

Mereka datang berdua suatu siang. Keduanya memperkenalkan diri, tetapi saya hanya ingat satu, yakni Fransiskus Indra Pratama. Ia sudah lebih dulu memperkenalkan namanya lewat telepon, ketika mengatakan ingin dolan ke rumah. “Saya ingin membeli ebook, Pak, dan saya ingin ngobrol-ngobrol,” katanya. Saya mempersilakannya datang saja.

Maka, begitulah, ia datang bersama temannya. Mereka sama-sama sudah pernah mengikuti pelatihan hipnosis. Indra juga sudah mengikuti pelatihan NLP.

Karena mereka datang untuk membicarakan hipnosis, dan saya meladeni dengan senang tema pembicaraan yang mereka obrolkan, maka pembicaraan kami jadi menyenangkan. Setelah beberapa waktu ngobrol, Fransiskus menyampaikan masalahnya bahwa selama ini ia tidak pernah bisa menikmati hipnosis. “Saya bisa tidur,” katanya, “tetapi tetap bisa mendengar semua yang disampaikan ke saya.”

“Belum pernah mengalami deep trance?” tanya saya.

“Ya,” jawab Fransiskus.

Saya kemudian menanyakan kepada temannya apakah ia sudah pernah dihipnotis dan mengalami trance. Ia bilang sudah.

“Deep trance?”

“Deep trance.”

“Pernah melakukan self-hypnosis?”

“Pernah,” katanya.

“Bisa memasuki deep trance dengan self-hypnosis?”

“Bisa.”

"Kau bisa menunjukkan kepada Fransiskus bagaimana caramu memasuki deep trance?”

Ia segera mengatur duduknya dan memejamkan matanya. Kelopak matanya bergetar cepat. Ia sedang memasuki kondisi trance. Kemudian saya hanya meneruskannya, memandunya untuk memunculkan fenomena-fenomena hipnotik. Ketika ia sudah lelap, saya kemudian membangunkannya hanya bagian kepala.

Fransiskus, yang saya minta mengamati secara saksama proses berlangsungnya trance pada temannya, terus memperhatikan temannya, tanpa bicara.

Kepada subjek, yang sekarang bangun bagian kepala saja sementara tubuhnya tetap tidur nyaman, saya meminta agar ia menoleh ke arah Fransiskus yang sedang memandanginya tanpa bicara.

Saya meminta mereka saling memandang. Dan mereka saling memandang.

Sekali lagi saya minta subjek memperhatikan Fransiskus secara cermat. Lalu saya tanyakan apakah ia bisa membuat Fransiskus mengalami kondisi trance seperti dirinya. Ia mengatakan bisa.

“Kau yakin bisa?”

“Bisa.”

“Bagus,” kata saya. “Kau temannya, dan kau perlu membantu temanmu mengalami deep trance. Ia tidak pernah mengalaminya dan ia menginginkannya dan kau temannya. Dan kau sanggup membantunya?”

“Sanggup.”

“Bagus, dan kau yakin bisa?”

“Yakin.”

“Terima kasih, dan kau bisa membuatnya memasuki trance sebagaimana aku membuatmu memasuki trance?”

“Ya.”

“Coba kaulihat dia lagi…. Kau benar-benar yakin?”

Ia menoleh ke arah Fransiskus dan kemudian mengatakan yakin. Selama tanya jawab dengan subjek ini, Fransiskus tetap diam dan hanya memperhatikan temannya. Kemudian saya memintanya tidur lagi, dan membangunkannya dengan instruksi bahwa ketika ia bangun nanti, ia akan mengerjakan tugas yang ia sanggupi dan ia yakini, ialah membantu Fransiskus memasuki trance.

Dan ketika percobaan kami selesai, ia tiba-tiba mengajukan pertanyaan, “Mas, sebetulnya saya tidak pernah melakukan induksi trance dengan cara seperti itu. Bagaimana saya bisa melakukannya?”

“Kau mempelajari hal baru ketika kau memasuki trance,” kata saya.

Sebelum mereka pulang, Fransiskus menanyakan apakah ia boleh datang lagi dan mengajak gurunya. Itu pertanyaan yang menyenangkan dan saya mempersilakannya datang lagi. Dan kira-kira sepekan kemudian ia datang lagi dengan Mas Yanto Tjia, dan kami berkawan dekat sejak itu. Mereka datang sore hari, dan Mas Yanto menanyakan kepada Fransiskus apa yang terjadi padanya ketika pertama kali datang, dan Frannsiskus tertidur lagi ketika diminta mengingat apa yang ia alami pada pertemuan sebelumnya.

Jadi, dua kali Fransiskus tidur di teras rumah saya, di tengah suara anak-anak yang berisik bermain, tanpa saya melakukan induksi langsung kepadanya.

Salam,
A.S. Laksana
The Art of Ericksonian Hypnosis, klik http://1ericksonian.weebly.com/

Strategi Terapi: Substitusi Simptom

| A.S. Laksana | 1. Memunculkan simptom baru sebagai pengganti simptom lama.  Seorang pasien datang dengan migren di belahan kiri kepala...

| A.S. Laksana |

1. Memunculkan simptom baru sebagai pengganti simptom lama. 

Seorang pasien datang dengan migren di belahan kiri kepalanya. Ia mengatakan bahwa penyakitnya itu mula-mula datang sesekali dan belakangan terlalu sering ia mengalaminya. Dan waktunya lebih lama.

Pada saat ia memasuki kondisi trance, kepadanya dikatakan bahwa ketika ia bangun nanti, ia akan menemui kenyataan yang mengejutkan, yaitu bahwa migrennya masih tetap ada tetapi sekarang di belahan kanan. Ia tidak tahu bagaimana cara bawah sadar menyembuhkan migren di belahan kiri dan memunculkan migren di belahan kanan.

“Tetapi kau tahu bawah sadarmu bisa melakukan apa yang tidak kau ketahui. Ia bisa menyembuhkan migren di belahan kiri dan menjadikan migren di belahan kanan. Ia bisa menyembuhkan migren di belahan kanan dan memunculkan rasa gatal di dengkul kiri. Dan semuanya terjadi begitu saja tanpa disadari olehmu. Tetapi, dalam hal ini bawah sadar bekerja dengan caranya sendiri. Jika ia bisa memunculkan migren di belahan kiri, maka ia bisa menghilangkannya. Dan karena ia bisa menghilangkan migren, ia bisa juga memunculkan migren di belahan kanan.

“Dan karena ia bisa menghilangkan migren di belahan kiri dan memunculkan migren di belahan kanan, maka ia bisa juga memunculkan rasa gatal di dengkul kiri.

“Dan bawah sadar bisa menyampaikan atau tidak menyampaikan kepada pikiran sadar perihal kemampuannya ini. Itu terserah padanya bagaimana cara ia memberi pemahaman kepada pikiran sadar. Pikiran sadar tidak pernah tahu bagaimana cara bawah sadar memberi tahu. Ia bisa memunculkan sesuatu yang oleh pikiran sadar dipahami sebagai ilham, atau sekadar kejutan yang menyenangkan.”

Begitulah, seorang terapis bisa merancang munculnya simptom untuk pasiennya dan kemudian memasukkan sugesti, ketika pasien dalam kondisi trance, yang memberikan efek bahwa bawah sadarnya, yang bertindak otonom, mampu memunculkan dan menghilangkan simptom. Karena ia bisa menghilangkan simptom, maka ia juga bisa memunculkan simptom, dan sebaliknya. Dan ia bisa melakukan atas kehendaknya sendiri.

2. Pengendalian Simptom dan implikasinya

Implikasi dari itu adalah pengendalian simptom. Bukankah ia bisa membuat belahan kanan yang semula baik-baik saja menjadi sakit? Dan pada kesempatan yang sama, bukankah belahan kiri yang semula sakit menjadi sembuh? Pada kesempatan berikutnya, bukankah ia bisa membuat dengkul kiri menjadi gatal sementara migrennya hilang?

Ini penting dilakukan sehingga pasien tahu bahwa kalaupun akar masalahnya belum terselesaikan, ia bisa mengendalikan ketidaknyamanan yang muncul. Kemampuan untuk mengendalikan simptom mengimplikasikan adanya perubahan perilaku. Dan perubahan perilaku pada gilirannya akan memunculkan wawasan baru pada pasien dalam menangani sumber masalahnya.

Ini seperti bekerja dengan cara terbalik. Pada umumnya orang meyakini bahwa masalah bisa dibereskan jika akar masalahnya dibereskan. Tetapi yang sebaliknya juga berlaku. Jika pasien mampu mengendalikan simptomnya, itu akan menjadikan dirinya lebih nyaman. Dan ketika seseorang merasa dirinya lebih nyaman, apa yang semula menjadi sumber masalah akan menjadi tawar dengan sendirinya.

Untuk melatih pasien mengendalikan simptomnya, anda menunjukkan kepadanya bagaimana cara mengubah intensitas, posisi, atau bentuk simptom. Dengan menggeser simptom dari satu lokasi ke lokasi lain pada diri pasien, terapis membuktikan bahwa simptom bersifat psikologis dan karena itu bisa dilakukan perubahan. Ini juga untuk memberi kepercayaan kepada pasien bahwa ia ditangani oleh terapis yang mumpuni.

Anda tahu, jika terapis benar-benar bisa mengubah bentuk simptom atau mentransformasikan satu bentuk simptom ke bentuk lainnya, ini akan membuktikan kecakapan terapis, dan meningkatkan kepercayaan pasien sehingga terbuka kemungkinan untuk berubah. Kemampuan seperti ini, yang memberi perasaan nyaman kepada subjek, akan meningkatkan kepercayaan diri subjek bahwa ia bisa dengan mudah terbebas dari masalahnya, juga meningkatkan kepercayaannya kepada terapis, yang bisa diandalkan untuk membantunya mengatasi masalahnya.

3. Simptom dan akar masalah

Sampai sejauh ini, psikoterapi bekerja dengan asumsi terkuat bahwa setiap simptom memiliki akarnya. Setiap masalah ada penyebabnya. Hal itu memunculkan asumsi berikutnya: untuk membuat simptom benar-benar tersingkir, anda harus menyingkirkan akar masalahnya. Asumsi berikutnya lagi, jika akar masalah tidak tersingkirkan, pasien akan mengembangkan simptom baru, seperti memunculkan luka baru di tempat luka lama. Karenanya bisa lebih parah.

Karena itu, menyingkirkan akar masalah merupakan hal yang penting karena ia menjaga agar pasien tidak memunculkan simptom lainnya.

Pemunculan simptom baru ini tidak mungkin terjadi jika akar masalahnya sudah hilang. Jadi kita bisa mengatakan bahwa jika terapis hanya menangani simptomnya dan tidak menangani akar masalahnya, maka simptom pengganti, yang dimunculkan secara spontan oleh pasien, akan terbentuk untuk menggantikan simptom lama yang disingkirkan.

Tetapi dalam penanganan, kepiawaian seorang terapis sangat berperan besar. Di puncak kepiawaiannya untuk menggunakan hipnosis sebagai sarana terapi, Milton Erickson mengatakan bahwa seringkali tidak perlu kita berurusan dengan akar masalah. Katanya, “Jika pasien bisa mengendalikan simptomnya, mampu membuat perubahan signifikan dalam perilakunya, maka akar masalah itu akan tersingkirkan dengan sendirinya karena ia tidak punya alasan lagi untuk bertahan.”

4. Perlunya merasakan perubahan

Manfaat terapi tidak selalu kelihatan jelas bagi pasien pada saat ia dalam penanganan. Maka penting bagi kita untuk memberi alasan kepada pasien agar tetap melanjutkan terapi sampai masalahnya teratasi. Mungkin masalah yang diidap pasien itu begitu berat dan akarnya begitu dalam. Terapi yang berjalan bertahap akan dianggap oleh pasien sebagai tidak adanya kemajuan. Dan itu bisa membuat pasien merosot motivasinya.

Jika anda berhadapan dengan kasus semacam ini, yaitu akar masalahnya begitu dalam dan membutuhkan beberapa sesi terapi, anda perlu membuat pasien merasakan adanya kemajuan, sekecil apa pun, untuk memotivasi mereka agar tetap melanjutkan terapi.

Mengubah simptom, menggesernya dari satu tempat ke tempat lain, mengurangi intensitas simptom itu, adalah salah satu cara untuk menunjukkan bahwa hipnosis bisa diandalkan untuk menyelesaikan masalah yang diidap pasien. Jika akar masalah memerlukan penanganan yang serius dan sabar, anda sebagai terapis harus memiliki cara untuk membuat pasien bertahan menjalani terapi. Dan ini hanya akan terjadi jika pasien merasakan adanya perubahan terhadap simptomnya.

5. Simptom dan pemicunya

Perilaku manusia dibentuk oleh kebiasaan-kebiasaan. Karena itulah memahami pola-pola perilaku menjadi hal yang sangat penting bagi seorang hipnotis. Dengan mengenali pola-pola perilaku, kita memahami pandangan dunia pasien yang kita tangani. Dan perilaku simptomatik biasanya muncul ketika pemicunya ada.

Pemicu itu bisa sesuatu yang internal sifatnya, berupa ingatan yang terprogram di dalam pikiran bawah sadar orang. Pemicu juga bisa muncul dari luar, tetapi tetap saja ia berurusan dengan apa yang tertanam pada bawah sadar orang. Misalnya, situasi tertentu, seseorang, atau hal-hal tertentu bisa memicu munculnya perilaku simptomatik.

Pentingnya menyingkirkan akar masalah adalah untuk membuat pemicu, yang biasanya memunculkan perilaku simptomatik, menjadi tidak bekerja. Misalnya, jika akar masalah tersingkirkan, maka ingatan atau situasi tertentu, atau perjumpaan dengan seseorang sudah tidak lagi memunculkan kegelisahan. Pemicu tidak lagi bekerja ketika akar masalah teratasi. Respons pasien akan berbeda ketika akar masalah tak ada lagi.

Hipnosis bisa dengan mudah mengubah ingatan dan pengalaman subjektif orang, termasuk pandangan dunia seseorang. Ketika akar masalah sudah tidak ada lagi, hipnosis bisa sangat efektif untuk mengatasi masalah. Ketika sumber masalah masih aktif, misalnya jika perilaku simptomatik itu dipicu oleh kehadiran atau ingatan akan sosok orang tertentu, penanganan anda kurang efektif jika ditujukan ke orang yang menjadi pemicu itu. Yang perlu anda lakukan adalah bagaimana pasien bisa mengubah persepsinya tentang orang itu.

6. Munculnya Simptom Pengganti

Simptom baru atau simptom pengganti bisa dimunculkan secara spontan oleh pasien ketika penanganan terhadap simptom lama tidak sekaligus menyingkirkan akar masalah. Jadi, jika akar masalah masih aktif, anda perlu menanganinya sejalan dengan penanganan terhadap simptom. Jika tidak tersingkirkan, pasien bisa memunculkan simptom baru sebagai pengganti simptom lamanya. Misalnya, orang yang datang terapi untuk berhenti merokok. Jika akar masalahnya tidak tersingkirkan, ia bisa menghentikan kecanduannya terhadap rokok tetapi menggantinya dengan memunculkan kebiasaan baru yang tidak kurang buruknya. Ia memerlukan pengganti bagi kebutuhan psikologis yang biasanya dipenuhi dengan perilaku merokok.

Karena itulah, sebelum kita mencapai tingkat kepiawaian seperti Erickson, tetap penting untuk mengetahui akar masalah setepat-tepatnya. Anda tidak perlu menduga-duga untuk menemukan akar masalah pasien anda. Kita hanya perlu mencari tahu sejelas-jelasnya apa akar masalah pasien—bagaimana polanya, apakah ada perkecualian dalam perilaku simptomatik itu, dan apa sumberdaya yang bisa dimanfaatkan untuk menyingkirkan akar masalah tersebut.

Yang saya maksud dengan perkecualian pada perilaku simptomatik itu misalnya seperti ini. Setiap kali seseorang berhadapan dengan pemicu, ia akan mengembangkan perilaku tersengal-sengal, tiba-tiba pandangannya gelap, dan ia pingsan. Tetapi itu tidak terjadi saat ia berbelanja di pasar, atau ketika sendirian. Dan hanya terjadi ketika ia berkumpul di tengah para kerabat. Perkecualian-perkecualian ini, jika ada, bisa anda manfaatkan sebagai sumberdaya untuk mengendalikan perilaku simptomatik. Atau untuk mencari tahu tujuan positif yang didapatkan oleh pasien dengan simptom tersebut.

7. Manfaat positif Simptom

Simptom tertentu seringkali melayani kebutuhan psikologis pengidapnya. Seorang pasien secara sadar ingin sembuh, tetapi secara tidak sadar ia cemas bahwa jika ia sembuh suaminya pasti tidak terlampau peduli lagi kepadanya, atau ia tidak punya hal lain yang akan membuat suaminya memperhatikannya. Dalam kasus ini, simptom dikembangkan karena ia memiliki manfaat positif.

Jika anda menghadapi kasus seperti ini, teknik-teknik menggeser simptom dan mengubah simptom akan efektif dilakukan sebelum anda benar-benar menyingkirkan simptom pasien. Tetapi bagaimanapun, anda tetap perlu memberikan alternatif kepada pasien untuk membuat kebutuhan psikologisnya terlayani meskipun simptomnya sudah dihilangkan.

Ia perlu diberi alternatif untuk mengembangkan perilaku baru yang lebih sehat dan lebih produktif, yang juga bisa melayani kebutuhan psikologisnya.

Jadi, jika akar masalahnya masih ada dan masih aktif, anda bisa melakukan penanganan secara bertahap sebagai berikut. Pertama, anda membuat pasien menemukan alternatif untuk melayani kebutuhan psikologisnya. Kedua, anda ciptakan perubahan kecil terhadap simptom untuk memberi bukti keberhasilan penanganan anda; itu akan membuatnya bertahan menjalani terapi. Ketiga, singkirkan akar masalah.

Jika akar masalahnya sudah tidak ada dan pasien anda hanya merespons situasi karena kebiasaan, maka anda hanya perlu dua tahap untuk menyingkirkan simptomnya. Pertama, temukan alternatif untuk melayani kebutuhan psikologis. Kedua, ubah atau singkirkan simptom.

8. Langkah-langkah Melakukan Pengubahan Simptom

Di bawah ini adalah langkah-langkah sebagai panduan anda dalam mempraktekkan pengubahan simptom:

  1. Bimbing subjek memasuki trance dan latih subjek untuk memunculkan respons ideo-motor. Ini latihan penting karena anda akan menggunakannya untuk urusan memindah-mindahkan atau menggeser atau mengubah simptom.
  2. Mintalah kepada bawah sadar untuk memindahkan, atau mengurangi, atau mengubah simptom itu ke bentuk-bentuk lain sesuai yang anda sugestikan kepada bawah sadar pasien. (Simptom baru yang dimunculkan harus lebih ringan ketimbang simptom lama.
  3. Mintalah kepada bawah sadar untuk memberi tahu pasien apakah akar masalahnya masih ada dan apa akar masalah itu jika ia masih ada.
  4. Tanyakan kepada bawah sadar apakah ia bersedia membuat pasien tahu tujuan positif dari simptom yang dimunculkannya. Menanyakan manfaat positif dari simptom merupakan hal penting sebab anda menjadi tahu bahwa simptom tersebut muncul karena melayani kebutuhan psikologis tertentu pada pasien. Jika anda menyingkirkan simptom begitu saja, dan mengabaikan kebutuhan psikologis terhadap simptom tersebut, maka pasien akan mencari sendiri pengganti dari kebutuhan psikologis tersebut, atau mengembalikan lagi perilaku simptomatiknya. Ini yang sering terjadi dengan kasus pasien kambuh.
  5. Secara bertahap, singkirkan akar masalah, ubah dan singkirkan simptom, dan layani tujuan positif simptom tersebut dengan hal-hal yang lebih sehat dan produktif. Mula-mula sekali kita harus mengembangkan respons ideo-motor dan kemudian meminta bawah sadar untuk memindahkan atau mengubah simptom, dengan caranya sendiri. Dalam hal ini anda melakukan negosiasi dengan bawah sadar pasien.

Salam,
A.S. Laksana