| A.S. Laksana | Jika anda mempelajari pola sugesti Milton Erickson, anda akan paham bagaimana Erickson selalu memiliki alasan yang masuk ak...

Memusatkan Perhatian Subjek dengan Asosiasi

8:09 PM A.S. Laksana 0 Comments

| A.S. Laksana |

Jika anda mempelajari pola sugesti Milton Erickson, anda akan paham bagaimana Erickson selalu memiliki alasan yang masuk akal dengan setiap sugesti yang ia sampaikan. Dalam metode hipnosisnya tidak akan pernah anda jumpai anjuran, baik tersirat maupun harfiah, bahwa anda harus menghafalkan skrip-skrip hipnotik baku.

Milton Erickson menghipnotis orang dan selalu berhasil karena ia sangat memahami perilaku manusia. Karena pemahamannya itulah ia bisa menyampaikan sugesti, dengan cara yang licin, sehingga orang mengikuti setiap sugestinya tanpa merasa sedang didikte. Inilah salah satu kunci efektivitas pola sugesti Milton Erickson: ia selalu mendasarkan setiap sugestinya pada kelaziman perilaku manusia yang mudah kita jumpai dalam pengalaman sehari-hari.

Dalam induksi trance, misalnya, ia tidak akan mengatakan: "Sekarang, pusatkan perhatian anda pada pengalaman batin anda... (atau pada jari telunjuk atau pada bola kristal dan sebagainya)." Ia sangat licin dalam menyampaikan sugesti dan karena itu hipnosisnya menjadi pengalaman natural bagi setiap subjek yang ia tangani. (Baca: 4 Hal yang Bisa Kita Lakukan untuk Membuat Subjek Trance)

Salah satu cara Erickson memusatkan perhatian subjeknya adalah dengan asosiasi. "Jika kita berniat mendorong orang lain membicarakan ibunya," kata Erickson, "cara paling mudah adalah kita membicarakan ibu kita sendiri atau ibu secara umum."

Itu hal yang selalu terjadi dalam keseharian kita. Jika kita ngobrol dengan teman, dan kita membicarakan pengalaman masa kecil, maka biasanya teman kita akan terdorong untuk membicarakan juga masa kecilnya dan tiba-tiba ia bisa mengingat apa saja kejadian di masa kecil.

Dengan cara seperti itulah, perhatian subjek difokuskan dan ia pun akan spontan terbawa untuk menceritakan ibunya (jika hipnotis membicarakan ibu). Tak akan terjadi penolakan sadar olehnya, sebab hipnotis tidak menyodorkan permintaan tertentu kepadanya.

Erickson biasa menyisipkan keterangan atau menyampaikan cerita-cerita dan anekdot dalam percakapan santai dan menyenangkan. Kadang cerita-cerita itu tampak tidak saling berkaitan, tetapi sesungguhnya memiliki kesamaan tema atau kesamaan asosiasi yang relevan dengan masalah pasiennya. (Baca: Sugesti Interspersal: Apakah Sugesti Hipnotis Selalu Membutuhkan Trance?)

Bagaimana jika pasien tidak terpancing atau pancingan itu ternyata keliru? Tidak ada masalah. Paling-paling pasien akan diam saja karena tidak ada hal yang perlu ia bicarakan. Jika pancingan mengena, pasien akan melakukan proses pencarian bawah sadar dan itu akan membuatnya memahami salah satu aspek persoalan dirinya dan menggunakannya untuk menemukan solusi, dalam cara dia sendiri.

Jadi, anda masih tetap berpikir bahwa sugesti hipnotis memiliki kekuatan ampuh seperti mantra seorang dukun?

Bacaan terkait: Sugesti Terselubung

0 comments: