7:09 AM
| A.S. Laksana | Perumpamaan yang paling memadai untuk pikiran anda adalah komputer. Dan kurang lebih memang demikian: Pikiran anda seperti ...
| A.S. Laksana |
Perumpamaan yang paling memadai untuk pikiran anda adalah komputer. Dan kurang lebih memang demikian: Pikiran anda seperti komputer. Ia bekerja karena ada program-program yang anda instalkan ke dalamnya. Ada sekian banyak program dan masing-masing bekerja independen dengan perintah-perintah tersendiri.
Dan, sebagaimana semua program komputer, pikiran anda mengandung banyak perintah yang memiliki fungsi spesifik untuk menjalankan perilaku tertentu. Ketika sebuah perintah dijalankan, ia akan menjalankan fungsi tersendiri yang terpisah dan otonom dari program-program lain. Dengan kata lain, pikiran anda menjalankan disosiasi.
Kemampuan untuk melakukan disosiasi (pemisahan) itulah yang memungkinkan anda mengerjakan beberapa hal sekaligus. Anda bisa mengepel lantai dan sekaligus mendengarkan radio. Anda bisa menyeterika dan pada saat yang sama menikmati tayangan televisi. Anda bisa menyopir mobil sambil merencanakan apa yang akan anda lakukan besok pagi. Karena program-program itu bekerja terpisah dan otonom satu sama lain, anda tidak harus berpikir keras tentang apa yang harus anda lakukan saat mengepel lantai. Anda bisa melakukannya secara otomatis sembari menjalankan program lain.
Komputer bisa tersendat atau hang ketika anda menjalankan program terlalu banyak pada satu kesempatan. Begitupun pikiran bisa menjadi hang ketika orang menjalankan program terlalu banyak pada satu kesempatan. Kita punya istilah “terlalu banyak pikiran” untuk orang-orang yang kehilangan fokus atau tampak linglung.
Karena itu, agar otak selalu bekerja sempurna, anda perlu menjalankan program yang tepat untuk menghadapi situasi apa pun dalam kehidupan anda. Persoalannya, apa yang disebut program yang tepat?
Setiap orang menginstalkan program-program ke dalam pikirannya sepanjang perjalanan hidup. Ketika anda menghadapi situasi keseharian, anda memberlakukan perintah tertentu dalam pikiran anda yang memungkinkan anda menghadapi situasi keseharian anda dengan tindakan yang memadai. Banyak program telah terinstal ke dalam pikiran anda dan dengan itu semua anda menjalani kehidupan anda.
Program-program ini masih akan terus bertambah, sebab setiap kali menghadapi situasi baru, pikiran anda akan menciptakan prosedur baru pada saat itu juga untuk memudahkan anda berhadapan dengan situasi tersebut. Prosedur baru ini mungkin anda ciptakan dengan mengkopi elemen-elemen dari prosedur lama, atau itu sama sekali baru. Program baru ini bisa tepat bisa melenceng.
Ambil contoh bagaimana seorang anak mengembangkan keengganan terhadap pelajaran matematika. Di kelas satu sampai empat SD, ia mungkin baik-baik saja. Program-programnya berjalan beres. Mulai kelas lima dan seterusnya ia menjalankan program untuk membenci matematika. Usut punya usut, rupanya ada sebuah kejadian tidak menyenangkan yang ia alami dengan guru matematikanya di kelas lima. Sejak itu ia mengembangkan perasaan tidak suka kepada guru tersebut, dan ia merasa tidak nyaman oleh kehadiran si guru. Akibatnya, nilai matematikanya memburuk dan selanjutnya ia mengembangkan kebencian terhadap pelajaran matematika, tidak peduli siapa pun guru yang mengajarkannya.
Begitulah, sebuah program baru terinstal karena situasi tertentu, dan program tersebut pelan-pelan menyingkirkan program lama. Si anak, yang sebelumnya tidak memiliki masalah dengan pelajaran matematika, setelah menginstal program baru tersebut menjadi anak yang membenci matematika. Dan dengan itu, ia semakin mengembangkan kesulitan untuk berurusan dengan matematika.
Dengan analogi itu, kita bisa mengatakan bahwa hipnosis adalah sebuah upaya untuk membereskan program-program bervirus dalam pikiran seseorang. Mungkin bahkan menyingkirkan program yang merusak sehingga program-program lain yang lebih produktif bisa dijalankan secara optimum.
7:00 AM
| A.S. Laksana | Karena perkembangan kondisi trance sangat tergantung pada proses-proses internal subjek, sudah semestinya hipnotis atau hip...
| A.S. Laksana |
Karena perkembangan kondisi trance sangat tergantung pada proses-proses internal subjek, sudah semestinya hipnotis atau hipnoterapis selalu berupaya menciptakan situasi yang menyenangkan. Erickson mengumpamakan sesi hipnotik dengan proses yang terjadi pada mesin penetas telur. Katanya, “Mesin penetas hanya berfungsi menghadirkan suasana menyenangkan bagi penetasan telur, sementara setiap telur menetas karena perkembangan proses kehidupan di dalam telur itu sendiri.”
Ada sebuah contoh kasus menarik di mana Erickson menghadapi subjek eksperimental yang berkecenderungan melawan. Ketika diminta duduk rileks, ia justru menegakkan tubuhnya dalam posisi menantang. Memanfaatkan perilaku tersebut, Erickson mengatakan bahwa hipnosis sesungguhnya tidak harus selalu bergantung kepada relaksasi, tetapi hipnosis bisa diinduksikan pada subjek yang punya kesediaan asalkan sang hipnotis sendiri juga punya kesediaan untuk menerima sepenuhnya perilaku subjek.
Subjeknya merespons kalimat itu dengan bangkit dan menanyakan apakah ia bisa dihipnotis dengan cara berdiri. Erickson menanggapi pertanyaan tersebut dengan sugesti, “Kenapa tidak menunjukkan bahwa hal itu bisa?” Jawaban ini mengandung penerimaan total terhadap perilaku subjek, dan sekaligus meminta komitmen subjek untuk membuktikannya, yakni mengalami hipnosis dalam cara yang ia inginkan. Subjek kemudian memasuki trance dalam waktu cepat.
Maka, penting bagi anda untuk menerima perilaku apa pun yang dipertunjukkan oleh subjek dan memanfaatkannya untuk mengembangkan lebih lanjut perilaku responsif mereka. Jika anda memaksa subjek untuk melakukan hal-hal yang mereka tidak tertarik melakukannya, itu bisa penghambat induksi trance dan tentunya menghambat deep trance. Ketika perilaku mereka dipahami dan diterima, subjek akan merasa sepenuhnya dihargai sebagai pribadi yang menjalankan fungsinya dalam sebuah kerjasama.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Dalam pendekatan utilisasi, apa yang disebut pencapaian aktual adalah segala perilaku yang ditampilkan oleh subjek. Ketika ...
| A.S. Laksana |
Dalam pendekatan utilisasi, apa yang disebut pencapaian aktual adalah segala perilaku yang ditampilkan oleh subjek. Ketika subjek mengikuti sugesti hipnotis, itu adalah pencapaian. Ketika subjek tidak mengikuti sugesti hipnotis, itu juga pencapaian. Dan pencapaian pertama subjek tentunya adalah kesediaannya menjadi subjek, mengabaikan segala gangguan eksternal, dan mendengarkan sugesti-sugesti sang hipnotis.
Dengan kata lain, apa pun perilaku yang dimunculkan oleh subjek, itu semua merupakan sumber potensial untuk mencapai keberhasilan. Katakanlah subjek anda tidak mengangkat tangannya ketika anda mensugesti hand-levitation. Dari pencapaian subjek tersebut, yakni tidak mengikuti sugesti untuk mengambangkan tangannya, anda bisa mempertimbangkan kemungkinan lain. Ini lebih baik ketimbang anda mati-matian memaksa subjek mengikuti prosedur anda, meskipun prosedur tersebut efektif anda gunakan pada orang lain.
Anda tahu, hand-levitation adalah aktivitas ideomotor. Mungkin subjek lebih nyaman dengan sugesti-sugesti ideosensori, yakni aktivitas yang berkenaan dengan halunasi inderawi. Maka, anda bisa mengaitkan sugesti hand-levitation itu dengan halusinasi visual. Misalnya, anda mensugesti tangan si subjek terangkat untuk meraih sesuatu yang ada di depannya.
Atau lebih simpel lagi, ketika subjek tidak merespons sugesti anda dengan mengambangkan tangannya, anda hanya perlu menerima hal itu sebagai kebutuhan subjek untuk membuat anda gagal dengan sugesti anda. Dan setiap jenis penerimaan, anda tahu, akan dengan cepat menghasilkan banyak fenomena hipnotik lainnya.
Sekiranya anda berupaya keras dengan teknik yang kaku untuk menundukkan subjek, dan terus berusaha membuatnya mengambangkan tangan, kemungkinan besar anda akan gagal. Satu hal perlu digarisbawahi, yakni bahwa perkembangan ke arah trance bukanlah untuk membuktikan kecakapan hipnotis, melainkan untuk mewujudkan pengalaman bernilai dan pemahaman pada diri subjek.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Hal paling menarik dari pendekatan Erickson adalah bagaimana cara ia memperoleh kesediaan bekerjasama bahkan dari subjek ya...
| A.S. Laksana |
Hal paling menarik dari pendekatan Erickson adalah bagaimana cara ia memperoleh kesediaan bekerjasama bahkan dari subjek yang sangat resisten sekalipun. Dalam berbagai kasus yang ia tangani, Erickson selalu memperlihatkan kesediaannya untuk memenuhi kebutuhan subjek. Bisa dikatakan, semuanya ia orientasikan pada kebutuhan subjek. Dan itulah prinsip utama pendekatan utilisasi. Hipnotis tidak memaksa subjek harus mengikutinya dan harus mengerjakan apa-apa yang sudah ia rencanakan.
Dalam salah satu kasusnya, ia pernah menghadapi pasien yang tampak gelisah dan selalu berjalan mondar-mandir ketimbang duduk tenang. "Apakah anda ingin trance dengan cara mondar-mandir?" tanya Erickson.
"Bukan cuma ingin," jawab pasien, "saya memang tidak nyaman duduk saja. Kalau saya boleh melakukan itu, saya akan senang sekali melakukannya."
Erickson menginduksi orang itu dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk mondar-mandir gelisah di ruangannya. Ia hanya minta kepada orang itu untuk melibatkan diri dalam hal mengarahkan ke mana orang itu harus berjalan, berbelok, atau berbalik. Dan, dengan cara memenuhi kebutuhan pasien untuk menampakkan kegelisahan, ia membuat pasiennya trance dengan cara mondar-mandir.
Berkaitan dengan kebutuuhan pasien ini, saya pernah menghipnotis seseorang yang tidak kunjung trance setelah proses induksi berjalan kurang lebih 45 menit. Ia hanya sempat “hampir trance” tetapi selalu gagal untuk betul-betul trance. Setelah sekian lama, ia rupanya menjadi “jengkel” pada saya dan mengatakan, “Sering kali suara anda mengganggu saya.”
Rupanya ia memerlukan waktu lebih lama untuk menikmati pengembaraan visual sesuai sugesti yang saya berikan kepadanya, tetapi saya tidak memberikan waktu yang cukup kepadanya untuk menikmati itu. Dengan kata lain, ia membutuhkan jeda lebih panjang antara satu sugesti dan sugesti berikutnya. Ketika kebutuhan itu saya penuhi, ia kemudian bisa memasuki trance dengan lebih mudah.***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Amnesia adalah alat yang penting bagi seorang hipnotis. Dalam hipnosis anda bisa menyingkirkan ingatan sebagaimana anda bis...
| A.S. Laksana |
Amnesia adalah alat yang penting bagi seorang hipnotis. Dalam hipnosis anda bisa menyingkirkan ingatan sebagaimana anda bisa membangkitkan kenangan. Amnesia ini juga fenomena yang sering kita alami dalam keseharian. Anda mungkin pernah diperkenalkan pada seseorang di sebuah pertemuan, saling menyebutkan nama, dan sesaat kemudian anda lupa siapa nama orang itu.
Kadang anda ingin menghipnotis pasien dan membantu mereka melupakan kenangan tertentu. Anda mungkin menginginkan pasien anda melupakan sakitnya. Anda melatih pasien kanker, misalnya, untuk mengendalikan rasa sakit yang menyiksa mereka. Anda mungkin ingin melatih bagaimana mengalami rasa sakit itu dan kemudian bagaimana melupakannya sehingga mereka bisa menjalani hari-hari tanpa cemas akan rasa sakit yang bakal muncul. Anda ingin membuat mereka melupakan rasa sakit itu sehingga setiap kali siksaan itu muncul mereka bisa lupa bahwa mereka memiliki rasa sakit itu.
Pemanfaatan Amnesia
Agar sugesti hipnotik lebih efektif, Erickson memanfaatkan amnesia untuk mencegah terjadinya hubungan antara trance dan keadaan sadar. Ia membuat pasiennya lupa pada apa saja yang terjadi selama trance, sehingga pikiran sadar si pasien tidak bisa mengingat apa pun yang ia sampaikan. Ini dilakukan demi mengamankan sugesti tersebut dari keraguan, kerisauan, dan kemungkinan pengaruh negatif pikiran sadar.
Pasien menjadi pasien karena pola keliru dan kaku yang mengarahkannya ke perilaku yang merusak diri. Namun demikian ia tetap saja tidak suka menjalankan sesuatu atas perintah orang lain. Pada dasarnya, anda tahu, tidak ada orang yang suka didikte. Dengan memberikan sugesti tak-langsung, yang tidak dikenali secara sadar, anda sudah menyingkirkan efek pendiktean pada sugesti yang anda berikan. Diperkuat dengan amnesia hipnotik, setiap sugesti yang dijalankan oleh pasien akan berubah menjadi inspirasi yang muncul dari pengalaman batin orang itu sendiri.
Amnesia terhadap apa saja yang terjadi ketika trance bukanlah kondisi di mana pasien kehilangan ingatan terhadap apa saja yang telah ia terima. Itu hanya kondisi ketika pikiran sadar tidak mampu mengakses ingatan tersebut. Namun, seluruh ingatan itu masih tersimpan rapi di gudang bawah sadar. Ia akan muncul ketika pasien menghadapi situasi yang menghendaki kemunculannya***
7:00 AM
| A.S. Laksana | Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang pasien kanker yang, entah bagaimana caranya, bisa sembuh, sementara diagnosa m...
| A.S. Laksana |
Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang pasien kanker yang, entah bagaimana caranya, bisa sembuh, sementara diagnosa medis menyebutkan bahwa pasien tersebut sudah tidak ada harapan. Bagaimana ia bisa melakukan hal itu, tanpa bantuan orang lain atau instruksi apa pun sama sekali?
Kita memiliki kosakata mukjizat untuk menyebut fenomena tersebut. Ia sesuatu yang hanya bisa disebut keajaiban dan, dengan demikian, tampak tidak masuk akal. Tetapi dunia kedokteran berkali-kali menemukan bahwa pasien bisa memanfaatkan kekuatan psikologis mereka untuk menyingkirkan, mengatasi, atau mengendalikan fenomena fisiologis.
Bukti terbalik tentang dorongan psikologis yang mempengaruhi perilaku fisiologis bisa kita lihat pada banyak kasus. Seorang ibu rumah tangga yang cemas mengenai berbagai hal, misalnya, bisa mengembangkan sakit kepala yang payah. Benar-benar sakit kepala yang tak tertahankan, begitu nyata, meskipun penyebabnya mungkin sesuatu yang tidak nyata dan hanya ada dalam benaknya. Anak-anak yang memprotes dominasi kaku ayahnya, dalam salah satu kasus Erickson, membengkakkan bibirnya ketika ia tertekan harus memainkan flute sebagaimana yang diinginkan oleh ayahnya.
Dorongan psikologis itulah yang memunculkan perilaku simptomatik pasien. Ia ada karena berguna. Secara sadar pasien mungkin tidak memahami kegunaannya, tetapi bawah sadarnya mengetahui. Dan fungsi hipnotis adalah menjangkau apa saja yang diketahui oleh bawah sadar dan tidak diketahui oleh pikiran sadar. Pendekatan utilisasi Erickson pada dasarnya adalah memberi kenyamanan bagi bawah sadar pasien untuk mengekspresikan diri.
Hanya ketika nyaman, orang bisa dengan enak menerima sugesti dan membuat perubahan.
3:27 PM
| Oleh: A.S. Laksana | Bagaimana mengambil manfaat dari pengalaman diri sendiri, belajarlah kita pada Milton Erickson. Ia mengidap berbagai ...
| Oleh: A.S. Laksana |
Bagaimana mengambil manfaat dari pengalaman diri sendiri, belajarlah kita pada Milton Erickson. Ia mengidap berbagai masalah sejak kecil. Ia buta warna dan buta nada, dan sedikit disleksia. Dan, masih ada lagi, jantungnya berdetak tidak beraturan (arrhytmia). Ia mengalami semua itu sebelum kondisi-kondisi tersebut dikenal oleh orang-orang di daerah pertanian di desa tempat tinggalnya.
Seluruh warna tampak olehnya sebagai warna ungu, dan semua lagu sama belaka dalam tangkapan telinganya. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ia tidak bisa memahami kenapa orang yang berteriak dan memekik-mekik disebut “menyanyi”. Kesulitan lainnya ia alami dengan disleksia yang diidapnya. Pada umur 6 tahun ia tidak bisa membedakan angka “3” dan huruf “m”. Keterbatasan-keterbatasan itulah yang nantinya mendukung perkembangan minat, sikap, dan pendekatannya terhadap otohipnosis, trance, dan psikoterapi.
Disleksia yang membingungkan sering memberinya momen terpisah dari realitas. Erickson merumuskan momen itu dengan kehadiran cahaya yang menyilaukan atau halusinasi visual dalam situasi otohipnotik. Cahaya itu muncul pertama kali pada momen ketika ia akhirnya bisa membedakan angka 3 dan huruf m. Belakangan ia memaknai kemunculan cahaya dan pengetahuan yang didapatnya pada momen itu sebagai hubungan antara kondisi hipnotik (altered state) dan “cara kita mempelajari sesuatu”. Karena itulah Erickson selalu mengatakan bahwa hipnosis adalah momen pembelajaran.
Mengenai pendekatan terapetiknya ini, Erickson menuturkan bahwa itu bersumber dari pengalamannya dengan disleksia yang membuatnya kesulitan. Sampai duduk di bangku SMA, ia tetap mengalami kesulian dalam melafalkan sejumlah kata. Ia selalu beranggapan bahwa ketika ia mengucapkan “co-mick-alis, vin-gar, goverment, dan mung” itu semua sama persis dengan cara orang-orang lain melafalkan “comical, vinegar, government, dan spoon.” Guru SMA-nya, yang saat itu menjadi pelatih debat antarsiswa, berusaha keras selama berjam-jam untuk melatihnya melafalkan “government”. Dan itu sia-sia belaka.
Dengan ilham yang muncul tiba-tiba, sang guru memintanya mengucapkan nama teman sekelas “La Verne” dan Erickson bisa menyebutkannya dengan baik. Lalu sang guru menuliskan di papan tulis “govLaVernement” dan Erickson membacanya, “govlavernement.” Selanjutnya, guru memintanya membaca dengan menghilangkan “la” dari “La Verne”. Dan terjadilah keajaiban itu: Erickson berhasil melafalkan “government” sebagaimana orang-orang lain melakukannya. “Saat aku melakukannya, cahaya menyilaukan itu datang menyapu semuanya termasuk apa yang tertulis di papan tulis,” katanya. “Aku berterima kasih kepada Nona Walsh untuk teknik itu. Ia memperkenalkan hal yang tak terduga dan tidak relevan demi menghancurkan pola yang kaku dan sekukuh karang.”
Maka, dengan ingatan atas kejadian itu, ketika seorang pasien kepadanya bertahun-tahun kemudian dengan tubuh gemetar dan menangis sesenggukan, Erickson tahu apa yang harus ia lakukan. Orang itu terbata-bata mengatakan, “Saya dipecat. Bosku selalu menindasku. Mereka terus-terusan merendahkanku dan aku selalu hanya bisa menangis. Hari ini bosku berteriak kepadaku mengatakan, ‘Tolol! Tolol! Tolol! Keluar! Keluar!’ Karena itulah aku kemari.”
Dengan sungguh-sungguh dan serius, Erickson mengatakan kepada perempuan itu, “Kenapa kau tidak mengatakan kepadanya bahwa, sekiranya ia mengizinkan, kau akan dengan senang hati melakukan pekerjaanmu dengan cara yang lebih tolol lagi?” Muka perempuan itu tampak kosong, bingung, tercenung, dan kemudian tawanya meledak. Setelah itu percakapan mereka dipenuhi tawa terbahak-bahak. “Dan biasanya itu terjadi dengan sendirinya,” kata Erickson. (Baca: The Art of Misunderstanding)
Semudah itukah terapi dijalankan?
Ya, sebab Erickson memiliki pemahaman yang mendalam terhadap perilaku manusia dan sepanjang hidupnya ia telah melakukan pengamatan yang cermat terhadap aspek-aspek perilaku tersebut. Perempuan itu bisa tertawa terbahak-bahak karena Erickson berhasil membantunya keluar dari situasi yang menghimpit dan menghancurkan pandangan sempit perempuan itu yang melihat dirinya sendiri sebagai korban. Saran yang ia ajukan telah membalikkan situasi psikologis kliennya dari seorang korban menjadi pemegang kendali.***
Bacaan terkait: Hipnosis yang Nyaman bagi Klien